Jumat, 19 Agustus 2011

Resensi - Alita dan Cinta Selanjutnya

Lanjutan dari novel Alita @ First nihhh (http://inamoechsin.blogspot.com/2011/03/resensi-cinta-sejati-alita.html)
Tapiiii kok rada mengecewakan yaaaa, ngga se-seru sekuelnya yang pertama. Kurang mengharu-biru, agak mudah ditebak, ngga ada kejutan2 yang gimanaaaa gituu... But anyway, tetep ngga rugi lah bacanya.
http://suar.okezone.com/read/2011/08/19/285/493783/alita-dan-cinta-selanjutnya

Judul Buku : ALITA @ HEART
Pengarang : Dewie Sekar
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Kedua, Juni 2011
Tebal : 448 halaman

Selesai membaca sekuel pertamanya, Alita @ First, yang mengharubirukan saya, sekuel selanjutnya sangat saya tunggu-tunggu. Namun karena saya sudah mulai jarang berburu ke toko buku, baru sekaranglah saya menemukan lanjutan kisah Alita dalam mencari cintanya yang baru. Walau sepertinya Alita tidak bermaksud untuk mencari cinta yang baru dan memang tidak mau melupakan Erwin, cinta sejatinya.

Setelah saya selesai membaca, entah mengapa rasa penasaran dan ketertarikan yang awalnya menggebu-gebu, jadi memudar. Cerita Alita saya rasakan jadi hampir sama dengan novel kebanyakan. Apa karena kisahnya Alita kali ini tidak saya alami seperti pada novel yang pertama? Atau karena jalan ceritanya lebih mudah ditebak daripada sekuel pertamanya? Mungkin saja.

Tetapi tetap saja novel Dewie Sekar ini cukup menarik. Dimulai dari dua tahun sejak meninggalnya Erwin (baca resensi Cinta Sejati Alita http://suar.okezone.com/read/2010/05/10/285/331102/cinta-sejati-alita), Alita melanjutkan hidupnya dengan bekerja di kantor mas Yusa, kakaknya, dan mengajar privat. Mas Yusa juga makin sukses dengan perusahaan yang dia bangun, malah merambah ke bisnis dekorasi gedung pengantin. Sedangkan Abel, sahabat Alita, sudah putus dengan Juno, pacarnya, tetap membuka toko bunga yang letaknya tak jauh dari kantor mas Yusa.

Yang Mulia Mama, alias mamanya Alita, merasakan telah menua dan ingin segera melihat anak-anaknya menikah dan mempunyai anak. Namun Mama tidak tahu bahwa Alita masih selalu mengingat dan memikirkan Erwin yang telah tiada. Malah Mama mengira Alita menyembunyikan hubungannya dengan seorang duda karena takut Mama tidak setuju.

Selanjutnya alur cerita novel ini cukup mudah ditebak. Munculnya tokoh baru bernama Gading yang seorang duda baru dan sering menyambangi Abel ternyata membuat perasaan mas Yusa tidak tenang. Mulai terbaca siapa menyukai siapa, dan kira-kira siapa yang memikat hati Alita. Di sisi lain, sudut pandang dari beberapa tokoh cukup menarik, membuat pembaca lebih memahami karakter dari masing-masing tokoh tersebut.

Penasaran dengan akhir kisahnya, atau ingin membuktikan tebakan Anda? Selamat Membaca!!


Kamis, 18 Agustus 2011

Mencintai yang Lain

Hmmm...... Mulai dari mana ya??

Aku dapet ide nulis ini karena lagi dapet curhatan teman tentang topik ini. Dalam sebuah rumahtangga, tentu hal semacam ini wajib hukumnya untuk dihindari kan? Toh dulu kita sendiri yang memilih suami kita (kecuali yang dijodohkan), mungkin malah dengan perjuangan yang berat karena tidak mendapat restu orangtua, misalnya. Atau karena ada perbedaan agama, ataupun masalah2  lainnya.  Masak iya, sekarang setelah beberapa tahun menikah lalu bisa tertarik dengan pria  lain?

Tapi ternyata memang ada yang seperti itu kan? Saya mendengar langsung dari dua orang teman (alhamdulillah mereka masih memegang teguh pernikahannya, tidak mudah tergoda bujukan setan), bahwa mereka sedang terjebak dengan cinta yang lain.

Yang pertama, seorang ibu rumahtangga dengan seorang pria yang cukup sering ditemui. Saat itu posisi saya sebagai seorang single, diberi cerita tentang si dia. Mengingat sejarah perjuangannya yang panjang, saya hanya bisa berkata, "Kok bisa begitu? Lupakan dong, hapus perasaan itu". Lalu saya dijawab, "Kamu blom pernah ngrasain sih. Liat aja ntar kalo kamu udah nikah". Waduh, kok malah disumpahin yak? Tapi gak papa, aku udah dua kali ini disumpahin ma dia, semoga saja tidak terkabul hehehe....

Yang kedua, seorang wanita karir dengan kawan kantornya. Dan posisi saya sebagai seorang double alias menikah.  Nahhhh ini yang susahhhh.... Mau disuruh ngelupain, susah karena tiap hari ketemu di kantor. Kalo dikasih saran jawabnya, "Kamu nggak ngrasain sihh". 

Lahhh apa aku harus ngerasain biar boleh kasih saran? Aku cukup melihat dari keadaan rumahtangga teman yang pertama. Memang sih tidak ada kehancuran pernikahan, namun aku tau rasa percaya pada pasangan telah berkurang, sehingga menimbulkan kecurigaan yang tidak perlu.

Sekarang aku melihat pada diriku sendiri, pernahkah aku mempunyai cinta pada yang lain? Jujur nih yaaaa..... Aku masih suka ngeliat cowok cakep, hehehe.... Tapi untungnya yang aku lihat itu bukanlah orang yang sering berkomunikasi denganku, bukan teman sekantor, apalagi tetangga. Jadi lebih mudah mencegah timbulnya perasaan yang dinamakan cinta. Kalo ngeliat "Ihh tuh cowok cakep amat yakk", wajar kali yakkk... Lha wong punya mata kok, dan tuh cowok emang cakep, masak bilang jelek. Lagian kan hanya sebatas itu.

Lha trus gimana dong kalo ternyata ada yang tidak hanya sebatas itu? Kadang orang bilang bahwa perasaan itu datang sendiri tanpa diminta. Mungkin diawali rasa kagum, ataupun mendapati sisi lain dari si dia yang tidak dipunyai oleh suami. Bagaimana kita bisa terlepas dari hal itu?

Dengan sok tau aku akan berkata, bahwa perasaan itu muncul dari setan. Setan kan suka mencari celah kelemahan manusia. Setan ngga suka manusia selalu berjalan di lintasan yang lurus. Jadi lawan perasaan itu sekuat tenaga, jangan selalu melihat kelebihan si dia yang suami ga punya, karena tetap saja lebih banyak kelebihan yang suami punyai. 

Trussss, ingat2 lagi saat pertama bertemu dengan suami, bagaimana kita jatuh cinta padanya, bagaimana dia yakin bahwa kita adalah pilihannya, bagaimana dia membuat kita tertawa, bahagia, bagaimana perjuangan menuju pernikahan, bagaimana mendampingi suami dalam semua keadaan. Maka insyaAllah akan timbul rasa kebanggaan bahwa kita telah menjadi sistem pendukung bagi suami.

Yang paling penting, selalu ingat bahwa Allah Maha  Mengetahui. Mempunyai perasaan pada yang lain memang suami belum tentu tau, tapi  Allah pasti tau. Jika masih punya rasa takut pada Allah, berusahalah menghapus perasaan yang tidak seharusnya diberikan pada yang lain.

Hmmm apa lagi ya? Ada lagi yang mempunyai ide? Jangan sungkan untuk mengatakannya padaku ya...

Memang aku belum pernah mengalami hal ini, semoga saja tidak pernah. Kalopun mengalami, semoga diberikan keyakinan yang teguh agar selalu mengingat Allah, dan keluarga. Amin.

Cerita - MARRIAGE

Gak sistematis bener yakk hehehehe. Harusnya bikin ini duluuuuu baru nulis yg "Anniversary". Tapi sudahlahh, ga ada aturan baku ini...

Awalnya aku hanya pengen bikin tulisan tentang ulangtahun pernikahan orangtuaku dengan menghubungkan masalah pernikahan yg dihadapi beberapa teman. Tapi lalu aku menyadari bahwa ada lagi teman mempunyai masalah berbeda namun terkait dengan pernikahan, membuat aku tertarik untuk mengupasnya dan berbagi pemikiran mengenai hal-hal seputar masalah pernikahan yang bisa saja terjadi dalam rumahtangga siapapun. Aku ga bermaksud membuka aib siapapun, aku tidak akan menyebut nama, tetapi jika ada yg merasa bahwa itu kisahnya, bisa saja itu kisahmu atau kisah teman yang lain yang serupa dengan kisahmu. Jadi sebelumnya aku minta maaf jika menimbulkan ketidaknyamanan.

Membicarakan masalah2 seputar pernikahan bukan berarti aku adalah  ahli di bidang ini. Pernah aku katakan sebelumnya bahwa pernikahanku pun tidak sempurna, pasti pernah ada masalah di dalamnya. Aku hanya ingin membahas dari sudut pandangku, berdasarkan pengalaman melihat pernikahan orang lain atau punyaku sendiri, ataupun dari buku2 yang aku baca. Jika Anda ngga setuju dengan apa yang aku tulis, jangan ragu untuk berdiskusi denganku.

Selasa, 16 Agustus 2011

Resensi - Childless is Not A Sin, Right?

Resensi yang terbaruuu hehehe.... Berawal dari teman di grup FB AIH (Aku Ingin Hamil) yang posting di wall grup mengatakan ada buku yang bagus, yang isinya kurang lebih sama dengan yang kami alami, yaitu belum juga memiliki anak. Tapi karena jarang ke Gramedia, akhirnya baru bulan kemaren menemukan buku ini. Mulai dibaca, mulai ketawa sendiri, ada yg lucu, ada yg nggemesin, bikin sebel  dan lain2. Jadi berasa pengen ngajakin Tata masuk grup AIH hehehe....
Judul Buku : TESTPACK
Pengarang : Ninit Yunita
Penerbit : Gagas Media
Cetakan    : Kesembilan, 2011
Tebal : xiv + 202 halaman

Novel ini memang bukan novel baru, karena pertama kali dicetak tahun 2005. Namun sepertinya novel ini juga laris manis, terbukti di tahun 2011 ini sudah memasuki cetakan kesembilan. Dan jujur harus saya akui, saya termasuk telat membaca karya Ninit Yunita ini. Jika bukan karena beberapa kawan yang merekomendasikan novel ini di sebuah grup Facebook, saya belum mulai memburu buku ini. Jangan salah, bukan grup Facebook mengenai pecinta novel atau sastra yang anggotanya menganjurkan kami membacanya, melainkan grup yang berisikan wanita-wanita menikah yang belum berhasil mempunyai anak (Grup Aku Ingin Hamil).

Mengapa novel ini menarik bagi kami? Tentu saja karena penantian Tata dan Rahmat juga kami alami. Kegelisahan Tata melihat sahabatnya sudah memiliki anak dan bahkan sedang hamil anak kedua, juga kami rasakan. Usaha-usaha yang dilakukan Tata dan Rahmat demi mendapat, pun kami lakukan. Jadi membaca novel ini bak membaca kisah hidup kami sendiri.

Ninit Yunita mampu menangkap kegelisahan, kecemasan, serta masalah-masalah seputar pasangan yang belum mempunyai keturunan. Terutama di pihak wanita, karena terkadang wanita begitu sensitif dan mudah sedih jika disinggung mengenai belum hadirnya buah hati di tengah-tengah keluarganya. Belum lagi jika ada tambahan pengharapan dari orangtua atau mertua yang juga mendamba kehadiran cucu. Tambah lagi tekanan jika si suami atau si istri atau bahkan dua-duanya adalah anak sulung dan orangtua/mertua makin menua.

Tekanan juga bisa datang dari dalam rumahtangga itu sendiri, jika telah diketahui dari pemeriksaan dokter bahwa salah satu pasangan mempunyai masalah kesuburan. Begitu juga yang terjadi dalam rumahtangga Tata dan Rahmat. Tujuh tahun menanti, usia mereka di angka kepala 3, mereka memutuskan untuk ke dokter. Hasil laboratorium menunjukkan bahwa sperma Rahmat bermasalah. Disitulah ujian rumahtangga yang selanjutnya. Apa yang akan Anda lakukan jika ternyata pasangan Anda yang bermasalah kesuburannya? Apakah Anda akan tetap setia padanya, ataukah Anda akan melangkah pergi dan mengakhiri rumahtangga Anda untuk mencari pasangan lain yang subur? Disini diceritakan bahwa Tata pergi, kembali ke rumah orangtuanya.

Dan bagaimanakah selanjutnya? Apakah Tata pergi untuk selamanya, ataukah pergi untuk kembali lagi dalam  pelukan Rahmat? Apakah tujuan utama pernikahan adalah anak? Jika Tuhan tidak memberikan anak, apakah pernikahan akan hancur dan pasti tidak bahagia? Apakah tidak memiliki anak adalah sebuah dosa padahal semua yang kita miliki di dunia ini adalah milik Allah? Maka kembalilah merenungi diri, lihat ke dalam hati yang paling dalam, mengapa dulu memilih dia sebagai pasangan Anda? Apakah karena Anda ingin hidup dengannya dan tua bersamanya? Atau Anda ingin membuat pabrik anak bersamanya?

Jika boleh saya mengutip cover belakang novel ini:

Will you still love them, then?
That’s why you need commitment
Don’t love someone because of what/how/who they are
From now on, start loving someone,
Because you want to


Bahkan ada yang memberikan komentar ”Jangan kawin dulu sebelum baca buku ini”, agar Anda benar-benar mengerti apa yang Anda inginkan dan Anda harapkan dalam rumahtangga Anda kelak. Selamat membaca!!

Anniversary

Hari ini tepat tanggal 16 Agustus 2011, adalah ulangtahun pernikahan orangtuaku yang ke-41. Angka yang sangat banyak kan? Tinggal 9 tahun menuju ke angka 50, pernikahan emas. Sepertinya begitu indah dan membahagiakan melihat dua orang menikah dan menua bersama. Tapi ternyata tidak demikian bagi yang menjalani. Aku sebagai anak bungsu orangtuaku, cukup tau dan paham gejolak emosi, airmata dan bahagia yang mengiringi perjalanan panjang itu. Namun alhamdulillah entah dengan kekuatan apa, yang pasti atas ridho Allah SWT dan terciptanya sakinah-mawaddah-warahmah, semua masalah bisa selesai ataupun diredam.

Lalu, aku melihat di TV. Berita artis menikah, lalu setahun, 3 tahun, bahkan mungkin 10 tahun kemudian bercerai. Alasannya bermacam2, ketidakcocokan, perbedaan prinsip, selingkuh, de el el. Mudah sekali ya mereka berpisah dengan seseorang yang pastinya dulu mereka cintai. Seolah tampak kalau mereka tidak mau susah payah berusaha mempertahankan pernikahannya. Membuat aku memandang skeptis jika melihat artis yang baru saja menikah, akan mencapai usia berapa tahunkah mereka sebelum akhirnya berpisah?

Lalu ada lagi, di sebuah grup, ternyata banyak yang mengeluhkan rumahtangga mereka, baik sikap/sifat suaminya, sikap mertuanya, kadang sikap ipar ataupun saudara2 mertua yang membuat kawan2ku sedih, terluka dan berfikir apakah akan diteruskan pernikahan itu padahal baru saja berjalan setahun. Bahkan ada beberapa kawan yang akan berpisah alias bercerai. Naudzubillahi min dzalik.

Ibuku sering berkata, bahwa awal pernikahan, hingga usia 5 bahkan 10 tahun nikah, itu adalah masa2 rawan. Mungkin karena kita tadinya hidup sendiri, memutuskan segala sesuatu sendiri, mau pergi tinggal pergi, tiba2 ada orang lain yang harus kita perhatikan dan hargai. Ingin pergi ke mall, ehh suami pengen tidur. Ngajak nonton ke daerah A, suami ngga mau karena kejauhan. Atau ada acara dengan teman/keluarga, suami ngga mau diajak, masih banyak hal ketidaksesuaian antara kita dengan suami. 

Dan itu wajar kan? Dua orang dengan latar belakang berbeda, dibesarkan dengan cara yang berbeda, mempunyai sifat berbeda, latar belakang pendidikan juga mungkin berbeda, banyak sekali perbedaannya. Tapi bukankah justru itu menjadikan menarik sekaligus tantangan? Ada proses penyesuaian disitu, bagaimana kita sabar dan berusaha meredam emosi. Dan penyesuaian itu tidak ada batas waktunya, penyesuaian bisa terjadi seumur hidup kita. Lihat saja orangtua kita yang sudah mulai senja, pasti masih saja ada hal2 yang mereka perdebatkan, mereka permasalahkan.

Tapiiiiii jangan mulai membandingkan suami kita dengan pria lain. Entah itu mantan kekasih kita, cowok yang dulu kita sukai, apalagi dengan suami orang. Terima suami apa adanya, toh dulu kita yang memilih dia menjadi suami kita. Jangan karena melihat suami si A romantis, lalu memaksa suami menjadi romantis. Atau suami si B pintar masak, lalu meminta suami turun ke dapur hehehe. Di satu sisi mungkin dia tak sesempurna suami si A atau si B, tapi di sisi lain pasti banyak kelebihan suami yg tidak dimiliki suami si A atau B.

Dengan aku menulis ini, bukan berarti rumahtanggaku sempurna tanpa cela. Aku akui kami masih suka berbeda pendapat, berdebat, kadang ada hal2 yang akhirnya membuatku menangis. Tapi aku bersyukur mempunyai suami yang luar biasa sabar, menghadapi emosiku yang masih suka meledak-ledak, menerima aku apa adanya (kadang2 gitu, tapi kadang2 juga minta aku nurunin BB, what!!). Dan aku berdoa semoga tidak akan terjadi badai besar dalam perjalanan kami, kalaupun ada badai aku berdoa semoga kami bisa melewatinya dengan selamat. Agar bisa tercapai juga  angka 41 seperti orangtuaku, bahkan 50 ataupun 100 jika Allah mengijinkan. Amin amin ya robbal 'alamiin.




Senin, 11 April 2011

Resensi - Man Jadda Wajada

Harusnya  resensi ini aku posting duluan sebelum resensi Ranah 3 Warna yak hehehehe.... But it's ok lah yaaa...

http://international.okezone.com/read/2009/12/14/285/284818/man-jadda-wajada

Judul Buku: NEGERI 5 MENARA
Pengarang: A Fuadi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Ketiga, Oktober 2009
Tebal: 420 halaman

Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil, begitulah arti dari judul di atas. Kalimat itu ditanamkan pada hati setiap murid baru di Pondok Madani (PM), agar selalu teguh dalam memperjuangkan sesuatu. Selain itu Kiai Rais, pemimpin PM, juga telah menanamkan bahwa segala sesuatu harus dilakukan dengan rasa ikhlas. Para santri ikhlas untuk diajar, para ustaz juga ikhlas untuk mengajar.

Dikisahkan Alif dari sebuah desa di pinggir Danau Maninjau, Sumatera Barat, terpaksa mengikuti keinginan amaknya untuk bersekolah di sekolah agama. Cita-citanya untuk masuk ke SMA biasa dan melanjutkan kuliah di ITB agar sepintar Habibie pun kandas. Terdorong oleh surat pamannya yang menyebutkan bahwa ada pondok pesantren yang bagus di Jawa Timur, maka berangkatlah Alif ke sana.

Ternyata pilihannya tidak salah. PM bukanlah pondok pesantren biasa. Di sana para santri bebas mengembangkan bakatnya misalnya di bidang seni, jurnalistik atau olahraga. Hukuman jewer berantai mempunyai hikmah bagi Alif. Karena dari situlah dia mulai bersahabat dengan Raja, Atang, Baso, Said, dan Dulmajid. Mereka mempunyai tempat berkumpul di bawah menara masjid, sehingga mereka dijuluki sebagai Sahibul Menara, yang punya menara.

Disitu mereka biasa merebahkan tubuh dan memandang awan-awan di langit. Alif melihat awan itu berbentuk benua Amerika, tetapi Raja melihat awan itu berbentuk benua Eropa. Atang menginterpretasikan awan itu berbentuk daratan Timur Tengah, sedangkan Dulmajid dan Said melihat awan itu berbentuk negara Indonesia.

Hari demi hari dilewati, bulan demi bulan juga berlalu. Alif mulai menikmati keberadaannya di PM ini, dan mengerti mengapa amak menginginkannya di sekolah agama. Namun surat-surat yang diterima dari Randai, sahabatnya, terkadang membuatnya iri dan menggoyahkan sikapnya. Randai yang bersekolah di SMA biasa selalu mengunggulkan SMA-nya dan menyayangkan keputusan Alif bersekolah di PM. Karena sedari duduk di bangku MTs, mereka sama-bercita-cita masuk ke SMA biasa dan kuliah di ITB, tempat pencetak para ilmuwan.

Awalnya semangat Alif akan berkobar lagi setelah mendengar motivasi dari Ustaz Salman, wali kelasnya. Namun setelah tiga tahun berada di PM dan mendengar kabar bahwa Randai telah diterima di ITB, cita-citanya yang dahulu berkobar lagi. Bahkan Alif berniat untuk keluar dari PM, mengikuti ujian persamaan SMA lalu mengikuti UMPTN. Hal itu sempat membuat sedih amak dan ayahnya. Namun akhirnya Alif luluh dengan keinginan ayahnya yang berjanji akan mendaftarkannya mengikuti ujian persamaan setelah selesai ujian akhir di PM.

Sementara itu Baso, sahabat sahibul menara yang berasal dari Gowa memutuskan meninggalkan PM hanya beberapa bulan sebelum ujian akhir. Keputusan itu dibuat karena dia baktinya pada sang nenek, sebagai pengganti orangtuanya yang sudah meninggal, yang sedang sakit parah. Beruntung tetangganya yang baik hati mempunyai informasi bahwa ada sebuah sekolah agama yang memerlukan guru bahasa Arab. Sehingga kepulangan Baso ke Gowa tidaklah sia-sia karena dia masih bisa mengamalkan ilmunya sekaligus menyelesaikan hafalan Alqurannya.

Memasuki tahun kelima para santri mulai dipupuk jiwa kepemimpinannya. Mereka diberi tanggung jawab sesuai dengan minat dan kemampuannya. Ada yang menjadi penggerak bahasa, penggerak disiplin, dan lain-lain. Sesuai dengan bakat dan minatnya di bidang jurnalistik, Alif dipercaya menjadi redaktur majalah Syams, majalah dwi bulanan milik PM.

Pendidikan di PM memang berbeda dengan pondok lainnya. Di sana santri diperbolehkan melakukan kegiatan di luar pelajaran agama, harus fasih berbahasa Arab dan Inggris, serta dilakukan dalam kedisiplinan tinggi. Terlambat masuk kelas atau masjid, walaupun hanya 5 menit, tetap mendapat hukuman. Bahkan Alif, Atang, dan Said walaupun telah duduk di tingkat terakhir juga tidak luput dari hukuman jika berbuat salah.

Novel ini begitu apik dalam mengisahkan persahabatan enam remaja yang bersekolah di Pondok Madani. Banyak hal dalam novel ini yang bisa kita ambil pelajarannya. Antara lain adalah menanamkan sifat ikhlas dan sikap untuk berusaha sungguh-sungguh untuk mencapai mimpi kita. Nilai tambah yang lain dari novel ini, penulis menggambarkan denah PM lengkap dengan keterangannya sehingga pembaca dengan mudah bisa membayangkan letak-letak bangunan yang disebutkan dalam novel, seperti masjid, aula, asrama Al-Barq, dll.

Novel ini ditulis terinspirasi oleh kisah nyata dari sang penulis yang dulu bersekolah di Pondok Modern Gontor. Negeri 5 Menara ini begitu menarik hati para pembaca terbukti sejak dicetak pertama kali di bulan Juli 2009, sekarang novel ini telah dicetak untuk yang ketiga kalinya.

Dengan semangat man jadda wajada, keenam sahibul menara berhasil mewujudkan cita-cita mereka yang dahulu mungkin dirasa tidak mungkin bisa tercapai. Semoga semangat itu bisa menulari para pembacanya, sehingga kita juga bisa meraih mimpi dengan berusaha sungguh-sungguh. Man jadda wajada!!

Ersina Rakhma
Penikmat Buku, Tinggal di Jakarta
(//mbs)

Resensi - Mantra Kedua

Resensi terbaru yang udah diunggah di www.okezone.com. Jika ada kritik dan saran jangan sungkan-sungkan lhooo....


Judul Buku : RANAH 3 WARNA
Pengarang : A. Fuadi
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Ketiga, Januari 2011
Tebal :    474 halaman

Lanjutan dari kisah Alif Fikri yang telah lulus dari Pondok Madani (PM) ini sudah saya tunggu-tunggu sejak selesai membaca Negeri 5 Menara, namun baru sempat saya baca selama dua hari ini. Novel ini tentu saja juga ditunggu-tunggu oleh semua penggemar terbukti dari buku yang saya beli sudah mencapai cetakan ketiga di bulan yang sama sejak dicetak yaitu Januari 2011.

Alif yang baru saja lulus dari PM mulai membuat rencana untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang telah ia pupuk dengan semangat ”man jadda wajada”. Setelah dia berhasil lulus ujian persamaan SMA, maka mimpi selanjutnya adalah menembus UMPTN di ITB mengikuti idolanya, Habibie. Namun Alif harus bisa menerima kenyataan bahwa waktunya tak cukup banyak untuk mempelajari materi UMPTN jurusan IPA. Maka dengan besar hati Alif membanting stir berusaha keras untuk menembus Universitas Padjajaran (UNPAD) jurusan Hubungan Internasional, dengan harapan dia bisa mewujudkan mimpinya yang lain yaitu bisa berkeliling dunia.

Hidup takkan berwarna jika tanpa masalah. Jalannya perkuliahan Alif yang kurang mulus di awal kuliah makin tersendat saat Alif menghadapi kenyataan bahwa ayahanda tercintanya harus pergi menghadap Illahi. Alif tidak mau membebani Amaknya yang masih harus membiayai sekolah kedua adiknya, maka dia bertekad untuk bekerja agar bisa mandiri. Menjual barang dan mengajar les privat menjadi pilihan awalnya. Namun ternyata malah membuat dia terkapar sakit.

Di saat sakitnya itulah dia menyadari bahwa ”man jadda wajada” tidaklah cukup jika tidak disertai dengan ”man shabara zhafira”. Siapa yang sabar dia akan beruntung. Jadi sabar itu bukan berarti pasrah, tapi sebuah kesadaran yang proaktif. Dan sesungguhnya Allah itu selalu bersama orang yang bersabar (halaman 129).

Alif pun teringat saat dia digojlok bang Togar, pemimpin redaksi koran kampusnya yang telah artikelnya selalu dimuat di koran nasional. Waktu itu dia merasa sudah cukup sekali saja diperlakukan oleh Togar seperti itu. Lalu Alif menyadari bahwa seharusnya dia lebih bisa bersabar dalam menerima tempaan agar mampu menjadi penulis yang handal. Maka dengan kesungguhan dan kesabarannya akhirnya Alif berhasil dan beruntung karena perlahan-lahan artikelnya mulai diperhitungkan baik di koran lokal maupun koran nasional.

Mimpi-mimpi Alif tidak berhenti sampai di sini, namun dia selalu berani berusaha mewujudkannya dengan berusaha disertai bersabar hingga dia bisa menginjakkan kakinya di 3 ranah yang berbeda, Bandung, Yordania, dan Kanada.

Dalam menempuh ranah 3 warna ini, Alif bertemu begitu banyak orang yang berbeda ras dan kebudayaan. Teman-temannya dari Kanada, orangtua angkatnya di Saint Raymond, orang Indian, dan seorang gadis yang membuat hatinya tak karuan, Raisa.

Membaca kisah ini penuh dengan tawa, haru, cinta dan inspirasi pembangkit semangat. Terutama di saat ayah Alif meninggal dan dimakamkan entah mengapa saya begitu meresapi kesedihan itu hingga saya ikut menangis. Kemudian di saat Alif mendapat pengalaman pertukaran pelajar dan bersahabat dengan Rusdi, kelucuan mahasiswa asal Kalimantan itu mengakrabkan para mahasiswa peserta dari Indonesia. Dan kegigihan Alif agar bisa terpilih pada program pertukaran pemuda serta tekadnya agar bisa mendapatkan medali emas tentu saja memberikan inspirasi pada kita sebagai insan yang selalu ingin mengembangkan potensi diri.

Lagi-lagi Ahmad Fuadi menuliskan novel ini dengan bahasa lugas dan populer. Kecintaannya pada daerah asalnya yaitu Sumatera Barat mewarnai novel ini dan membuat pembaca lebih memahami salah satu kekayaan budaya asli Indonesia.

Jika Anda masih mempunyai mimpi, dan semestinya kita mempunyai mimpi, jangan takut mewujudkannya. Karena sesungguhnya Allah bersama orang yang mau berusaha dan bersabar. Man jadda wajada!! Man shabara zhafira!!

Ersina Rakhma
Penikmat Buku, Tinggal di Jakarta