Kamis, 28 September 2017

Menjaganya Selama 38 Minggu (part 1)

#flashback....

Setelah dinyatakan positif hamil, dsog-ku (dokter kandungan, red.) memberikan beberapa obat/vitamin, yaitu ascardia (obat pengencer darah), forbetes (obat penurun gula darah), utrogestan (untuk menguatkan rahim) dan asam folat. Dua minggu sesudahnya kembali ke dsog dan terdengarlah detak jantungnya... It feels so amazing... It sounds amazing too.

Menjalani kehamilan yang pertama ini, alhamdulillah aku ga mengalami morning sickness. Ga ada mual, muntah, heartburn, ngidam dll. Mau makan apa aja sok mangga hajar ajahh. Tapi tetap harus dikontrol sih, yang pertama, agar kenaikan berat badanku ga melonjak jauh. As u know, BBku kan udah banyak, menurut salah satu situs yang aku baca, seharusnya kenaikan BBku selama hamil maksimal 7kg. Waaowwwww..... gimana nih cara mengontrol BB agar hanya naik segitu, sementara banyak bumil2 yang naiknya bisa mencapai 20 bahkan 30kg. Akhirnya dengan segala daya upaya yang aku bisa, BBku naik 11kg sajah.

Yang kedua, mengontrol gula darah. Awalnya aku crita ke dsog knapa aku sering pipis, itu di awal kehamilan. Lalu dsog ngasih pengantar untuk cek darah di lab. Dan hasilnya gula darah naik. Dsog ngerujuk aku ke dokter spesialis penyakit dalam (internis), masih di RSU Bunda Menteng. Oleh internis dikasih pengantar ke dokter spesialis gizi. Pertama ke dokter gizi (kali ini di RS Pondok Indah), dikasih tabel dan seberapa banyak makanan yang boleh dikonsumsi dalam satu hari. Dan jujur, hal itu bikin agak stres. Harus nimbang makanan, harus ini itu, whoaaaaa.... Akhirnya daku hanya 2x ke dokter gizi, yang penting taulah makanan apa yang harus dikurangi atau yg harus banyak dikonsumsi. Memasuki trimester 3 aku cek darah lagi, dan gula darah masih diatas normal. Jadi internis menambahkan insulin yang harus disuntikkan setiap mau makan besar. Awalnya aku mbayangin suntikan yg panjang seperti kalo mau diambil darahnya. Ternyata suntikannya bentuknya panjang seperti bolpen, sudah berisi insulin. Lalu stiap mau menyuntik, kita memasang jarum yg kecil, disuntikkan di perut di sekitar pusar. Kalo lagi di rumah atau di kantor sih gpp ya. Tapi kalo lagi jajan di luar ituuu yg agak susah. Paling2 sebelum turun dr mobil nyuntik dulu hahahaha...

Hal lain yang membuat agak stres sebenarnya adalah, waktu hamil itu mendekati tenggat waktu untuk menyelesaikan kuliah S-2. Entah bener atau hanya pembelaan diri, katanya otak wanita itu menurun kemampuannya saat hamil hahaha. Begitulah yang terjadi, aku harus bolak balik ke Bandung untuk konsultasi dengan dosen pembimbing. Sangat bersyukur alhamdulillah bahwa dosenku sangat baik dan selalu memberikan arahan. Dan juga ada teman kantor yg sekolah bareng, jadi urusan ke Bandung selalu bareng dia.

Mendekati HPL (29 September 2015), aku mulai kontrol seminggu sekali. Di minggu ke-38, hari Jumat tgl 11 September, aku sudah cuti, sedang bersiap untuk kontrol. Aku WA ke suami, nanya apa koper perlengkapanku dan baby sebaiknya dibawa saja? Suami mengiyakan, jadi aku memasukkan koper ke mobil. Siang itu seperti biasa lalu lintas ga sepadat pagi. Aku menyetir dengan kecepatan sedang, santai aja karena waktu kontrol masih agak lama. Sengaja berangkat lebih awal agar ga stres di jalan. Sampai di Morula BIC Menteng, seperti biasa setelah memberikan buku periksa di bagian pendaftaran, ke toilet, lalu turun ke musholla untuk sholat Dzuhur. Selesai sholat, naik ke atas, duduk sebentar untuk meredakan lelah. Setelah nafas normal, aku ke belakang ke meja suster, minta timbang dan tensi. Saat tensi manual, tensiku 140/100, lebih tinggi dari biasanya. FYI, tensiku selalu normal, paling tinggi 120 atasnya, termasuk saat hamil juga selalu normal.

Masuk ke ruang dokter.....
A: Dok, kok tensi saya tadi naik ya
IRS: Hah...berapa?
A: 140/100
IRS: Hah... abis ini ke ruang bersalin di RSIA ya, CTG.

Bersambung ke part 2....

Rabu, 20 September 2017

Satu Hari yang Indah part 3


Sore ini aku mandi sambil bernyanyi dalam hati karena katanya kan gak boleh nyanyi di kamar mandi. Tanpa mengeluarkan semua baju dari lemari dan melemparkan ke kasur, seperti di film-film, aku sudah siap dengan blus dan celana jins, sedikit membubuhkan bedak dan lip gloss tipis. Jangan bersolek terlalu tebal, nanti Arya malah il-feel, batinku sambil cekikikan. Dalam hati tentunya.
Sekitar jam tujuh, pintu kamar kosku diketuk.
“Na,” panggil Arya.
“Hai,” sahutku setelah membuka pintu.
Arya tersenyum, dia nampak begitu manis. Oh Tuhan, apakah malam ini akan berakhir seperti yg aku harapkan?
“Yuk berangkat,” katanya.
Arya mengendarai motornya pelan, mengarah ke selokan Mataram lalu belok ke kanan menyusuri Selokan.
“Na, kamu udah makan?” Tanya dia.
“Belum sih Ya. Kamu udah?” aku balik nanya.
“Belum juga. Masih kenyang siomay tadi,” jawabnya. “Makannya abis dari Sekaten aja ya?”
“Oke”.
Dengan kecepatan rata-rata 40 km/jam saja, akhirnya Arya memarkirkan motor di seputaran Kantor Pos Jogja saat jam tanganku menunjukkan jam 7.20. lalu kami berjalan menuju pintu masuk Sekaten.
“Raina!!” aku mendengar seseorang memanggilku sambil melambaikan tangannya.
“Eh mbak Rere,” ternyata teman kosku. “Udah mau pulang?”
“Iya Na, kamu baru dateng nih?” tanyanya sambil melirik Arya dengan pandangan kepo.
“Ho oh mbak,” jawabku singkat.
“Ya udah aku duluan ya,” pamitnya.
Sambil melambaikan tangan tanda berpisah, aku kembali melanjutkan jalanku dengan Arya. Sesekali Arya menggamit tanganku saat melewati keramaian. Tapi saat suasana dia rasa aman, dia melepaskan tanganku. Aku tidak mau melambungkan angan terlalu tinggi, aku tidak tau apakah ada kesamaan keinginan di antara kami.
Kami pun berjalan dari stand ke stand. Sambil melihat-lihat apakah ada barang yang unik dan menarik.
“Na, itu apaan ya kok rame standnya?” Tanya Arya. Lalu tangannya menarik tanganku, “ kesana yuk”.
Untung saja tidak ada orang yang aku kenal disana, sementara wajahku bersemu merah. Ya, aku bahagia.
Ternyata stand itu adalah stand bimbingan belajar yang cukup ternama di Jogja. Mereka memberikan permainan otak dengan iming-iming hadiah. Entah apa hadiahnya.
“Ayo mas, dicoba,” salah seorang penjaga stand menawari Arya. Arya hanya tersenyum dan berusaha menolak dengan halus.
“Coba yuk, Ya,” ajakku.
Permainan itu berupa sebuah persegi panjang dengan lubang-lubang di atasnya, semacam papan dakon. Lalu lubang-lubang itu harus terisi oleh bola-bola yang terangkai dengan beberapa pola. Ada yang bolanya dua berpola lurus, atau bolanya tiga berbentuk segitiga, dan lain-lain. Aku menyukai permainan semacam ini.
Pada kesempatan pertama aku boleh memindahkan bola tersebut jika ternyata tidak pas. Dan aku berhasil menyelesaikan permainan itu. Lalu si penjaga stand menawarkan hadiah untuk permainan kedua, dengan syarat aku harus meletakkan bola-bola itu satu kali saja, tidak boleh dipindah-pindah. Akupun merasa tertantang. Dengan kekuatan bulan…. Eh bukan…dengan kekuatan otakku tentu saja, aku berhasil menyelesaikannya. Dan akupun menimang-nimang sebuah boneka lucu yang ternyata adalah kapur barus.
“Kamu tuh ya, masih aja pinter kayak dulu. Makan apa sih?” kata Arya sambil tertawa.
Akupun ikut tertawa. “Padahal seringnya makan burjo, hahahahaha…”
Jarum pendek di jam tanganku menunjukkan angka 9. Arya pun mengajakku meninggalkan area Sekaten ini.
“Makan dimana, Na?”
“Mana ya Ya?”
“Yee, ditanyain malah balik nanya.”
“Hehehe.”
Arya mengendarai motornya menuju arah kosku.
“Burjo deket kosmu yang enak yang mana Na?”
“Deket kampus aja, ada burjo Yogi” Akupun menunjukkan ancer-ancer menuju burjo yang aku maksud. Sambil komat-kamit berdoa semoga tidak ada teman kuliahku yang sedang nongkrong di burjo itu. Aku malas menjadi bahan berita di kampus. Walaupun belum tentu akan menjadi berita karena teman-temanku bukan tipe penggosip hahahaha.
“Mang intel rebus sama es kopimik ya,” langsung kupesan menu favoritku di warung burjo ini.
“Kopimik?” Tanya Arya.
“Iya kopimik, kan mamangnya susah ngomong ep,” sahutku sambil ngakak. Si mamang burjo juga ikut tertawa.
“Dasarrr kamu Na,” Arya lagi-lagi mengacak-acak rambutku. “Samain aja mang.”
Untuuuung tidak ada makhluk dari kampusku yang menyambangi burjo malam ini. Sehingga tidak ada saksi memerahnya wajahku untuk yang kesekian kalinya.
“Na,” kata Arya setelah kami sama-sama menghabiskan intel rebus hingga tetes terakhir.
“Hmmm?” aku menjawab sambil menengok ke arah Arya.
“Makasih ya seharian udah nemenin aku jalan.”
“Aku seneng kok bisa jalan sama kamu.”
Arya tersenyum.
“Lagiaaannn…” ragu-ragu kuteruskan ucapanku.
“Lagian apa Na?”
“Mmmmm….”
“Apaaannn?”
“Lagian kan dulu jaman kita pacaran, kita ga pernah jalan.” Aku menjawab masih dengan ragu-ragu, takut Arya marah.
“Hehehe, iya juga sih.”
“Ya,”
“Opo?”
“Kamu jangan marah yaa.”
“Iyaa..”
“Mmmm…boleh gak sih kalo aku berharap kita bisa nyoba lagi?
Arya kini menatapku dengan pandangan serius. Mungkin dia tidak menyangka aku akan berani berkata seperti itu.
“Na..”
“Ga usah dijawab gak papa Ya. Maaf ya..”
“Kenapa minta maaf?”
“Takutnya kamunya marah, ga suka aku ngomong kaya gini.”
“Enggaklah…kenapa juga aku harus marah.”
Aku memainkan sedotan di gelasku. Gak berani memandang wajahnya.
“Na,” kata Arya pelan. “Sebenarnya aku pernah memikirkan hal yang sama.”
Sejenak aku bahagia, perlahan aku menoleh ke arahnya.
“Tapi…”
Bahagiaku sedikit menyurut.
“Jujur aja aku minder.”
“Aku minder karena orangtuaku bukanlah orang kaya,” lanjut Arya.
Aku yang tadi sempat membuka mulut untuk bertanya kini mendengarkan cowok itu sambil menenangkan hati.
“Aku bekerja paruh waktu untuk meringankan beban bapak. Apalagi aku kuliah di swasta, uang kuliah lebih mahal. Sedangkan aku tau orangtuamu kaya. Mereka bisa membiayai kuliahmu, kosmu yang bagus, dan mungkin fasilitas yang lain. Dan aku minder sama kamu, karena kamu lebih cerdas dariku. Apa yang bisa diandalkan dari aku Na? Bahkan aku hanya mampu traktir kamu siomay dan burjo”
“Yang aku tau kamu adalah pekerja keras Ya, bukan anak manja yang datang ke Jogja dengan mengandalkan kiriman dari orangtua. Buatku kamu punya nilai lebih, Ya.”
Dan malam itu berakhir saat Arya mengantarku ke kos dan mengucapkan selamat malam. Satu hari yang indah yang akan selalu aku kenang walau boneka kapur barus dari Sekaten tadi habis dimakan masa.

Rabu, 31 Agustus 2016

SATU HARI YANG INDAH (part 2)

Setelah memarkir motorku dengan baik dan benar, aku meminta ijin untuk sholat dzuhur sebentar, dan ternyata Arya pun menumpang sholat di kamarku. Lima belas menit kemudian aku pun sudah duduk di motor Arya. Cowok itu mengarahkan motornya ke selatan, menuju jalan Solo. Lalu berbelok ke arah barat, menyusuri jalan Solo. Aku tidak berani melingkarkan tanganku ke badannya, walau aku sangat ingin.
Di atas motor kami bercakap-cakap ringan, bercerita tentang kuliah masing-masing. Dia bercerita bahwa dia juga bekerja paruh waktu, sekedar untuk menambah uang jajan. Kekagumanku terhadap kemandiriannya makin besar. Aku tau sejak SMA dia sudah berusaha mandiri karena dia bersekolah di kota yang berbeda dari orangtuanya. Jadi dia tidak ingin menambah beban orangtuanya. Aku yakin tidak semua cowok seusiaku mempunyai sikap yang seperti itu. Contohnya, mantanku yg kedua. Oops.
Tak terasa kami sudah sampai di daerah dekat terminal Umbulharjo, berhenti di warung teman Arya. Kebetulan si teman itu sedang berada di warungnya.
“Woy Ya, akhirnya datang juga,” sambut temannya itu.
“Iya nih Ga, sori baru sempet sekarang,” jawab Arya sambil menyalami temannya. “Kenalin nih, Raina,” sambungnya memperkenalkan kami.
“Raina,” kataku sambil mengulurkan tangan.
“Yoga,” jawab si teman menyambut uluran tanganku. “Pacarnya Arya ya?” tebaknya.
Aku berpandangan dengan Arya sambil tertawa. Aku tidak menjawab, kubiarkan Arya saja yang menjawabnya.
“Temen SMP,” itu jawaban Arya.
“Beneran?” Tanya Yoga sambil melihat ke arahku tidak percaya.
“Iya bener,” jawabku sambil tertawa.
Yoga menawari kami makanan dan minuman yang tersedia di warungnya. Kami memutuskan memesan jus dan siomay saja. Lalu dua pria itu terlibat percakapan yang tidak melibatkan aku. Dari yang aku dengar, Arya sedang bertanya mengenai tips-tips berbisnis pada Yoga. Sebenarnya aku kurang tertarik dengan bisnis, namun aku tetap menyimak percakapan itu. Lebih tepatnya memperhatikan cowok hitam manis yang duduk di seberang mejaku ini.
Pikiranku membawa kembali ke masa SMP, sekitar Sembilan tahun yang lalu. Aku mengenalnya sebagai teman sekelasku. Tidak ada kegiatan ekskul yang kami lakukan bersama. Dia mengikuti kegiatan Pramuka, sedangkan aku memilih voli. Di kelaspun kami duduk tidak berdekatan. Kesamaan kami hanyalah tempat les bahasa Inggris yang sama, dengan jadwal yang berbeda. Kelasku dimulai setelah kelasnya selesai. Terkadang kami ngobrol sebentar sebelum dia pulang. Tidak ada yang istimewa saat kami masih berumur 12-13 tahun itu.
Saat pertengahan semester 2, aku harus pindah mengikuti orangtuaku yang ditugaskan di kota lain. Masih kuingat jelas, dia meminta alamatku yang baru. Untuk berkirim surat, katanya waktu itu. Dan benar, sejak kepindahanku kami selalu berkirim surat. Sekedar bercerita tentang sekolahku yang baru, atau dia menceritakan teman-teman kami yang di sekolah lama. Terkadang dia menyebutkan nama seorang teman cowok yang lain, yang menurut dia menyukai aku. Tanpa sadar aku tersenyum, aahhh salah satu masa indahku.
“Woyyy,” Arya melambaikan tangannya di depan wajahku.
Aku pun tersentak.
“Ngelamunin apaan sih kayanya asik banget,” kata Arya.
Aku pun hanya tertawa sambil meminum jusku. “Yoga mana?” tanyaku saat tidak melihat Yoga duduk di sebelahnya.
“Halaahhh, ngelamunnya khusyu banget sampe gak sadar kalo Yoga tadi pamit mau pulang duluan”, jawab Arya sambil tertawa ngakak.
“Hahhhh,” aku bengong, lalu ikut tertawa.
“Yuk diabisin, kita balik,” ajak Arya.
Yaaahhhhh, balik sekarang???
Kembali kami melaju di jalan, Arya mengambil rute kembali ke kosku. Jam tanganku menunjukkan pukul empat sore. Dengan kecepatan 40 km/jam, Arya memarkirkan motornya di kosku sekitar 30 menit kemudian. Kembali Arya numpang sholat asar di kamarku. Setelah aku pun selesai sholat, kami duduk-duduk di depan kamarku. Saat sedang ngobrol-ngobrol, beberapa teman kosku menuju parkiran motor bersiap pergi.
Iseng aku bertanya ke salah satu dari mereka, “Mau kemana mbak?”
“Ke sekatenan Na,” jawab Mbak Rere.
“Sekarang lagi ada sekatenan ya?” tanyaku lagi.
“Iya, udah semingguan ini. Yuk kesana,” ajaknya.
“Ya mbak, makasih. Ntar aja,” tolakku halus.
Tak lama kemudian mereka sudah berangkat meninggalkan kos.
Tiba-tiba Arya menanyakan sesuatu padaku.
Aku yang masih memperhatikan motor-motor teman kosku pergi menoleh pada Arya dengan sedikit kaget, “Hah?”
“Ishhh, dasar kuping,” Arya mengacak rambutku pelan.
Aku hanya meringis.
“Udah pernah ke sekaten?” Arya mengulang pertanyaannya.
“Oooooooo,” aku baru mengerti. “Kalo yang di Jogja belum.”
“Kesana yuk.”
“Hahhhh??” kali ini aku benar-benar kaget.
“Kamu nihhh parah banget kupingnya,” Arya menunjukkan wajah gemas.
Aku tertawa, “Bukan gitu. Kaget aja tiba-tiba kamu ngajak ke sekaten.”
“Emang kenapa? Takut cowokmu marah ya?”
Akupun teringat kalo hari ini Sabtu.
“Enggak laahhh… Kan tadi kita abis pergi, kaget aja kok ngajak pergi lagi.”
“Jadi gak mau?”
“Ya mauuuuu.”
Arya tertawa. Lalu dia bangkit dari kursinya. “Ya udah aku balik ke kos dulu. Abis maghrib aku jemput ya.”

“Oke,” jawabku.

(bersambung ke part 3)

SATU HARI YANG INDAH (part 1)

Huft, akhirnya selesai juga laporan akhir praktikum ini aku ketik. Aku susun lembaran-lembaran kertas setebal 60 halaman yang diketik dengan mesin ketik milik kakakku dulu. Yap, di jaman yang sudah mulai menggunakan komputer, printer dan disket ini, laporan tidak boleh diketik menggunakan komputer.  Indah sekali kan?
Kulihat jam dinding, jarum panjang menunjuk ke angka 11. Setelah mandi, aku akan menjilidkan laporan ini, lalu menuju tempat penyewaan komik. Hari ini akan kuhabiskan dengan membaca komik Detektif Conan beberapa jilid, dan jika beruntung, aku bisa meminjam buku Harry Potter terbaru. Hmmmm, hari yang indah.
Motor kuparkir di depan Exclusive, toko yang melayani fotokopi, penjilidan dan lain-lain. Baru sedetik kuhempaskan badanku ke kursi tinggi di depan meja, tiba-tiba, “Hei Na, apa kabar?” Suara seorang cowok menyapaku ramah.
Kutengok ke kiri ke arah sumber suara. Dengan sedikit terkejut, “Haaii Ya, baikkk… Kamu apa kabar? Kok bisa sampe sini?”
“Baik juga. Kamu mau fotokopi?”
“Enggak, aku mau jilid laporan. Eh bentar ya, aku jilid ini dulu,” kataku sambil memanggil salah satu pegawai toko. Tanpa menunggu jawabannya aku langsung menyebutkan jilidan yang aku mau ke pegawai itu. Kemudian si pegawai membawa laporanku, dia menjanjikan jilidan akan selesai dalam waktu 30 menit.
Aku kembali menengok ke cowok tadi. “Eh kamu belum jawab, kamu ngapain kesini? Mau jilid juga?”
Cowok itu menjawab, “Enggak. Aku tadi pas lewat sini lihat kamu belok ke toko ini. Trus aku ikut belok aja kesini.”
Wajahku terasa sedikit menghangat. Dia ingin bertemu denganku.
“Emang kamu mau kemana?” tanyaku.
“Tadinya sih mau main ke tempat temenku, katanya dia sekarang buka warung kecil-kecilan.”
“Oooo,” aku sambil manggut-manggut.
Dia Arya, mantan kekasihku yang pertama kali. Temanku di bangku SMP yang masih selalu berkomunikasi denganku walau sudah berbeda kota. Dan di masa SMA kami sama-sama mengakui mempunyai perasaan yang sama, lalu memutuskan untuk berpacaran. Walau tidak lama, tetapi delapan purnama itu cukup berkesan.
“Na, abis ini kamu mau kemana?” Tanya Arya membuyarkan lamunanku.
“Gak ada acara sih, paling sewa komik aja hehehe,” jawabku sambil tertawa.
“Kamu nih masih aja doyan komik ya,” katanya balik tertawa.
“Masih inget Ya?” Sepertinya wajahku agak memerah.
“Iyalah. Kan dulu kamu sering cerita di surat-suratmu.”
“Emang surat-suratku masih ada?” tanyaku penasaran.
“Masih ada di rumah. Emang surat-suratku udah ga ada?”
“Masih juga, di rumah.”
Hatiku terasa makin hangat mengetahui hal itu. Teringat aku selalu menunggu-nunggu surat-surat dipajang di jendela ruang TU sekolah. Ledekan sahabat-sahabatku saat aku menerima surat dari Arya. Surat itu selalu kubuka di kelas dengan tak sabar. Ingin mengetahui kabar Arya, apa yang dia alami di hari-hari kemarin. Dan sesampainya di rumah, aku tak sabar menuliskan balasan surat itu. Ingin kuceritakan semuanya, tentang sekolahku, kelinciku, ataupun tentang sahabat-sahabatku. Masih teringat di salah satu suratku aku menulis bahwa salah satu sahabatku mengundangku dan dia untuk datang di acara ulangtahunnya yang ke-17. Arya pun bertanya transportasi umum apa yang dia gunakan untuk sampai di kotaku? Tetapi aku tidak berani mengambil resiko, aku takut orangtuaku tahu bahwa aku punya pacar. Dengan terpaksa aku mengatakan padanya bahwa dia tidak perlu datang. Aku juga kasihan, dia harus melewati tiga kota untuk mencapai kotaku, selain itu dia juga harus menyisihkan uang sakunya hanya untuk ke kotaku.
“Mbak, ini jilidannya udah selesai,” mbak pegawai mengusik lamunanku.
“Eh,” wajahku sedikit terkejut. “Oiya mbak.” Setelah mengecek hasilnya dan menyelesaikan pembayaran, “Ya jilidanku udah selesai. Kamu mau kemana?”
“Kita jalan aja yuk. Mau?” ajaknya.
Mau banget laaahhhh, hatiku berkata dengan girang. Tapi dengan bodohnya aku balik bertanya, “Kemana?”
Arya mengangkat bahu. “Kemana ajalah, puter-puter Jogja.”
“Katanya mau ke warungnya temenmu?” Bodoh banget, rutukku. Kenapa sih gak langsung jawab iya aja, gak usah nanya-nanya. Kalo Arya berubah pikiran gimana????
“Ya nanti mampir kesana aja bentar.” Arya lalu berdiri, “Udah yuk, mampir kosmu dulu taruh motormu.”
Tanpa bertanya lagi aku langsung mengikuti dia keluar dan 5 menit kemudian kami telah sampai di kosku.

(bersambung ke part 2)

Cerpen

Duluuuuu.... jaman SMA, aku suka menulis cerpen. Isinya ga jauh-jauh soal romansa remaja. Hampir semuanya berkisah tentang cewe yg secara fisik ga dipandang sempurna oleh cowo2 usia remaja, tetapi akhirnya ada cowok yang mencintai dia apa adanya dia. Dan kadang kalimat endingnya terlalu klise, atau terlalu romantis, atau terlalu "wagu" kalo orang jawa bilang. Aku sadar kalo tulisan itu menyuarakan suara hatiku yang ga sempurna di mata cowok2 seusiaku, dan aku ingin dicintai seperti apa adanya aku. Lucu memang, tapi itulah cerpen yang aku buat.

Jaman aku SMA masih jarang komputer. Jadi cerpen2 itu aku tulis tangan di lembaran hvs bergaris, mohon dimaklumi jika banyak noda tip-ex disitu. Pembaca setiaku seringnya kakakku yang perempuan, dan terkadang teman2 dekatku di kelas. Mungkin kakakku dalam hati menertawakan cerpenku yang sangat khas abg, kalo jaman sekarang mungkin disebut abg alay. Tapi dia menghargai cerita2 yang aku tulis. Aku sangat berterimakasih untuk itu. Love u sist xoxo.

Berhubung cerpen2 itu dalam bentuk tulisan tangan dan tersimpan di rumah orangtuaku di Solo (mudah2an masih ada), sekarang aku ingin mencoba menulis cerpen lagi dengan setting yang lebih dewasa sedikit. Selamat membaca!!

Jumat, 09 Oktober 2015

Studen Exchange part 4 - Jalan-jalan (2)

Late post banget ya... Cerita lagi tentang perjalanan di Jepang. But better late than never kan ya hehehe...

10 hari sebelum pulang ke Indonesia, kami menyempatkan diri jalan-jalan ke sebuah benteng yang bangunannya bergaya eropa. Aku lupa apa nama benteng atau nama bukitnya. Perjalanannya lebih jauh daripada ke Matsuyama Castle. Tentu saja dengan naik sepeda, beberapa kali sepeda aku tuntun karena jalanan menanjak dengan cukup curam. Lagi-lagi perjalanan yang melelahkan terbayar dengan pemandangan yang begitu indah.... Sesampainya di atas bukit tentu tak lupa mengabadikan berbagai foto disana di tengah udara musim dingin Matsuyama.

Setelah puas kami menuruni bukit untuk kembali ke kota lalu menghangatkan diri di sebuah restoran sushi. Surga deh buat pecinta sushi. Dengan hanya 108 yen per porsi atau sekitar 10ribuan waktu itu, kita bisa puasss memilih-milih sushi favorit. Paling-paling hanya mengeluarkan 1000 yen atau sekitas 100ribu udah kekenyangan sushi. Coba disini.... brapa ratus ribu tuh baru bisa kenyang!!

Playground di atas tempat parkir, sebelum menuju castle, dengan pemandangan kota Matsuyama

Berjalan kaki menuju castle

Pose sebelum menuju castle yang nampak di balik pohon itu

Pemandangan kota Matsuyama, nampak di kejauhan Matsuyama Castle
Bersama teman-teman
Tuh dia castle nya mulai keliatan
Berbagai macam pose bersama teman2 peserta student exchange dan mahasiswa dari Indonesia

Benteng di atas bukit dengan pemandangan kota Matsuyama di bawahnya
Grilled salmon sushi hanya 108 yen

Kamis, 01 Oktober 2015

.... dan tespek itu bergaris dua

Student Exchange yang aku jalani selama sekitar 50 hari membawa berkah yang tak ternilai harganya bagiku dan suami. Kehidupan yang aku jalani disana memang sedikit berbeda, terutama untuk hal transportasi dan makanan. Sepeda menjadi alat transportasi utama untuk kemana-mana. Ke kampus, belanja, wisata, beli oleh2, karaoke, ya pake sepeda. Makanan yang aman dikonsumsi oleh muslim ya ikan. Kalo pengen ayam ya harus ke supermarket yang jual ayam dengan label halal. Ditambah di kantin kampus selalu ada salad, jadi hampir tiap hari aku makan ikan dan salad.

Sempat aku menghitung2 siklusku, kemungkinan saat aku pulang ke Jakarta itu pas masa suburku. Lalu aku berandai-andai siapa tau setelah itu aku hamil. Aku cukup sering sih berkhayal, berandai-andai tentang banyak hal. Anggap aja itu adalah salah satu bentuk sugesti positif ya....

Masih sangat aku ingat, 19 Desember 2014 adalah HPHT ku. HPHT itu adalah Hari Pertama Haid Terakhir. HPHT itu salah satu patokan untuk menghitung usia kehamilan dan HPL (Hari Perkiraan Lahir). Tanggal 25 Desember 2014 aku menginjakkan kaki lagi di Jakarta. Hari ke-35 setelah HPHT (H-35) aku belum haid. Aku selalu menganggap kalo aku telat haid setelah H-35, karena siklus haid wanita yg normal itu 21-35 hari. Dan karena aku PCO, jadi aku ambil siklus yg terpanjang sebagai patokan. Nah setelah H-35 belum haid, aku baru tespek di H-39. Bukannya apa-apa, tapi selalu lupa untuk tespek di pagi hari persis setelah bangun tidur. Sebenernya sih tespek dengan urine di jam berapa aja bisa, tapi pengen yg lebih afdol aja, urine pertama di pagi hari hehe...

H-39, hari Senin, tanggalnya 26 Januari 2015, pagi2 sekitar jam 5an lah... Bangun tidur, ambil tespek, baru ke kamar mandi. Tampung urine, celupin tespek, lalu merhatiin urine nya menjalari tespek. Melongo waktu liat garis yang bawah nongol duluan, baru garis yang atas. Keluar dari kamar mandi, ambil tespek satu lagi. Cek tanggal kadaluarsanya, masih oke. Celupin lagi. Lagi2 garis yang bawah nongol duluan. Melongo lagi. Berasa gak percaya. Langsung ke kamar, nunjukin ke suami. Ikutan melongo. Alhamdulillah, bersyukur yang sebesar2nya hanya pada Allah SWT. Akhirnya aku melihat tespek bergaris dua di usia pernikahan kami 6 tahun 5 bulan 2 hari.


 Sore itu juga aku langsung ke dokter untuk memastikan. Masuk ruangan dr Irham yang udah sekitar 3 bulan ga aku sambangi. Ramah seperti biasanya menyambut para pasiennya. Ngobrol2 bentar basa-basi nanya kapan aku pulang dari Jepang.

IRS : Kapan pulang dari Jepang?
A : Udah dari tgl 25 Desember kemaren dok. Maaf ya dok ga bawain oleh2. Mahal2 disana.
IRS : Iya emang di Jepang tuh mahal2 semua.
A : Oleh2nya ini aja ya dok
(aku ngeluarin 2 tespek)
IRS : Alhamdulillah.... selamat yaa..
A : iya dok. HPHT 19 desember dok.
IRS : Ya udah yuk USG. Tapi biasanya belum kliatan sih. Apa 2 minggu lagi aja USG nya? Nanti saya kasih penguat dan vitamin.
A : iya sih, kadang baru kliatan penebalan dinding rahim dulu ya dok.
IRS : iya... tp gpp deh kita USG aja sekarang.

Dan voila..... penampakan inilah yang tampak saat USG. Baru berasa benar2 yakin bahwa Allah mengijinkan aku hamil. Kantung janin sudah ada, bahkan titik putih bakal calon janin juga sudah ada. Subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallah allahu akbar.


Rabu, 30 September 2015

Student Exchange Part 3 -- Jalan-jalan (1)

Note: tulisan tentang jalan-jalan ini aku tulis sewaktu masih di Jepang, tapi baru aku publikasikan hari ini

Berhubung kemarin2 ga sempet update lagi tentang masing2 acara jalan2 di Matsuyama jd dirapel aja yaaaaa.....

Matsuyama itu kotanya ga begitu gede, jadi kalo ke tempat wisata cukup naik sepeda juga udah sampe hehe. Pertama yang dikunjungi adalah Matsuyama Castle, tapi sebelumnya makan dulu dongg di Namaste. Apakah Namaste? Adalah tempat makan di Matsuyama yang mengusung menu India dan insyaAllah ayam dan daging dombanya halal, yeah!!! Menu yang aku makan itu mutton curry alias kari domba plus roti naan. Uenak pollllll......
Mutton curry plus naan bread, mak nyusss
Bareng temen2 peserta student exchange di Namaste
 Untuk penikmat makanan pedas, yang kangen makan pedes karena di Jepang pada ga doyan sambel (tapi doyan wasabi), di Namaste bisa pesen level kepedesannya. 3 kali makan di Namaste cukup dengan level 6, tp temen yg ngakunya orang Padang merasa tertantang dan terakhir memesan level 10 dan 15. Hasilnya yang pesan di level 15 keringetan kaya orang mandi hahahaha.....

Tangga dimulainya perjuangan berjalan kaki
Selanjutnya adalah Matsuyama Castle di atas bukit. Menuju kesana bisa naik kereta gantung sih, tapi yahhh namanya mahasiswa yang ngirit dan abis makan di Namaste, jadi marilah kita memarkir sepeda dan berjalan kaki hahahaha..... Lumayan lahhh buat nurunin karinya. Tapi setelah sampe di atas terbayar lah ngos2annya tadi. Pemandangan kota dari atas bukit, castle nya sendiri dan mendingan liat sendiri foto2 ini :D
Apa ya ini? Lupa2 ga inget. Denah castle dan sekitarnya kayaknya

Kereta gantung menuju ke castle tanpa berkeringat. 

Penampakan Matsuyama Casrle dan bangunan2 di sekitarnya sebelum sampai di TKP

ki-ka: Iksan, akyu, Dwijo, Galuh dan Heri yang duduk di depan.

Penampakan kota Matsuyama dari atas bukit

Berpose di depan pohon Momiji

Matsuyama Castle

Nemenin Dwijo berpose dengan mbak2 berpakaian yukata


waiting for pregnancy - Back to Doctor

Haduhhh update nya ga rutin yak... Maklumlah, kalo lg mood bisa nulis terus2an, tp kalo moodnya lg melayang ya kabur deh tulisannya :p

Oke... terakhir sampe cerita nyoba pengobatan alternatif ya... Singkat cerita, setelah ke pak Haji di daerah Depok, aku dan suami memutuskan untuk berhenti kesana. Alasannya, yang pertama memang aku dan suami sepakat untuk berhenti kesana jika sebelum puasa belum berhasil. Selain itu sebenarnya suami kurang sreg dengan segala pengobatan alternatif dan lebih mantap jika berobat ke dokter. Dan ternyata setelah itu aku dapet haid ga berhenti2 sampe 2 minggu lebih. Hal itu membuat aku kembali ke dokter.

Dokter yg aku pilih dr. Ismail di RSIA Buah Hati Pamulang. Awalnya aku sih memilih RS nya dulu. Pertimbanganku Buah Hati cukup terkenal di wilayah Ciputat, dan sedang membangun RS baru di Pamulang, yang lebih dekat dari rumah. Waktu mendaftar kesana, dokter yg jadwal praktek di hari itu adalah dr. Ismail. Pertama sih kesannya dokternya baik, komunikatif juga, dan memberikan motivasi bahwa penderita PCO bisa hamil. Inti dari kunjunganku sebenarnya asal haidku berhenti. Jadi setelah haid normal lagi, aku ga balik kesitu untuk program. Alasanku, aku agak kurang sreg aja karena selama kesitu cuman di usg abdomen. Rasanya kurang mantep aja karena biasa di dr. Reza selalu usg TV untuk tau kondisi sel telurku. Trus yang kedua, mungkin karena masih baru ya, administrasi nya masih manual jadi lama pisan nunggunya.

Setelah itu belum ke dokter lagi sampai akhirnya kembali hormonku ngaco, haid ga berhenti-henti hingga hampir sebulan. Dua minggu pertama flek2, setelah itu banjirrr banyak banget. Lalu aku memutuskan ke dokter, yang aku pilih dokter yg ada embel2 K.Fer nya. Browsing2 yang deket dari rumah ataupun kantor salah satunya di RSIA Hermina Ciputat yang waktu itu baru buka juga (sekitar akhir 2011). Ada dr. Djoko yang udah senior disana. Setelah di usg TV nampak kalo ada penebalan dinding rahim, bahasa kerennya hiperplasia. Treatment nya bisa pake obat hormon, tapi tentu butuh waktu agar bisa normal lg. Atau kalo mau cepet ya kuret. Suami ga mau kalo kuret, nyuruh aku cari second opinion.

Balik deh aku ke kantor. Berpikir2 mau cari 2nd opinion dimana yaa... Nah, beberapa bulan sebelumnya aku udah mengumpulkan berbagai informasi mengenai referensi dokter ataupun RS/Klinik Infertilitas yang direkomendasikan untuk program kehamilan. Dan waktu itu aku memutuskan bahwa kalo ikhtiar dengan dokter deket2 rumah belum berhasil aku akan mengunjungi salah satu klinik infertilitas itu. Saat suami minta aku cari pendapat kedua, aku berpikir mungkin inilah saat yang tepat untuk ke klinik infertilitas. Suami juga setuju. Pilihan aku jatuhkan ke BIC Morulla di Menteng sana. Pas nelpon pertama kali ke RSIA Bunda nya, dokter kandungan prakteknya ga ada yg sore menjelang malam. Lalu aku nelpon ke BIC nya, pas ditanya mau ke dokter siapa, aku jawab aja yang ada dokter siapa mbak? Sama mbaknya dijawab dr. Irham. Yasud, jadilah aku berangkat ke Menteng.

Pertama ketemu dr. Irham kesan pertama, ramah, bersahabat. Yang ditanya pertama kali adalah, siapa nama panggilanku. Sejak saat itu sampe sekarang, beliau selalu memanggil aku Ina. Bahkan nulis namaku di resep juga Ina, petugas apotiknya sampe harus minta bukuku agar tau nama lengkapku hehehe... Nah... singkat cerita aku dikasih obat hormon sama dokter, tujuannya untuk menghentikan dulu darahnya. Lalu setelah itu akan dibuat haid lagi sampe dinding rahim menipis sesuai dengan ukuran yang semestinya. Setelah urusan hiperplasia selesai akan dilanjutkan dengan program kehamilan. Aku nanya ke dokter, apa treatment yang akan dia lakukan utk PCO ku?

dr. Irham (IRS), aku (A) -- yaa ga persis kata2nya kaya gini ya, kan udah lama percakapannya, yg penting intinya begitu.
IRS : pertama ya pake penyubur untuk gedein telurnya
A : pake nya obat apa dok?
IRS : ya macem2, tergantung nanti yang bagus responnya yang mana
A : setau saya kan penyubur bikin dinding rahim tipis ya dok. trus nanti dikasih esterogen?
IRS : iya, tapi saya ga mau kasih esterogen. karena saya maunya esterogennya alami, yang keluar dr sel telurnya.
A : lhaa tapi apa bisa pake penyubur, ga dikasih esterogen tapi dinding rahim bisa tebal?
IRS : bisa aja. kan respon penyubur ke tubuh masing2 orang beda2.
A : oooo (manggut2)
IRS : kalo pake obat oral ga bisa gedein telur, ya pake obat suntik. kalo belum berhasil, langkah selanjutnya inseminasi, lalu bayi tabung
A : (manggut2 lagi)

Sejak hari itu sampe sekarang, aku masih setia kontrol ke BIC dengan dr. Irham. Dan aku membuktikan sendiri bahwa dari sekian obat penyubur yang diberikan ke aku, yang responnya bagus adalah Genoclome 50mg. Sel telur ukurannya bagus, dinding rahim juga menebal. Ukuran2nya berapa, aku lupa hehehe..... Sekitar pertengahan 2013 aku mencoba inseminasi. Tapi mungkin belum saatnya ya... Setelah 5 hari minum obat penyubur, 6x suntik puregon, akhirnya prosesnya tidak aku lanjutkan karena aku sakit. Sebenarnya pada tahun 2014 berniat akan mencoba lagi, tapi ternyata banyak halangannya. Mulai dari aku sakit DBD dan operasi abses perianal, lalu aku ke Sulawesi Selatan untuk ekskursi regional, lalu mendekati bulan puasa. Setelah lebaran, aku ke Jepang. Yasudahlah, memang belum saatnya ya mau bilang apa.....

Jumat, 08 Mei 2015

waiting for pregnancy - Mencoba Pengobatan Alternatif

Selain ikhtiar ke dokter, aku juga pernah ikhtiar ke pengobatan alternatif. Kalo ga salah hitung, aku pernah ke 3 tempat.

Yang pertama itu sekitar awal2 pernikahan, agak lupa tepatnya kapan. Mungkin sekitar tahun 2009 awal ya. Lokasinya di sekitar Pondokbetung, Bintaro, namanya bu Agung. Yang menyarankan waktu itu adalah teman kantorku yang sudah senior. Beliau duduk seruangan denganku dan sudah kuanggap sebagai orangtua. Jadi saat beliau menyarankan, okelah ga ada salahnya dicoba.

Waktu itu pas jam kantor aku diantar ke rumah bu Agung itu. Rumahnya masuk2 gang. Pas sampe disana pas masih ada pasien. Setelah itu aku bertemu dengan bu Agung. Ditanya apa keperluannya, lalu beliau mendeteksi apa masalahnya mengapa aku belum hamil. Udah agak2 ga sreg sih karena seperti pake penerawangan indra ke-6 gitu. Beliau mengatakan bahwa ada urat yang agak terplintir atau gmana gitu deh, udah lupa. Intinya perlu dikembalikan ke tempatnya lah. Sarannya pijit 2x, sekali pijit 400rb!!!! Tapi ya namanya mo ikhtiar, aku bujukin suamiku agar mau mencoba, dan dia mengiyakan. Pertama dipijit, sakiiiiiiittttttttt pisan. Pijitnya di perut pula. Yang kedua udah ga sesakit yang pertama. Tapi setelah itu blom hamil juga hehe....

Nah setelah itu kan aku mulai ke dr Reza, pas usg awal beliau liat ada kista kecil. Takutnya itu efek dari pijit perut, entahlah....

Yang kedua itu setelah berhenti dari dr Reza, aku mencoba alternatif bareng bbrp teman dari AIH grup di daerah Cisalak Depok. Lokasinya di sekitar wisma Trubus, di tempat pak Haji siapa gt, lupa namanya. Antriannya banyaaakkk, harus pinter2 cari org sekitar situ untuk nitip di belikan nomernya dl biar bisa dapet nomer awal. Metodenya dengan melihat garis di telapak tangan trus nanti dikasih obat herbal dan minyak sirih kalo ga salah.

Efek dari ke pak Haji itu, haidku buanyakkkkk dan ga kelar2. Akhirnya sebelum bulan Ramadhan 2011 aku memutuskan ga ke pak Haji lagi, dan kembali ke dokter untuk memberhentikan haidku.

Yang ketiga itu di Jogja, di dekat rumah mertua, pas mudik lebaran tahun 2013. Aku dipijit sekali atau dua kali, mayan sakit juga. Dikasih pantangan banyakkk, dan dibawain obat herbal untuk 3 bulan. Habisnya lumayan jugaaaa.... Tapi entah mengapa, kalo ma obat herbal aku ga bisa telaten kaya kalo minum obat dokter. Awal2 aja aku rutin minum, lama2 lupa dan akhirnya males.

Selain tiga yg utama itu, pernah juga bekam sama temen dan di Bengkel Rohani. Tapi lagi2 ga telaten njalaninnya. Kalo di Bengkel Rohani kurang cocok ma metode bekamnya yg lgsg ngebekam semua titiknya. Ngeriii...... Oya sebelumnya juga pernah pas mudik lebaran di awal2 nikah, diajak pijit sama ibu mertua juga, cuman dikasih pantangan aja tanpa obat2 herbal.

Ah baru inget... Pernah juga alternatif dengan tenaga prana sekitar tahun 2012. Waktu itu juga rame2 dengan temen AIH. Trus si bapaknya juga pernah ke rumahku, jadi lebih pribadi ma suamiku juga. Tapi cuman beberapa kali abis itu udah ga pernah lagi karena beliau udah banyak pasiennya.

Kayaknya selain itu ga ada lagi deh alternatifnya.... coba deh ntar aku inget2 lagi ya kali aja ada yg kelewat hehehe....

waiting for pregnancy - Second Year

Memasuki tahun kedua pernikahan dan masih belum ada tanda2 hamil, aku disarankan oleh seorang kawan untuk mendatangi dr Reza Kamal di RSB Permata Sarana Husada, masih di bilangan Pamulang.

Kesan pertama masuk ke ruangan dr Reza ituu mayan goodlooking, arab2 gitu hehe, dan komunikatif. Semua pertanyaan dijawab dengan jelas, kadang sampe digambar segala buat ilustrasi, biar mudah dipahami. Dari awal periksa udah dipastikan aku emang PCO, dilihat dari ciri2nya. Yaitu kegemukan, haid tidak teratur. Ciri PCO lainnya jerawatan, banyak bulu2 di tangan, kaki, bahkan ada yg di wajah. Kalo mo tau apa itu PCO bisa dibrowsing sendiri yaaa, atau ntar aku bikinin thread sendiri deh yaa...

Obat yg dikasih ke aku itu Diane-35 untuk ngatur siklus haid. Sebenernya itu pil KB ya, tp emang bikin haid teratur. Aku konsumsi pil itu untuk 3 siklus. Kemudian utk memancing pertumbuhan sel telur aku dikasih profertil, dan setiap hari ke-12-14 dicek ukuran sel telurnya berapa.

Setelah itu aku disuruh cek lab untuk gula darah, lalu dikasih glucophage untuk nurunin gula. Sempat juga aku minta dikasih pengantar untuk HSG, yaitu tes untuk mengetahui apakah ada sumbatan di tuba falopi, alhamdulillah hasilnya paten.

Oya, di tahun kedua ini aku juga gabung di sebuah grup di Facebook yang anggotanya para wanita yang sudah menikah namun belum hamil. Nama grupnya Aku Ingin Hamil (AIH). Maybe sounds ridiculous, but that's what happen to some women nowadays. Bergabung dalam grup AIH membuatku lebih tenang, sabar dan ikhlas karena banyak temen2 seperjuangan disitu, yang usia pernikahannya lebih lama dariku. Dari grup AIH juga aku banyak belajar tentang macam2nya gangguan infertilitas dan tes2 apa saja yg diperlukan untuk mengetahui kualitas organ2 reproduksi kita.

Setelah kira2 setahunan ke dr Reza aku memutuskan berhenti karena ada hal2 yang kurang sreg dengan treatment yg beliau berikan. Mungkin nanti saja kalo aku udah hamil aku akan kembali berkonsultasi dengan beliau.


Kamis, 07 Mei 2015

waiting for pregnancy - First Year

Aku menikah di bulan Agustus 2008, seminggu sebelum bulan Ramadhan. Dari jaman gadis memang haidku ga teratur, kadang dateng kadang engga. Awalnya sih masih santai2 aja ya, tp setelah menikah baru nyadar kalo masalah siklus haid itu berpengaruh pada infertilitas alias ketidaksuburan.

Tidak subur lho ya, bukan mandul. Aku paling ga suka dengan kata "mandul". Kalo kata "infertilitas" itu secara ga langung akan men-sugesti pikiranku bahwa ada cara2 untuk mengatasinya. Kalo kata "mandul" itu seperti harga mati bahwa "kamu ga bisa punya anak." IMHO ya.

Nahhh di awal2 nikah kumat lg haidnya ga dtg. Aku coba tespek hasilnya garis 1 doang. Lalu aku berinisiatif ke dokter kandungan (dr. Tetty) di sebuah klinik di Pamulang. Hasilnya aku memang tidak hamil, dan ada gangguan hormonal. Aku dikasih obat untuk memancing haid, namanya provera.

Selanjutnya aku beberapa kali kontrol ke dr Tetty, beliau mengatakan bahwa kemungkinan aku punya masalah infertilitas yaitu PCO. Waktu itu aku masih belum ngeh apa itu PCO, sempet sih dijelasin tapi ga begitu aku perhatikan karena kan waktu itu aku baru beberapa bulan menikah. Masih ada perasaan santai aja untuk masalah anak dalam waktu setahun ini.

Makanya waktu dr Tetty nanya mau coba alami dulu atau pake obat, aku dan suami sepakat untuk alami dulu, at least sampe setahun menikah lah ya.... (lanjut ke second year)


Rabu, 01 April 2015

Cerita - Pregnancy

Can you believe that word? "Pregnancy". Berapa tahun ya aku membayangkan hal itu akan alami? Lebih dari 6 tahun pastinya. Tour ke dokter kandungan pun udah dijalani. Beberapa alternatif juga sudah pernah didatangi. Obat kimia pun sampe hafal, kadang obat herbal juga dikonsumsi. Doa dan sedekah? Insya Allah pun ada, tapi ga perlu diceritakan lah ya.... Yang akan aku ceritakan disini adalah proses ikhtiar demi mendapatkan "pregnancy" dan dalam menjalani "pregnancy" itu sendiri.

Memang terkadang lucu.... Tidak hanya terjadi pada diriku, tapi banyak aku membaca cerita2 serupa. Bagaimana kerasnya ikhtiar demi ikhtiar dilakukan namun tak mendapatkan garis dua itu. Lalu saat lelah berikhtiar, memlih berserah diri, menenangkan hati dan pikiran, tidak mau memusingkan hal itu, garis dua itu datang tanpa diduga. Tapi ada juga kok yang mendapatnya garis dua itu setelah ikhtiar tak putus2. Tentu saja semua itu karena seijin Allah SWT. Karena hanya Dia-lah yang Maha Tahu kok, kapan waktu yang tepat untuk kita.

Sekarang, aku mo cerita dari awal ya.......

Kamis, 11 Desember 2014

Priority

Priority, atau bahasa kerennya "prioritas". Agak serius nih corat-coretnya.

Berawal dari beberapa menit yang lalu aku membuka tautan link di sebuah grup facebook tentang PCO (apa itu PCO browsing sendiri yaa :D). Link blog itu tidak lain tidak bukan milik salah seorang teman lamaku yg jg anggota grup tersebut. Dia mengunggah informasi biaya inseminasi. Saat aku buka2 blognya memang banyak tulisannya mengenai baby program.

Aku bukan mau ngobrolin soal blognya. Yang muncul di pikiranku adalah, betapa gigihnya dia dalam berikhtiar untuk mendapatkan si kecil. Berapa kali dia insem, atau hamil namun masih gagal. Lalu aku berkaca pada diriku sendiri, sudah sejauh mana sih ikhtiarku?

Inilah yang akhirnya aku sebut prioritas. Setiap orang mempunyai prioritasnya masing2. Baby program memang salah satu prioritasku, aku dan dokterku sudah menyusun rencana tahapan treatment yang akan kami lakukan. Namun ternyata kuasa Allah bicara lain. Tahun kemarin berencana insem, sudah dapet 6x suntikan puregon, eehhhh kok ndilalah ketularan gondongen dari suami. Akhirnya rencana insem harus dihentikan dulu.

Next plan for insem adalah awal tahun ini, mumpung udah UAS dan teori udah abis. Tapi aku berencana setelah pelaksanaan ekskursi regional. Setelah ekskursi tenyata mendekati bulan puasa, suami menyarankan lebih baik setelah lebaran. Ternyata menjelang lebaran mendapat kabar bahwa aku mendapatkan program student exchange ke Jepang. Maka rencana berubah lagi setelah aku pulang dari Jepang.

Ternyata salah satu prioritasku masih dikalahkan oleh prioritas lain. Ya, saat ini aku memilih untuk berkonsentrasi menyelesaikan kuliahku. Apakah aku ga pengen menjalankan baby program lagi? Jawabannya tentu iya. Tapi mungkin tidak dalam waktu dekat. Apakah ga ada rasa iri melihat teman yg lain masih getol berikhtiar sementara aku belum lagi menyambangi dokter? Jawabannya tetap iya. Namun prioritas setiap orang berbeda-beda.

Terkadang saat berseluncur di facebook, membaca berbagai macam status dari berbagai teman, dapat terbaca prioritas mereka. Di saat beberapa teman memamerkan anak2nya, atau cemas akan anak2nya, atau berbagi ilmu yg berkaitan dengan anak2, aku memamerkan suasana Jepang. Di saat beberapa teman memasang foto testpack bergaris dua, aku memasang foto alat di laboratorium disini. Di saat teman mengeluhkan atau mengkhawatirkan soal anaknya atau kehamilannya, aku mengkhawatirkan tesisku kapan selesai.

Ya, setiap orang mempunyai prioritas masing2. Hidup adalah soal pilihan. Mana yang akan kita dahulukan, dan mana yang akan kita kerjakan kemudian.

Sabtu, 29 November 2014

Student Exchange part 2 -- How to Adapt

Tuh kaannn.... kalo lagi in a good mood ya gini nihhh. Bisa corat-coret teruuusssss.... Xixixixi.... Sekarang mau crita gimana hari2 pertama tinggal di Matsuyama ini. Kesan pertamaku untuk kota ini adalah.... Kotanya kecil yak hehehe. Gak ada macet, cuman antri teratur ajahh.

Hal lain yg baru buatku adalah.... memilah sampah sebelum dibuang. Oke oke, di lingkungan rumahku sih sebenarnya udah ada kegiatan memilah sampah ajah. Cuman karena belom wajib, jadi ya males ajah wkwwkwk (piss bu RT). Pokoknya pisahin antara sampah plastik, sisa makanan, trus yg bisa dibakar, sama botol yg ada tanda PET nya. 

Hal lainnya adalah soal transportasi. Sejak sebelum berangkat, sekretaris sensei-ku udah ngasih tau kalo nanti akan disewakan sepeda. Alamakk, terakhir naik sepeda mungkin 10 tahun yg lalu ya, dengan kemampuan yg sudah menurun banyakkk dibanding jaman SMP. Dulu sih pas SMP masih lancar dan gesit bersepeda kemana2, lah sekarang??? Hahahaha... Dan lihatlah sepeda itu kawan... Entah berapa tahun umurnya, tapi bisa kupastikan tidak setua aku hehehe.... Awal dapet pinjeman sepeda yaaa lumayan lah bisa menyesuaikan. Tapi pas hujan turun di hari minggu padahal janjian ma temen kampus mo ke student festival, gak bisa kemana2 lah kami. Dan orang2 disini dengan luwesnya naik sepeda dengan setang di tangan kiri dan payung di tangan kanan. Mungkin seluwes orang2 di Jakarta yang ahli naik motor sambil sms-an. Hahahaha.....
Tapi lama kelamaan ya mulai lancar lah ya nyepedanya. Ke kampus, belanja, makan, wisata semuaaaaa naik sepeda. Belanjaan bisa ditaruh di keranjang depan tuhh. Jadi berpikir mungkin perlu beli sepeda ntar kalo udah pulang ke Jakarta hahahaha.....

Pohon momiji di awal aku dateng, masih berwarna hijau
Datang ke Jepang di bulan November artinya menikmati musim gugur sebelum beralih ke musim dingin. Di siang hari temperatur berkisar 20 derajat, awalnya ya berasa dingin. Tapi sekarang udah mulai terbiasa, hahaha gayaaaaaa. Kalo lagi mendung atau hujan paling dingin di suhu 15. Malam hari suhu terendah pernah sampe 6 derajat, dingin bangetttt.... Tapi pernah juga di suhu 17, seperti malam ini.


Pohon momiji yang aku foto hari kamis kemarin
Musim gugur itu yg bikin indah disini adalah pohon momiji. Daunnya akan berubah warna sebelum akhirnya berguguran. Coba tuh liat foto di atas, masih ijo kan warnanya.... Trus coba deh liat deh foto yg di samping kanan nih. Warnanya mulai menguning dan merah. Bagus yaaaaaa...... Langitnya juga pas biruuuuu.... Jadi pengen nyanyi.

Walau kau kini jauh disana, kita memandang langit yang sama. Jauh di mata namun kau dekat di hati.............






Student Exchange part 1 -- Perjalanan

Lama gak corat coret disini ya..... almost a year. Kebiasaan lama emang susah diubah... Di satu waktu antusias terhadap sesuatu trus lama2 jadi males sendiri hehehe.... Oke, cukup sudah membuka kelemahan2ku hahaha....

Judulnya menarik ga sih... student exchange... alias pertukaran pelajar (dalam hal ini mahasiswa ya). Iyaa bener.... sekarang aku lagi di Jepang loohhh, untuk student exchange di Ehime University. Pasti sebagian besar dari kalian mengerutkan dahi.... Dimana ya Ehime itu? Sama denganku pas pertama kali tau kalo di Ehime lah aku akan menuju. Maka kubukalah google map hehehe.... Ehime Prefecture terletak di pulau Shikoku, jauuuhhhh dari Tokyo. Jadi jangan mengira kalo aku berada di kota besar yaaaaa hehehe....

Yang mau aku ceritain pertama apa ya.... hmmm..... proses awalnya dulu aja yah.... Jadi begini ceritanya....

Awalnya pas pertama kali menghadap dosen pembimbing beliau udah ngasihtau kalo akan ada program ke Jepang kalo mau analisis sampelku disana. Sampel untuk keperluan tesisku ya. Lalu beberapa bulan kemudian, sekitar bulan Mei atau Juni lah ya, dosen pembimbing kirim sms yg isinya agar aku kirim abstrak tesis, kalo memang berniat ikutan student exchange. Tergopoh2 (halah) aku membuat abstrak itu dengan disupervisi teman kantorku. Lalu siang itu juga dengan mengucap bismillah aku klik tombol send di emailku kepada dosenku yang isinya abstrak dan cv ku.


Mejeng di KLIA
Suatu hari di bulan Ramadhan, datanglah sms dari dosenku yang isinya pemberitahuan bahwa aku diterima!!!! Alhamdulillah, bisa ke Jepang juga gratisan hehehehe... Ga juga sih, tetep tombok dikit2 lah wkwkwk......

Tanggal 3 November adalah tanggal keberangkatanku bersama 2 orang teman dr ITB juga. Agak2 sedih juga sih ninggalin suami untuk waktu yang lama, hampir 2 bulan. Kan belum pernah berpisah dari suami dengan waktu lama seperti kali ini (cieeeeee). Lanjoottttttt...... Pagi itu di terminal 3 bandara Soetta, diawali dengan candaan dari petugas imigrasi (halah), lalu kami bertolak ke Kualalumpur untuk transit selama 5 jam. Di pesawat awalnya tidur tp trus ngobrol2 dengan penumpang di sebelah, dan akhirnya mendapatkan info biro travel yg ga ada salahnya untuk dicoba pada rencana liburan selanjutnya hehehe....

Tiba di KLIA, cari sarapan, di McD hahaha.... Abis bingung mo makan apa hehe. Jadilah nongkrong di McD sekalian lunch. setelah itu sholat dan menuju ruang tunggu untuk berangkaatttt ke Jepang!!!!


Selfie di pesawat hehehe
Perjalanan di udara yang terlama yang selama ini aku lakukan, dengan naik pesawat low cost --tanpa menyebut merk tp mungkin kalian tau yg kumaksud-- tanpa ada makanan gratis, menikmati negeri diawan di siang hari sampe sunset dan akhirnya gelapp.

Sekitar jam 10an malam waktu setempat, mendaratlah kami di Bandara KIX di Osaka. Tapi perjalanan belum usai, sodara. Masih butuh sekitar 6 jam untuk sampai di kota Matsuyama, Ehime Prefecture, dengan menggunakan bis. Karena satu2nya pesawat ke Matsuyama (Peach Airline) hanya ada di jam 20.30, maka ga mungkin kami naik pesawat.
Negeri di awan di siang hari
Senja di angkasa
Maka pilihannya adalah naik bis keesokan harinya. Maka malam itu kami bermalam di bandara. Don't worry be happy, banyak kok yang tidur di bandara hehehe... Tuh liat aja di gambar sebelah.

Pagi tanggal 4 November 2014 sekitar jam 6 kami turun ke lantai 1 bandara dan membeli tiket pake mesin. Maklum baru pertama kali nih, jd ya perlu diceritakan lahhhh... memang terdengar ndeso tapi biarlah hahaha....
 
Bis pertama yang kami naiki menuju Stasiun Namba, seharga 1000 yen. Menikmati sunrise di Jepang pertama kalinya, serta jalanan yg sepi dan jauh dari kata macet. Mungkin karena masih pagi, atau memang seperti begitu adanya disini.

Sekitar 50 menit bis tiba di Namba, lalu dengan sedikit berlari aku mencari loket untuk membeli tiket ke Matsuyama karena info dari kawan bahwa bis akan berangkat pada jam 7.25. Kalo sampe ga dapet yg jam segitu harus menunggu sekitar 2 jam lagi. Alhamdulillah masih sempat dapat tiket utk jam tersebut, gak lama kemudian kami pun sudah berangkat. Bisnya enak, kursinya satu2, jadi nyaman lah.

Sekitar jam 1 siang kami sampai di Stasiun Matsuyama dan dijemput oleh 2 org kawan dan Sensei kami. Lalu kami diantar ke Miyuki Dormitory, tempat tinggal kami selama disini (liat buletan biru di peta di bawah). Setelah dikasih tau peraturan dll oleh pengelola asrama, Sensei meninggalkan kami dan kami pun berkesempatan untuk sholat dan diantar belanja oleh kawan2.

Gitu deh ceritanya perjalananku ke Jepang untuk yg pertama kalinya. Masih akan ada cerita2 berikutnya kok, dengan foto2 lainnya tentunya.....