Priority, atau bahasa kerennya "prioritas". Agak serius nih corat-coretnya.
Berawal dari beberapa menit yang lalu aku membuka tautan link di sebuah grup facebook tentang PCO (apa itu PCO browsing sendiri yaa :D). Link blog itu tidak lain tidak bukan milik salah seorang teman lamaku yg jg anggota grup tersebut. Dia mengunggah informasi biaya inseminasi. Saat aku buka2 blognya memang banyak tulisannya mengenai baby program.
Aku bukan mau ngobrolin soal blognya. Yang muncul di pikiranku adalah, betapa gigihnya dia dalam berikhtiar untuk mendapatkan si kecil. Berapa kali dia insem, atau hamil namun masih gagal. Lalu aku berkaca pada diriku sendiri, sudah sejauh mana sih ikhtiarku?
Inilah yang akhirnya aku sebut prioritas. Setiap orang mempunyai prioritasnya masing2. Baby program memang salah satu prioritasku, aku dan dokterku sudah menyusun rencana tahapan treatment yang akan kami lakukan. Namun ternyata kuasa Allah bicara lain. Tahun kemarin berencana insem, sudah dapet 6x suntikan puregon, eehhhh kok ndilalah ketularan gondongen dari suami. Akhirnya rencana insem harus dihentikan dulu.
Next plan for insem adalah awal tahun ini, mumpung udah UAS dan teori udah abis. Tapi aku berencana setelah pelaksanaan ekskursi regional. Setelah ekskursi tenyata mendekati bulan puasa, suami menyarankan lebih baik setelah lebaran. Ternyata menjelang lebaran mendapat kabar bahwa aku mendapatkan program student exchange ke Jepang. Maka rencana berubah lagi setelah aku pulang dari Jepang.
Ternyata salah satu prioritasku masih dikalahkan oleh prioritas lain. Ya, saat ini aku memilih untuk berkonsentrasi menyelesaikan kuliahku. Apakah aku ga pengen menjalankan baby program lagi? Jawabannya tentu iya. Tapi mungkin tidak dalam waktu dekat. Apakah ga ada rasa iri melihat teman yg lain masih getol berikhtiar sementara aku belum lagi menyambangi dokter? Jawabannya tetap iya. Namun prioritas setiap orang berbeda-beda.
Terkadang saat berseluncur di facebook, membaca berbagai macam status dari berbagai teman, dapat terbaca prioritas mereka. Di saat beberapa teman memamerkan anak2nya, atau cemas akan anak2nya, atau berbagi ilmu yg berkaitan dengan anak2, aku memamerkan suasana Jepang. Di saat beberapa teman memasang foto testpack bergaris dua, aku memasang foto alat di laboratorium disini. Di saat teman mengeluhkan atau mengkhawatirkan soal anaknya atau kehamilannya, aku mengkhawatirkan tesisku kapan selesai.
Ya, setiap orang mempunyai prioritas masing2. Hidup adalah soal pilihan. Mana yang akan kita dahulukan, dan mana yang akan kita kerjakan kemudian.
Mencoba mencoretkan pena, menuliskan apa saja yg aku alami atau yg aku hasilkan...
Kamis, 11 Desember 2014
Sabtu, 29 November 2014
Student Exchange part 2 -- How to Adapt
Tuh kaannn.... kalo lagi in a good mood ya gini nihhh. Bisa corat-coret teruuusssss.... Xixixixi.... Sekarang mau crita gimana hari2 pertama tinggal di Matsuyama ini. Kesan pertamaku untuk kota ini adalah.... Kotanya kecil yak hehehe. Gak ada macet, cuman antri teratur ajahh.
Hal lain yg baru buatku adalah.... memilah sampah sebelum dibuang. Oke oke, di lingkungan rumahku sih sebenarnya udah ada kegiatan memilah sampah ajah. Cuman karena belom wajib, jadi ya males ajah wkwwkwk (piss bu RT). Pokoknya pisahin antara sampah plastik, sisa makanan, trus yg bisa dibakar, sama botol yg ada tanda PET nya.

Hal lainnya adalah soal transportasi. Sejak sebelum berangkat, sekretaris sensei-ku udah ngasih tau kalo nanti akan disewakan sepeda. Alamakk, terakhir naik sepeda mungkin 10 tahun yg lalu ya, dengan kemampuan yg sudah menurun banyakkk dibanding jaman SMP. Dulu sih pas SMP masih lancar dan gesit bersepeda kemana2, lah sekarang??? Hahahaha... Dan lihatlah sepeda itu kawan... Entah berapa tahun umurnya, tapi bisa kupastikan tidak setua aku hehehe.... Awal dapet pinjeman sepeda yaaa lumayan lah bisa menyesuaikan. Tapi pas hujan turun di hari minggu padahal janjian ma temen kampus mo ke student festival, gak bisa kemana2 lah kami. Dan orang2 disini dengan luwesnya naik sepeda dengan setang di tangan kiri dan payung di tangan kanan. Mungkin seluwes orang2 di Jakarta yang ahli naik motor sambil sms-an. Hahahaha.....
Tapi lama kelamaan ya mulai lancar lah ya nyepedanya. Ke kampus, belanja, makan, wisata semuaaaaa naik sepeda. Belanjaan bisa ditaruh di keranjang depan tuhh. Jadi berpikir mungkin perlu beli sepeda ntar kalo udah pulang ke Jakarta hahahaha.....
Datang ke Jepang di bulan November artinya menikmati musim gugur sebelum beralih ke musim dingin. Di siang hari temperatur berkisar 20 derajat, awalnya ya berasa dingin. Tapi sekarang udah mulai terbiasa, hahaha gayaaaaaa. Kalo lagi mendung atau hujan paling dingin di suhu 15. Malam hari suhu terendah pernah sampe 6 derajat, dingin bangetttt.... Tapi pernah juga di suhu 17, seperti malam ini.
Musim gugur itu yg bikin indah disini adalah pohon momiji. Daunnya akan berubah warna sebelum akhirnya berguguran. Coba tuh liat foto di atas, masih ijo kan warnanya.... Trus coba deh liat deh foto yg di samping kanan nih. Warnanya mulai menguning dan merah. Bagus yaaaaaa...... Langitnya juga pas biruuuuu.... Jadi pengen nyanyi.
Walau kau kini jauh disana, kita memandang langit yang sama. Jauh di mata namun kau dekat di hati.............
Hal lain yg baru buatku adalah.... memilah sampah sebelum dibuang. Oke oke, di lingkungan rumahku sih sebenarnya udah ada kegiatan memilah sampah ajah. Cuman karena belom wajib, jadi ya males ajah wkwwkwk (piss bu RT). Pokoknya pisahin antara sampah plastik, sisa makanan, trus yg bisa dibakar, sama botol yg ada tanda PET nya.

Hal lainnya adalah soal transportasi. Sejak sebelum berangkat, sekretaris sensei-ku udah ngasih tau kalo nanti akan disewakan sepeda. Alamakk, terakhir naik sepeda mungkin 10 tahun yg lalu ya, dengan kemampuan yg sudah menurun banyakkk dibanding jaman SMP. Dulu sih pas SMP masih lancar dan gesit bersepeda kemana2, lah sekarang??? Hahahaha... Dan lihatlah sepeda itu kawan... Entah berapa tahun umurnya, tapi bisa kupastikan tidak setua aku hehehe.... Awal dapet pinjeman sepeda yaaa lumayan lah bisa menyesuaikan. Tapi pas hujan turun di hari minggu padahal janjian ma temen kampus mo ke student festival, gak bisa kemana2 lah kami. Dan orang2 disini dengan luwesnya naik sepeda dengan setang di tangan kiri dan payung di tangan kanan. Mungkin seluwes orang2 di Jakarta yang ahli naik motor sambil sms-an. Hahahaha.....
Tapi lama kelamaan ya mulai lancar lah ya nyepedanya. Ke kampus, belanja, makan, wisata semuaaaaa naik sepeda. Belanjaan bisa ditaruh di keranjang depan tuhh. Jadi berpikir mungkin perlu beli sepeda ntar kalo udah pulang ke Jakarta hahahaha.....| Pohon momiji di awal aku dateng, masih berwarna hijau |
![]() |
| Pohon momiji yang aku foto hari kamis kemarin |
Walau kau kini jauh disana, kita memandang langit yang sama. Jauh di mata namun kau dekat di hati.............
Student Exchange part 1 -- Perjalanan
Lama gak corat coret disini ya..... almost a year. Kebiasaan lama emang susah diubah... Di satu waktu antusias terhadap sesuatu trus lama2 jadi males sendiri hehehe.... Oke, cukup sudah membuka kelemahan2ku hahaha....
Judulnya menarik ga sih... student exchange... alias pertukaran pelajar (dalam hal ini mahasiswa ya). Iyaa bener.... sekarang aku lagi di Jepang loohhh, untuk student exchange di Ehime University. Pasti sebagian besar dari kalian mengerutkan dahi.... Dimana ya Ehime itu? Sama denganku pas pertama kali tau kalo di Ehime lah aku akan menuju. Maka kubukalah google map hehehe.... Ehime Prefecture terletak di pulau Shikoku, jauuuhhhh dari Tokyo. Jadi jangan mengira kalo aku berada di kota besar yaaaaa hehehe....
Yang mau aku ceritain pertama apa ya.... hmmm..... proses awalnya dulu aja yah.... Jadi begini ceritanya....
Awalnya pas pertama kali menghadap dosen pembimbing beliau udah ngasihtau kalo akan ada program ke Jepang kalo mau analisis sampelku disana. Sampel untuk keperluan tesisku ya. Lalu beberapa bulan kemudian, sekitar bulan Mei atau Juni lah ya, dosen pembimbing kirim sms yg isinya agar aku kirim abstrak tesis, kalo memang berniat ikutan student exchange. Tergopoh2 (halah) aku membuat abstrak itu dengan disupervisi teman kantorku. Lalu siang itu juga dengan mengucap bismillah aku klik tombol send di emailku kepada dosenku yang isinya abstrak dan cv ku.
Suatu hari di bulan Ramadhan, datanglah sms dari dosenku yang isinya pemberitahuan bahwa aku diterima!!!! Alhamdulillah, bisa ke Jepang juga gratisan hehehehe... Ga juga sih, tetep tombok dikit2 lah wkwkwk......
Tanggal 3 November adalah tanggal keberangkatanku bersama 2 orang teman dr ITB juga. Agak2 sedih juga sih ninggalin suami untuk waktu yang lama, hampir 2 bulan. Kan belum pernah berpisah dari suami dengan waktu lama seperti kali ini (cieeeeee). Lanjoottttttt...... Pagi itu di terminal 3 bandara Soetta, diawali dengan candaan dari petugas imigrasi (halah), lalu kami bertolak ke Kualalumpur untuk transit selama 5 jam. Di pesawat awalnya tidur tp trus ngobrol2 dengan penumpang di sebelah, dan akhirnya mendapatkan info biro travel yg ga ada salahnya untuk dicoba pada rencana liburan selanjutnya hehehe....
Tiba di KLIA, cari sarapan, di McD hahaha.... Abis bingung mo makan apa hehe. Jadilah nongkrong di McD sekalian lunch. setelah itu sholat dan menuju ruang tunggu untuk berangkaatttt ke Jepang!!!!
Perjalanan di udara yang terlama yang selama ini aku lakukan, dengan naik pesawat low cost --tanpa menyebut merk tp mungkin kalian tau yg kumaksud-- tanpa ada makanan gratis, menikmati negeri diawan di siang hari sampe sunset dan akhirnya gelapp.
Sekitar jam 10an malam waktu setempat, mendaratlah kami di Bandara KIX di Osaka. Tapi perjalanan belum usai, sodara. Masih butuh sekitar 6 jam untuk sampai di kota Matsuyama, Ehime Prefecture, dengan menggunakan bis. Karena satu2nya pesawat ke Matsuyama (Peach Airline) hanya ada di jam 20.30, maka ga mungkin kami naik pesawat.
Maka pilihannya adalah naik bis keesokan harinya. Maka malam itu kami bermalam di bandara. Don't worry be happy, banyak kok yang tidur di bandara hehehe... Tuh liat aja di gambar sebelah.
Pagi tanggal 4 November 2014 sekitar jam 6 kami turun ke lantai 1 bandara dan membeli tiket pake mesin. Maklum baru pertama kali nih, jd ya perlu diceritakan lahhhh... memang terdengar ndeso tapi biarlah hahaha....
Bis pertama yang kami naiki menuju Stasiun Namba, seharga 1000 yen. Menikmati sunrise di Jepang pertama kalinya, serta jalanan yg sepi dan jauh dari kata macet. Mungkin karena masih pagi, atau memang seperti begitu adanya disini.
Sekitar 50 menit bis tiba di Namba, lalu dengan sedikit berlari aku mencari loket untuk membeli tiket ke Matsuyama karena info dari kawan bahwa bis akan berangkat pada jam 7.25. Kalo sampe ga dapet yg jam segitu harus menunggu sekitar 2 jam lagi. Alhamdulillah masih sempat dapat tiket utk jam tersebut, gak lama kemudian kami pun sudah berangkat. Bisnya enak, kursinya satu2, jadi nyaman lah.
Sekitar jam 1 siang kami sampai di Stasiun Matsuyama dan dijemput oleh 2 org kawan dan Sensei kami. Lalu kami diantar ke Miyuki Dormitory, tempat tinggal kami selama disini (liat buletan biru di peta di bawah). Setelah dikasih tau peraturan dll oleh pengelola asrama, Sensei meninggalkan kami dan kami pun berkesempatan untuk sholat dan diantar belanja oleh kawan2.
Gitu deh ceritanya perjalananku ke Jepang untuk yg pertama kalinya. Masih akan ada cerita2 berikutnya kok, dengan foto2 lainnya tentunya.....
Judulnya menarik ga sih... student exchange... alias pertukaran pelajar (dalam hal ini mahasiswa ya). Iyaa bener.... sekarang aku lagi di Jepang loohhh, untuk student exchange di Ehime University. Pasti sebagian besar dari kalian mengerutkan dahi.... Dimana ya Ehime itu? Sama denganku pas pertama kali tau kalo di Ehime lah aku akan menuju. Maka kubukalah google map hehehe.... Ehime Prefecture terletak di pulau Shikoku, jauuuhhhh dari Tokyo. Jadi jangan mengira kalo aku berada di kota besar yaaaaa hehehe....
Yang mau aku ceritain pertama apa ya.... hmmm..... proses awalnya dulu aja yah.... Jadi begini ceritanya....
Awalnya pas pertama kali menghadap dosen pembimbing beliau udah ngasihtau kalo akan ada program ke Jepang kalo mau analisis sampelku disana. Sampel untuk keperluan tesisku ya. Lalu beberapa bulan kemudian, sekitar bulan Mei atau Juni lah ya, dosen pembimbing kirim sms yg isinya agar aku kirim abstrak tesis, kalo memang berniat ikutan student exchange. Tergopoh2 (halah) aku membuat abstrak itu dengan disupervisi teman kantorku. Lalu siang itu juga dengan mengucap bismillah aku klik tombol send di emailku kepada dosenku yang isinya abstrak dan cv ku.
![]() |
| Mejeng di KLIA |
Tanggal 3 November adalah tanggal keberangkatanku bersama 2 orang teman dr ITB juga. Agak2 sedih juga sih ninggalin suami untuk waktu yang lama, hampir 2 bulan. Kan belum pernah berpisah dari suami dengan waktu lama seperti kali ini (cieeeeee). Lanjoottttttt...... Pagi itu di terminal 3 bandara Soetta, diawali dengan candaan dari petugas imigrasi (halah), lalu kami bertolak ke Kualalumpur untuk transit selama 5 jam. Di pesawat awalnya tidur tp trus ngobrol2 dengan penumpang di sebelah, dan akhirnya mendapatkan info biro travel yg ga ada salahnya untuk dicoba pada rencana liburan selanjutnya hehehe....
Tiba di KLIA, cari sarapan, di McD hahaha.... Abis bingung mo makan apa hehe. Jadilah nongkrong di McD sekalian lunch. setelah itu sholat dan menuju ruang tunggu untuk berangkaatttt ke Jepang!!!!
| Selfie di pesawat hehehe |
Sekitar jam 10an malam waktu setempat, mendaratlah kami di Bandara KIX di Osaka. Tapi perjalanan belum usai, sodara. Masih butuh sekitar 6 jam untuk sampai di kota Matsuyama, Ehime Prefecture, dengan menggunakan bis. Karena satu2nya pesawat ke Matsuyama (Peach Airline) hanya ada di jam 20.30, maka ga mungkin kami naik pesawat.
| Negeri di awan di siang hari |
![]() |
| Senja di angkasa |
Maka pilihannya adalah naik bis keesokan harinya. Maka malam itu kami bermalam di bandara. Don't worry be happy, banyak kok yang tidur di bandara hehehe... Tuh liat aja di gambar sebelah.Pagi tanggal 4 November 2014 sekitar jam 6 kami turun ke lantai 1 bandara dan membeli tiket pake mesin. Maklum baru pertama kali nih, jd ya perlu diceritakan lahhhh... memang terdengar ndeso tapi biarlah hahaha....
Bis pertama yang kami naiki menuju Stasiun Namba, seharga 1000 yen. Menikmati sunrise di Jepang pertama kalinya, serta jalanan yg sepi dan jauh dari kata macet. Mungkin karena masih pagi, atau memang seperti begitu adanya disini.
Sekitar 50 menit bis tiba di Namba, lalu dengan sedikit berlari aku mencari loket untuk membeli tiket ke Matsuyama karena info dari kawan bahwa bis akan berangkat pada jam 7.25. Kalo sampe ga dapet yg jam segitu harus menunggu sekitar 2 jam lagi. Alhamdulillah masih sempat dapat tiket utk jam tersebut, gak lama kemudian kami pun sudah berangkat. Bisnya enak, kursinya satu2, jadi nyaman lah.Sekitar jam 1 siang kami sampai di Stasiun Matsuyama dan dijemput oleh 2 org kawan dan Sensei kami. Lalu kami diantar ke Miyuki Dormitory, tempat tinggal kami selama disini (liat buletan biru di peta di bawah). Setelah dikasih tau peraturan dll oleh pengelola asrama, Sensei meninggalkan kami dan kami pun berkesempatan untuk sholat dan diantar belanja oleh kawan2.
Gitu deh ceritanya perjalananku ke Jepang untuk yg pertama kalinya. Masih akan ada cerita2 berikutnya kok, dengan foto2 lainnya tentunya.....
Senin, 06 Januari 2014
What is Fatmagul's Fault?
![]() |
Cerita diawali saat Fatmagul yang lugu dan polos tinggal di kota Izmir bersama kakak (Rahmi), kakak ipar (Mukaddes) dan keponakannya (Murat). Mereka memiliki peternakan domba yang menghasilkan susu dan keju. Fatmagul bertunangan dengan Mustafa, seorang nelayan. Mereka berencana untuk menikah setelah rumah yang dibangun Mustafa selesai dan siap untuk ditempati. Fatmagul tidak sabar untuk segera menikah agar dia bisa lepas dari kakak iparnya yang sering menuduhnya melakukan hal-hal yang tidak pantas. Dia ingin tinggal di rumah yang hanya ditempati mereka berdua, dengan dapur yang bebas dia pergunakan. Indah sekali harapan yang mereka bentangkan untuk masa depan.
Namun terkadang harapan dan cita-cita tidak sesuai dengan ketetapan Ilahi. Di suatu dini hari yang merupakan waktu Mustafa kembali melaut, Fatmagul berlari menuju pantai untuk melepas kepergian tunangannya itu. Naas baginya, pada dini hari itu dia melewati 4 pemuda yang sedang mabuk karena narkoba dan minuman keras. Kerim yang pertama mengenalinya sebagai gadis penggembala yang tercebur di sungai karena berusaha mengarahkan ternaknya di hari sebelumnya. Telunjuk Kerim yang mengarah pada gadis itulah yang merubah kehidupan Fatmagul. Ketiga temannya, Selim, Erdogan, dan Vural segera berusaha menangkap Fatmagul tanpa menghiraukan teriakan gadis itu. Setelah mereka berhasil mengenali Fatmagul sebagai gadis penggembala itu, Erdogan memulai untuk memperkosa Fatmagul, tak menghiraukan teriakan dan gadis itu. Selim dan Vural pun turut ambil bagian. Menyaksikan adegan pada episode pertama ini buat aku begitu menyedihkan. Bagaimana seorang gadis yang mempunyai harapan tinggi di masa depan, hancur oleh sekelompok pemuda itu.
Pemerkosaan yang terjadi pada Fatmagul memberikan efek yang luar biasa. Mustafa yang dia harapkan dapat memberikan perlindungan, justru begitu marah mendengar Fatmagul tidak suci lagi dan sangat ingin mengetahui siapa pelaku pemerkosaan itu. Calon mertua yang dia harapkan dapat memberikan pengayoman sebagai orangtua, justru menyatakan bahwa anaknya layak mendapatkan gadis lain yang masih suci. Rumah yang dibangun oleh tangan Mustafa pun dibakar oleh tangan yang sama, menghancurkan semua impian dan harapan yang pernah mereka ucapkan sebelumnya. Makin hancur pula hati Fatmagul. Apakah pemerkosaan ini adalah mutlak kesalahannya? Mengapa ia yang harus menanggung akibatnya? Hilangnya keperawanan itu bukanlah keinginannya melainkan karena orang lain yang merenggutnya dengan paksa, mengapa dia yang dianggap bersalah?
Singkat cerita para pemerkosa yang merupakan anak orang kaya dan terpandang itu berusaha melepaskan diri dari jeratan hukum. Maka seorang pengacara yang juga paman dari Selim memunculkan ide untuk mengorbankan Kerim yang bukanlah siapa-siapa. Mukaddes ikut serta dalam rencana itu, mendesak Fatmagul agar mau menikah dengan Kerim dan meninggalkan kota itu menuju Istambul, karena tetangga akan mulai menggosipkan mereka. Dalam ketidakberdayaannya, Fatmagul pun terpaksa menikah dengan Kerim walau gadis itu masih mengharapkan Mustafa. Sementara Mustafa mencoba menata ulang hidupnya, meninggalkan Izmir menuju Istambul dan bekerja pada perusahaan milik Yasaran (keluarga Selim dan Erdogan). Maka setting berpindah ke Istambul, Kerim membawa Fatmagul dan seluruh keluarganya serta Ebe Nine, wanita yang mengasuhnya sejak ibunya bunuh diri dan ayahnya pergi ke Australia dan tidak kembali. Kehidupan yang pastinya jauh dari menyenangkan yang mereka jalani, dengan pernikahan tanpa cinta dan masalah yang selalu saja datang. Kerim-pun tidak bisa meninggalkan Fatmagul karena ia telah mulai mencintai istrinya itu.
Namun bukanlah batu jika tak bisa lapuk jika ditetesi air terus-menerus, begitupun hati Fatmagul yang mulai terbuka dengan kehadiran Kerim dan berusaha melupakan Mustafa. Apalagi setelah Vural mengatakan dengan Kerim bahwa di malam terkutuk itu Kerim adalah satu2nya orang yang tidak ikut memperkosa Fatmagul. Maka mulailah perjuangan mereka untuk keadilan, yaitu melaporkan keempat pemuda itu sebagai pelaku pemerkosaan terhadap Fatmagul. Pihak Yasaran pun tak ambil diam, mereka juga berjuang sekuat tenaga agar bisa lolos dari hukuman. Segala cara pun mereka lakukan, membayar dokter dan saksi-saksi lain agar memberikan keterangan palsu, termasuk membuat Mustafa berpihak pada mereka.Namun Mustafa akhirnya menemukan kembali hati nuraninya dan menyadari bahwa bukan Fatmagul yang bersalah, tapi ketiga pemuda itu. Lalu ia membuat rencana untuk membalas dendam pada keluarga Yasaran dengan caranya sendiri. Dia yang mengenal Asu alias Hacer, seorang pelacur yang mencintai Mustafa, akhirnya memutuskan menikahi wanita itu. Namun di dalam hatinya, Mustafa masih sangat mencintai Fatmagul. Dia mulai kehilangan harapan untuk bisa kembali memiliki mantan tunangannya itu karena Fatmagul mulai membuka hatinya pada Kerim. Maka yang Mustafa lakukan adalah berusaha menyingkirkan Kerim selamanya. Dia berusaha menembak Kerim, namun tidak berhasil. Lalu dia menculik Fatmagul namun Kerim berhasil menyelamatkan istrinya itu. Mustafa pun akhirnya berhasil ditangkap.
Usahanya untuk mendapatkan Fatmagul tak pernah berhenti walau dia berada dalam jeruji besi. Setiap hari dia menulis surat pada Fatmagul yang tidak pernah dibaca mantan tunangannya itu. Hingga akhirnya Mukaddes menulis surat padanya, meminta agar tidak lagi mengganggu Fatmagul karena gadis itu akan menikah ulang dengan Kerim. Usaha terakhir yang dilakukan Mustafa adalah menyewa seorang pembunuh bayaran untuk membunuh Kerim sebelum mereka resmi menjadi suami-istri lagi. Lagi2 usahanya itu gagal, dan akhirnya Mustafa memilih mati untuk mengakhiri kesedihannya.
Bagaimana dengan Fatmagul? Dia pun membuka hati sepenuhnya pada Kerim bersedia menikah sekali lagi. Serial yang diperankan oleh Beren Saat (Fatmagul) dan Engin Akyurek (Kerim) saat ini telah memasuki beberapa episode terakhir.
Hal yang aku tangkap disini adalah, bagaimana dua orang yang tadinya saling mencintai lalu terpisah karena suatu kejadian yang tidak dapat diterima oleh sang pria, padahal kejadian itu bukan salah si wanita. Bagaimana penyesalan itu datang terlambat dan waktu tak mungkin berputar lagi. Saat si pria menyadari kesalahannya, maka semua sudah terlambat dan tidak ada jalan untuk kembali. Aku sangat sedih saat melihat episode dimana Mustafa begitu menyesali tindakannya dulu yang tidak memberikan dukungan yang sangat dibutuhkan Fatmagul saat itu.
Maka kita sebagai manusia, ada baiknya selalu mendukung pasangan kita apapun yang terjadi. Apalagi jika pasangan kita tidak bersalah, sisihkan emosi dan amarahmu karena kau bisa menyesali tindakanmu saat kau marah. Jika memang pasangan kita memang bersalah, pahami dia mengapa ia berbuat demikian. Komunikasi adalah kunci utama dalam setiap hubungan.
Rabu, 13 November 2013
After 2 Years!!!!!!
Berawal dari seorang teman yang berhasil "menemukan" blog ini, lalu aku kembali membuka coretan pena dan ternyata sudah dua tahun aku tidak menuliskan apapun disini!! Si teman berkata mengapa aku tidak menulis lagi, katanya sih tulisanku bagus hehehehehe.... Terimakasih untuk itu, sobat.
Mengingat-ingat apa sih yang terjadi dalam dua tahun belakangan ini, kok tega-teganya aku mengabaikan blog ini. Dengan kata lain, apa yang membuat aku tidak produktif????
Well.... yang terjadi adalaahhhh (mulai mencari alasan hehehe)..... Oke aku akan berkata yang sesungguhnya deh. Ada sebuah perasaan bahwa aku seperti seorang yang munafik. Aku pernah menulis tentang sesuatu dan ternyata aku hampir melakukannya juga. So, apa bedanya aku dengan mereka?? Tapi di satu sisi, membaca lagi tulisan-tulisanku juga bisa menjadi sarana introspeksi diri lah yaa.. Namanya manusia emang ga ada yang sempurna, namun saat kita merasa membuat kesalahan sebisa mungkin berusaha kembali ke jalan yang benar hehehe...
Hal yang kedua adalah...... Melihat waktu terakhir posting tanggal 25 Oktober 2011, artinya mendekati tahun 2012. Dan di awal tahun 2012 aku mulai mempersiapkan diri ikut tes beasiswa yang diadakan Pusdiklat kantorku.
Beasiswa???? Iyaaaaaa, beasiswaaaaa. Mo kuliah lagi??? Iyaaaaaaa, kuliah lagiiiiiii.... S2? Enggak, s-teh manis. Ya eyalah S2, masa langsung S3? Ntar kualat lohhh......
Yah kira-kira begitulah percakapanku dengan hati nurani terdalamku waktu itu. Mungkin si hati agak syok, karena memang selepas S1 yang indah di Jogja tahun 2004 lalu, aku belum terpikir untuk nantinya lanjut ke S2. Lulus S1 aja dengan susah payah hiks. Intinya sadar diri akan kemampuan lah hahahaha.... Tapi bekerja sebagai PNS memang menuntut agar kita lebih berkembang selagi ada kesempatan. Awalnya mencoba tes beasiswa Pusdiklat tahun 2009 dan gagal, tahun 2012 aku coba lagi untuk mengikuti tes beasiswa. Secara urutan senioritas di kantor, memang sudah saatnya giliranku untuk kuliah, jika lulus tes beasiswa tentunya. Karena kantor tidak mengijinkan pegawainya kuliah dengan biaya sendiri. Baik ya kantorku, tau kalo PNS cekak duitnya hohohoho.
Tes beasiswa di Pusdiklat memang terkenal sulit. Maklum sajalah, dari berbagai anak muda di seluruh unit kerja di kantorku berlomba untuk mendapat beasiswa yang disediakan untuk 10-15 pegawai tiap tahunnya. Maka akupun mempersiapkan diri dengan baik, membeli buku TPA sampai 3 macam, buku TOEFL pun beli lengkap dengan CDnya. Karena informasi yang didapat tesnya adalah TPA dan TOEFL.
Hari tes pun tiba, di bulan Februari atau Maret aku lupa, tahun 2012. Soal dibagikan, dan saat kubuka................ Buku TPA yang kupelajari seakan tak bergunaaaaaa. Matematika sebanyak 20 soal dan ditulis dengan bahasa Inggris yang kami hadapi, dengan waktu tertentu. Setelah waktunya habis, kembali soal matematika berbahasa Inggris 20 soal. Break 15 menit sebelum soal bahasa Inggris yang tentunya dalam bahasa Inggris pula. Seperti sebelumnya, 20 soal diberikan sebanyak 2 kali. Vocabulary yang digunakan sebagai pilihan jawaban adalah kata-kata yang jarang digunakan olehku (tentu saja, kan aku seringnya berbasa Jawa), mungkin hanya ditemukan di kamus deh. Keluar dari ruangan dengan wajah pucat, udah lemes aja dan cemas kalo tahun ini tidak akan lulus saking susahnya tes beasiswanya. Jika tidak lulus tahun ini, kesempatanku hanya tinggal sekali lagi karena atasanku hanya mengijinkan ikut tes beasiswa Pusdiklat 3x. Tentu saja ada lagi beassiwa yang lainnya, dari Kementrian.
Tetapi diantara wajah-wajah pucat tentu saja ada wajah optimis. Sebut saja namanya Thole, waktu break 15 menit si Thole ini berkata pada temannya dengan keras sehingga terdengar olehku, "Lebih sulit soal yang tahun kemarin ya". What??!!@@!!?? Hebat sekali Thole ini, matematika 40 soal tadi ternyata enteng buat dia!!! Dan dengan sedikit berwajah kriminal, hatiku berkata liat aja entar kamu lulus engga tes ini. Hohoho *icondevil*
Sekitar sebulan kemudian hasil tesnya keluar. Dengan sedikit tak percaya, aku mendengar bahwa aku dinyatakan lulus via telepon. Alhamdulillaaahhhh, horeeeeeeeeeee, dapet samsung tab 7.7!! Eeehhh,,, itu bagian "perjanjian"ku dengan suami sih hihihi.... Dan setelah mencari info disana-sini tentang siapa saja kawan yang berhasil mendapat beasiswa itu, ternyata si Thole belum beruntung tahun ini (tahun 2012 maksudnya). Hohohohoho icon devilnya makin menjadi. Tapi mudah-mudahan kata hatiku tidak turut andil tentang ketidakberuntungannya itu :D
Perjuangan tidak berhenti sampe disitu sodara... Masih ada tes masuk ITB yang akan digelar sekitar sebulan kemudian, karena aku baru bisa daftar di gelombang II (pengumuman Pusdiklat mepet dengan batas akhir pendaftaran gelombang I). Kenapa ITB, kenapa ga yang di Jakarta aja? Simpel aja jawabnya, ya yang paling deket adanya di ITB huahuahuahua. Daripada ke UGM, yang walaupun menyenangkan karena udah familiar, kota yg nyaman di hati dan dekat keluarga, tetapiii jauh dari suami.
Singkat kata singkat cerita aku mempersiapkan diri lagi menuju tes TPA dan TOEFL sebagai syarat masuk ITB, yang kali ini betul-betul soalnya dari Bappenas dan lembaga terkait. Dan kali ini buku-buku yang aku beli sebelumnya berguna hahahaha..... Selain itu ada tes tertulis dan wawancara di jurusan yang alhamdulillah terlampaui dengan baik. Dan akhirnya aku terdaftar sebagai mahasiswi ITB angkatan 2012. Hopefully i can graduate on 2014, aamiin.......
Well, that's my short story tentang mengapa blog ini vakum selama 2 taun hehehehe.... Mungkin lain waktu akan aku ceritakan beberapa cerita yang menarik selama kuliah di kampus Ganesha ini.
Mengingat-ingat apa sih yang terjadi dalam dua tahun belakangan ini, kok tega-teganya aku mengabaikan blog ini. Dengan kata lain, apa yang membuat aku tidak produktif????
Well.... yang terjadi adalaahhhh (mulai mencari alasan hehehe)..... Oke aku akan berkata yang sesungguhnya deh. Ada sebuah perasaan bahwa aku seperti seorang yang munafik. Aku pernah menulis tentang sesuatu dan ternyata aku hampir melakukannya juga. So, apa bedanya aku dengan mereka?? Tapi di satu sisi, membaca lagi tulisan-tulisanku juga bisa menjadi sarana introspeksi diri lah yaa.. Namanya manusia emang ga ada yang sempurna, namun saat kita merasa membuat kesalahan sebisa mungkin berusaha kembali ke jalan yang benar hehehe...
Hal yang kedua adalah...... Melihat waktu terakhir posting tanggal 25 Oktober 2011, artinya mendekati tahun 2012. Dan di awal tahun 2012 aku mulai mempersiapkan diri ikut tes beasiswa yang diadakan Pusdiklat kantorku.
Beasiswa???? Iyaaaaaa, beasiswaaaaa. Mo kuliah lagi??? Iyaaaaaaa, kuliah lagiiiiiii.... S2? Enggak, s-teh manis. Ya eyalah S2, masa langsung S3? Ntar kualat lohhh......
Yah kira-kira begitulah percakapanku dengan hati nurani terdalamku waktu itu. Mungkin si hati agak syok, karena memang selepas S1 yang indah di Jogja tahun 2004 lalu, aku belum terpikir untuk nantinya lanjut ke S2. Lulus S1 aja dengan susah payah hiks. Intinya sadar diri akan kemampuan lah hahahaha.... Tapi bekerja sebagai PNS memang menuntut agar kita lebih berkembang selagi ada kesempatan. Awalnya mencoba tes beasiswa Pusdiklat tahun 2009 dan gagal, tahun 2012 aku coba lagi untuk mengikuti tes beasiswa. Secara urutan senioritas di kantor, memang sudah saatnya giliranku untuk kuliah, jika lulus tes beasiswa tentunya. Karena kantor tidak mengijinkan pegawainya kuliah dengan biaya sendiri. Baik ya kantorku, tau kalo PNS cekak duitnya hohohoho.
Tes beasiswa di Pusdiklat memang terkenal sulit. Maklum sajalah, dari berbagai anak muda di seluruh unit kerja di kantorku berlomba untuk mendapat beasiswa yang disediakan untuk 10-15 pegawai tiap tahunnya. Maka akupun mempersiapkan diri dengan baik, membeli buku TPA sampai 3 macam, buku TOEFL pun beli lengkap dengan CDnya. Karena informasi yang didapat tesnya adalah TPA dan TOEFL.
Hari tes pun tiba, di bulan Februari atau Maret aku lupa, tahun 2012. Soal dibagikan, dan saat kubuka................ Buku TPA yang kupelajari seakan tak bergunaaaaaa. Matematika sebanyak 20 soal dan ditulis dengan bahasa Inggris yang kami hadapi, dengan waktu tertentu. Setelah waktunya habis, kembali soal matematika berbahasa Inggris 20 soal. Break 15 menit sebelum soal bahasa Inggris yang tentunya dalam bahasa Inggris pula. Seperti sebelumnya, 20 soal diberikan sebanyak 2 kali. Vocabulary yang digunakan sebagai pilihan jawaban adalah kata-kata yang jarang digunakan olehku (tentu saja, kan aku seringnya berbasa Jawa), mungkin hanya ditemukan di kamus deh. Keluar dari ruangan dengan wajah pucat, udah lemes aja dan cemas kalo tahun ini tidak akan lulus saking susahnya tes beasiswanya. Jika tidak lulus tahun ini, kesempatanku hanya tinggal sekali lagi karena atasanku hanya mengijinkan ikut tes beasiswa Pusdiklat 3x. Tentu saja ada lagi beassiwa yang lainnya, dari Kementrian.
Tetapi diantara wajah-wajah pucat tentu saja ada wajah optimis. Sebut saja namanya Thole, waktu break 15 menit si Thole ini berkata pada temannya dengan keras sehingga terdengar olehku, "Lebih sulit soal yang tahun kemarin ya". What??!!@@!!?? Hebat sekali Thole ini, matematika 40 soal tadi ternyata enteng buat dia!!! Dan dengan sedikit berwajah kriminal, hatiku berkata liat aja entar kamu lulus engga tes ini. Hohoho *icondevil*
Sekitar sebulan kemudian hasil tesnya keluar. Dengan sedikit tak percaya, aku mendengar bahwa aku dinyatakan lulus via telepon. Alhamdulillaaahhhh, horeeeeeeeeeee, dapet samsung tab 7.7!! Eeehhh,,, itu bagian "perjanjian"ku dengan suami sih hihihi.... Dan setelah mencari info disana-sini tentang siapa saja kawan yang berhasil mendapat beasiswa itu, ternyata si Thole belum beruntung tahun ini (tahun 2012 maksudnya). Hohohohoho icon devilnya makin menjadi. Tapi mudah-mudahan kata hatiku tidak turut andil tentang ketidakberuntungannya itu :D
Perjuangan tidak berhenti sampe disitu sodara... Masih ada tes masuk ITB yang akan digelar sekitar sebulan kemudian, karena aku baru bisa daftar di gelombang II (pengumuman Pusdiklat mepet dengan batas akhir pendaftaran gelombang I). Kenapa ITB, kenapa ga yang di Jakarta aja? Simpel aja jawabnya, ya yang paling deket adanya di ITB huahuahuahua. Daripada ke UGM, yang walaupun menyenangkan karena udah familiar, kota yg nyaman di hati dan dekat keluarga, tetapiii jauh dari suami.
Singkat kata singkat cerita aku mempersiapkan diri lagi menuju tes TPA dan TOEFL sebagai syarat masuk ITB, yang kali ini betul-betul soalnya dari Bappenas dan lembaga terkait. Dan kali ini buku-buku yang aku beli sebelumnya berguna hahahaha..... Selain itu ada tes tertulis dan wawancara di jurusan yang alhamdulillah terlampaui dengan baik. Dan akhirnya aku terdaftar sebagai mahasiswi ITB angkatan 2012. Hopefully i can graduate on 2014, aamiin.......
Well, that's my short story tentang mengapa blog ini vakum selama 2 taun hehehehe.... Mungkin lain waktu akan aku ceritakan beberapa cerita yang menarik selama kuliah di kampus Ganesha ini.
Selasa, 25 Oktober 2011
Aku dan Jilbabku
Beberapa hari yg lalu aku membaca sebuah artikel di sebuah situs http://m.voa-islam.com/news/article/2011/10/01/16247/aku-malu-dan-belum-siap-berjilbabmaka-aku-menunda-mengenakannya/
![]() |
| Diambil dari internet |
Lalu saat kuliah sempat terpikir untuk memakai jilbab. Pikiranku mulai terbuka bahwa berjilbab adalah wajib. Jika memang ibadahku belum sempurna, mengajiku masih terbata2 biarlah. Semua itu kan bisa diperbaiki. Walau kadang ada pikiran ngeri jika lagi berkumpul dgn teman2 lalu ditanya2 masalah agama karena aku berjilbab, namun aku tak bisa menjawabnya. Kan maluuuuu..... Tapi tahun2 segitu, sekitar 2003-2004 sudah mulai banyak wanita berjilbab, jd aku ingin berjilbab jg. Saat bercerita dengan seorang kawan, dia menyarankan agar mengumpulkan dulu baju2 lengan panjang sebelum benar2 berjilbab. Jadi tertundalah berjilbab itu.
Saat masa kuliah kutinggalkan dan memasuki dunia kerja. Aku mulai mengirim lamaran kerja ke berbagai perusahaan minyak dan tambang, lalu aku berkenalan dgn seorang pria non-muslim. Entah apa yg merasukiku, aku meng-iya-kan saat dia mengajak berpacaran. Singkat cerita, setelah beberapa bulan berjalan bersamanya aku merasa bahwa hubungan ini tidak mungkin berujung ke pernikahan. Sedangkan buat apa aku buang waktu dengan masih bersamanya. Awalnya dia marah saat aku memutuskan hubungan, dan sempat mengajak kembali. Aku juga sempat setuju kembali, namun hanya sebulan aku lagi2 memutuskan dia.
Sumber dr keputusanku ini adalah setelah aku membaca sebuah novel yg aku akui menjadi titik balikku. Hanya sebuah novel berjudul Ayat-Ayat Cinta, namun isinya menguraikan tentang cinta manusia yg sejati hanyalah pada Allah SWT. Jika kita mencintai Allah, maka kita akan selalu takut membuatNya marah sehingga tidak akan berani melakukan laranganNya. Dalam novel itu juga menyebutkan jika kita ingin mendapatkan lelaki yg baik, maka jadilah wanita yg baik terlebih dahulu. Berbekal itu, aku berniat ingin menjadi wanita yg lebih baik. Langkah awalku adalah menggunakan jilbab. Langkah itu rasanya begitu tiba2, rasanya hatiku tidak tenang, aku punya keinginan yg kuat untuk memakai jilbab.
Awal2 berjilbab sangatlah menyenangkan. Aku rajin membaca2 buku agama, sempet berkeinginan utk mencari jodoh dengan berta'aruf sesuai tuntunan agama. Aku merasa kondisi keimananku membaik. Namun ternyata seperti gelombang, imanku diuji menuju kemerosotan. Tak perlu kuceritakan disini, tapi cukup membuatku merasa tak pantas memakai jilbab. Karena buat apa berjilbab jika kelakuanku tak mencerminkan wanita solehah. Lalu kuingat lagi bahwa jilbab adalah perintah Allah, dengan tetap berjilbab aku bisa memperbaiki diri dan kembali meningkatkan imanku. Maka kuputuskan utk tetap mengenakannya.
Menurutku, melupakan kenangan itu seperti menghabiskan air dalam gelas. Sekeras apapun usaha kita meminum air hingga habis, tetap saja masih ada air walaupun setetes didalam gelas. Sekeras apapun kita berusaha melupakan kenangan, masih saja teringat. Begitu pula jika aku ingin melupakan saat2 terburukku, malah masih aja teringat.
Terkadang aku bertanya, mengapa dulu aku mau pacaran dengan laki2 non-muslim itu? Apa hikmah dari hal itu? Bukankah semua kejadian bukanlah kebetulan melainkan sudah diatur Allah SWT agar kita bisa mengambil hikmahnya? Maka aku pun mencoba menemukan hikmahnya, yaitu Allah mengujiku dengan cinta. Allah menguji apakah aku lebih mencintaiNya atau makhluk ciptaanNya. Sedalam apapun perasaan cinta kita pada seseorang, hendaknya jangan melebihi cinta kita kepada Allah SWT. Cintailah dia karena Allah.
Kok critanya jadi ngalor-ngidul yak? Hehehehehe.... Intinya sih, aku ngga maksa temen2 utk berjilbab. Toh aku juga belum jd wanita muslimah seutuhnya. Pake jilbab juga belum yg benar2 syar'i, tp paling ngga berusaha pake jilbab yg panjang dan menutupi dada. Mungkin masih banyak alasan kalian belum siap utk berjilbab, doaku semoga suatu saat nanti kalian berjilbab sebelum maut datang. Aamiin.....
Jumat, 14 Oktober 2011
Surat Terbuka untuk Ustadz Solmed (Ustadz Sholeh Mahmoed)
Hmmmm, barusan baca tulisan di internet tentang judul diatas. Bagus banget untuk dibaca oleh anak muda agar ngga salah melangkah dalam menjalani hubungan dengan lawan jenis. Bukan berarti aku manusia paling bener sihhh, tp paling ngga aku belajar dari kesalahan2 masa lalu dan berusaha untuk menjadi manusia yg lebih baik lagi.
Perlu dipahami dengan benar apakah itu arti ta'aruf. Walau dulu aku ngga ber-ta'aruf tapi aku ngga nganggep aku dulu pacaran dengan (calon) suami. Emang sih rutin ketemuan berdua tiap Sabtu, tapi alhamdulillah sih bisa menghindari hal2 yg ngga pantas.
Surat Terbuka untuk Ustadz Solmed (Ustadz Sholeh Mahmoed)
Assalamu’alaikum, Pak Ustadz…Sebelumnya saya mohon maaf jika Bapak kurang berkenan dengan surat terbuka ini.
Saya bukan solmeder’s yang konon menggandrungi Pak Ustadz setengah mati. Saya juga bukan orang yang setia menyimak kajian Pak Ustadz di televisi. Saya hanya sedang terheran-heran, mengapa Pak Ustadz yang mestinya jauh dari dunia gemerlap kok malah sering muncul di infotainment.
Beberapa hari lalu, saya membaca artikel di sebuah portal berita. Katanya Ustadz sedang dekat dengan penyanyi anu yang sedang naik daun itu. Dalam hati saya membatin, sekaligus berharap, janganlah berita itu menjadi kenyataan. Bukannya saya mengutuk sang biduan, Pak Ustadz. Tapi bapak harusnya lebih paham seperti apa ciri wanita shalihah dan bagaimana cara “mendekati” wanita tipikal seperti ini.
Ada bantahan yang melegakan hati saya, bahwa Pak Ustadz dan penyanyi itu hanya berteman, tak lebih. Karena sebenarnya hati Pak Ustadz sudah diisi oleh wanita lain. Tapi bantahan ini pun memberikan tanda tanya baru di hati saya; Pak Ustadz, sang guru ngaji yang masih bujangan, mengakui terang-terangan bahwa hatinya sudah terpikat oleh pesona seorang wanita? Ahay..
Esoknya, saya kembali melihat Pak Ustadz. Sayangnya bukan di tayangan pengajian, melainkan di infotainment; gudang beritanya para artis. Miris hati ini melihat bapak yang dikenal masyarakat sebagai sosok da’i mau diwawancara berdua dengan wanita yang bukan muhrimnya. Bahkan di tayangan tersebut bapak nyaris akan disuapi oleh si wanita. Oh, dialah rupanya si penunggu hati yang kemarin sempat bapak singgung.
Tak butuh waktu lama untuk kembali melihat wajah Pak Ustadz di acara gosip selebritis. Kali ini Pak Ustadz dengan wajah sumringah bercerita bahwa Bapak baru saja memberikan mobil sebagai hadiah bagi sang wanita.
Wanita itu pun ada di situ, berdua dengan Pak Ustadz, ikut tertawa riang di depan kamera. Ah, Pak Ustadz, tahukah bapak ada banyak orang muslim geleng2 kepala melihat tingkah bapak. Apalagi bolak balik bapak menegaskan bahwa hubungan kalian adalah ta’aruf. Saya belum habis pikir, kok bisa makna ta’aruf tidak ada bedanya dengan pacaran. Ustadz Solmed,
Sebagai ustadz tentu bapak jauh lebih paham bagaimana cara berta’aruf yang benar dalam Islam. Bagaimana menjaga adab dalam bergaul agar tidak terjadi fitnah dan bagaimana pula menghijabi hati bagi lawan jenis yang bukan muhrim. Perih hati saya melihat tayangan infotainment menyebut Pak Ustadz dan wanita itu sebagai pasangan kekasih. Kalau sudah begini, apa bedanya Pak Ustadz dengan artis lain yang diwawancara berdua dengan pacar mereka? Pak ustadz ta’aruf, mereka pacaran. Tapi sama-sama tampil berdua, menyiratkan kemesraan, dan sama-sama mau diekspos media infotainment.
Oh, mengapa ustadz yang seharusnya menjadi milik jamaah kini menjadi komoditi seperti ini. Ustadz adalah ustadz, jangan nyambi menjadi seleb. Itu adalah dua dunia yang berbeda, jauh berbeda. Tapi kalau boleh jujur, Pak Ustadz memang pantas menjadi selebritis. Wajah ganteng, hidup mapan. Seharusnya Bapak meneladani Briptu Norman, dia berani memilih untuk menjadi polisi atau selebriti.
Ustadz Solmed,
Waktu kecil, saya punya ustadz idola yang saya suka karena kerendahan suaranya dan entah mengapa hati ini selalu tersentuh kala melihat beliau berceramah. Ustadz kesukaan saya ini jarang tampil di televisi, belum tentu sepekan sekali. Ustadz Ihsan Tanjung namanya. Belakangan saya juga mudah tersentuh dengan ceramah Ustadz Quraish Shihab.
Rasa-rasanya bapak juga tahu suara hati sejumlah jamaah yang kini mulai gusar dengan mudahnya seseorang disebut ustadz. Bermodal wajah yang kameragenik, gaya yang terus up to date dan model berceramah yang atraktif, seorang penceramah kini bisa dengan mudah menjadi ustadz. Lalu setelah terkenal, acara ceramahnya punya rating tinggi, naiklah derajatnya menjadi bintang iklan, bahkan MC acara hiburan.
Pak Ustadz,
Melalui surat terbuka ini, saya bukannya ingin menasehati Bapak. Toh saya juga jauh dari kefahaman terhadap ilmu agama. Saya hanya ingin menyampaikan kegundahan hati seorang umat, bahwa sebagai da’i apa yang bapak lakukan menjadi contoh dan teladan bagi umat. Jika memang sedang dekat dengan seorang wanita, janganlah mengklaim itu sebagai ta’aruf. Kasihan muda mudi kita Pak, bila kini mereka lebih merasa aman berdua-duaan dengan lawan jenis lantaran menganggap itulah proses ta’aruf seperti yang Pak Ustadz contohkan.
Konon bapak baru akan menikahi si gadis empat bulan lagi. Empat bulan adalah waktu yang tidak sebentar bagi insan yang tengah mencandu asmara. Saya pernah melewati fase seperti Pak Ustadz saat hendak menikah. Menunggu sebulan saja badan ini rasanya meriang tak karuan. Waktu menjadi terasa sangat lama. Dan bayangan di benak sudah terisi oleh hal yang tidak-tidak saja.
Semoga Ustadz Solmed membaca surat terbuka saya ini.
Sebaiknya segeralah nikahi gadis tersebut, karena masyarakat kini mulai enteng menyebut “Oh, itu to, pacarnya Ustadz Solmed..” yang membuat miris siapa pun yang mendengar. Jika memang Pak ustadz masih harus menunggu empat bulan lagi, janganlah memamerkan kedekatan kalian di televisi. Lakukanlah ta’aruf sebagaimana seharusnya dilakukan. Jangan menghaluskan bahasa dari pacaran menjadi ta’aruf. Sekali lagi, kasihan jamaah yang banyak mengidolakan bapak.
Cukup sekian surat dari saya, semoga besok dan seterusnya, saya tak lagi menjumpai Pak Ustadz di tayangan gosip. Karena ustadz adalah da’i, bukan selebriti.
Wassalammu’alaikum wr wb
Tribute to : http://www.facebook.com/notes/bumi-bumi-sugan/surat-terbuka-untuk-ustadz-solmed-ustadz-sholeh-mahmoeddai-center-part-of-uje-ce/10150318258011836
Langganan:
Postingan (Atom)






