Selain ikhtiar ke dokter, aku juga pernah ikhtiar ke pengobatan alternatif. Kalo ga salah hitung, aku pernah ke 3 tempat.
Yang pertama itu sekitar awal2 pernikahan, agak lupa tepatnya kapan. Mungkin sekitar tahun 2009 awal ya. Lokasinya di sekitar Pondokbetung, Bintaro, namanya bu Agung. Yang menyarankan waktu itu adalah teman kantorku yang sudah senior. Beliau duduk seruangan denganku dan sudah kuanggap sebagai orangtua. Jadi saat beliau menyarankan, okelah ga ada salahnya dicoba.
Waktu itu pas jam kantor aku diantar ke rumah bu Agung itu. Rumahnya masuk2 gang. Pas sampe disana pas masih ada pasien. Setelah itu aku bertemu dengan bu Agung. Ditanya apa keperluannya, lalu beliau mendeteksi apa masalahnya mengapa aku belum hamil. Udah agak2 ga sreg sih karena seperti pake penerawangan indra ke-6 gitu. Beliau mengatakan bahwa ada urat yang agak terplintir atau gmana gitu deh, udah lupa. Intinya perlu dikembalikan ke tempatnya lah. Sarannya pijit 2x, sekali pijit 400rb!!!! Tapi ya namanya mo ikhtiar, aku bujukin suamiku agar mau mencoba, dan dia mengiyakan. Pertama dipijit, sakiiiiiiittttttttt pisan. Pijitnya di perut pula. Yang kedua udah ga sesakit yang pertama. Tapi setelah itu blom hamil juga hehe....
Nah setelah itu kan aku mulai ke dr Reza, pas usg awal beliau liat ada kista kecil. Takutnya itu efek dari pijit perut, entahlah....
Yang kedua itu setelah berhenti dari dr Reza, aku mencoba alternatif bareng bbrp teman dari AIH grup di daerah Cisalak Depok. Lokasinya di sekitar wisma Trubus, di tempat pak Haji siapa gt, lupa namanya. Antriannya banyaaakkk, harus pinter2 cari org sekitar situ untuk nitip di belikan nomernya dl biar bisa dapet nomer awal. Metodenya dengan melihat garis di telapak tangan trus nanti dikasih obat herbal dan minyak sirih kalo ga salah.
Efek dari ke pak Haji itu, haidku buanyakkkkk dan ga kelar2. Akhirnya sebelum bulan Ramadhan 2011 aku memutuskan ga ke pak Haji lagi, dan kembali ke dokter untuk memberhentikan haidku.
Yang ketiga itu di Jogja, di dekat rumah mertua, pas mudik lebaran tahun 2013. Aku dipijit sekali atau dua kali, mayan sakit juga. Dikasih pantangan banyakkk, dan dibawain obat herbal untuk 3 bulan. Habisnya lumayan jugaaaa.... Tapi entah mengapa, kalo ma obat herbal aku ga bisa telaten kaya kalo minum obat dokter. Awal2 aja aku rutin minum, lama2 lupa dan akhirnya males.
Selain tiga yg utama itu, pernah juga bekam sama temen dan di Bengkel Rohani. Tapi lagi2 ga telaten njalaninnya. Kalo di Bengkel Rohani kurang cocok ma metode bekamnya yg lgsg ngebekam semua titiknya. Ngeriii...... Oya sebelumnya juga pernah pas mudik lebaran di awal2 nikah, diajak pijit sama ibu mertua juga, cuman dikasih pantangan aja tanpa obat2 herbal.
Ah baru inget... Pernah juga alternatif dengan tenaga prana sekitar tahun 2012. Waktu itu juga rame2 dengan temen AIH. Trus si bapaknya juga pernah ke rumahku, jadi lebih pribadi ma suamiku juga. Tapi cuman beberapa kali abis itu udah ga pernah lagi karena beliau udah banyak pasiennya.
Kayaknya selain itu ga ada lagi deh alternatifnya.... coba deh ntar aku inget2 lagi ya kali aja ada yg kelewat hehehe....
Mencoba mencoretkan pena, menuliskan apa saja yg aku alami atau yg aku hasilkan...
Jumat, 08 Mei 2015
waiting for pregnancy - Second Year
Memasuki tahun kedua pernikahan dan masih belum ada tanda2 hamil, aku disarankan oleh seorang kawan untuk mendatangi dr Reza Kamal di RSB Permata Sarana Husada, masih di bilangan Pamulang.
Kesan pertama masuk ke ruangan dr Reza ituu mayan goodlooking, arab2 gitu hehe, dan komunikatif. Semua pertanyaan dijawab dengan jelas, kadang sampe digambar segala buat ilustrasi, biar mudah dipahami. Dari awal periksa udah dipastikan aku emang PCO, dilihat dari ciri2nya. Yaitu kegemukan, haid tidak teratur. Ciri PCO lainnya jerawatan, banyak bulu2 di tangan, kaki, bahkan ada yg di wajah. Kalo mo tau apa itu PCO bisa dibrowsing sendiri yaaa, atau ntar aku bikinin thread sendiri deh yaa...
Obat yg dikasih ke aku itu Diane-35 untuk ngatur siklus haid. Sebenernya itu pil KB ya, tp emang bikin haid teratur. Aku konsumsi pil itu untuk 3 siklus. Kemudian utk memancing pertumbuhan sel telur aku dikasih profertil, dan setiap hari ke-12-14 dicek ukuran sel telurnya berapa.
Setelah itu aku disuruh cek lab untuk gula darah, lalu dikasih glucophage untuk nurunin gula. Sempat juga aku minta dikasih pengantar untuk HSG, yaitu tes untuk mengetahui apakah ada sumbatan di tuba falopi, alhamdulillah hasilnya paten.
Oya, di tahun kedua ini aku juga gabung di sebuah grup di Facebook yang anggotanya para wanita yang sudah menikah namun belum hamil. Nama grupnya Aku Ingin Hamil (AIH). Maybe sounds ridiculous, but that's what happen to some women nowadays. Bergabung dalam grup AIH membuatku lebih tenang, sabar dan ikhlas karena banyak temen2 seperjuangan disitu, yang usia pernikahannya lebih lama dariku. Dari grup AIH juga aku banyak belajar tentang macam2nya gangguan infertilitas dan tes2 apa saja yg diperlukan untuk mengetahui kualitas organ2 reproduksi kita.
Setelah kira2 setahunan ke dr Reza aku memutuskan berhenti karena ada hal2 yang kurang sreg dengan treatment yg beliau berikan. Mungkin nanti saja kalo aku udah hamil aku akan kembali berkonsultasi dengan beliau.
Kesan pertama masuk ke ruangan dr Reza ituu mayan goodlooking, arab2 gitu hehe, dan komunikatif. Semua pertanyaan dijawab dengan jelas, kadang sampe digambar segala buat ilustrasi, biar mudah dipahami. Dari awal periksa udah dipastikan aku emang PCO, dilihat dari ciri2nya. Yaitu kegemukan, haid tidak teratur. Ciri PCO lainnya jerawatan, banyak bulu2 di tangan, kaki, bahkan ada yg di wajah. Kalo mo tau apa itu PCO bisa dibrowsing sendiri yaaa, atau ntar aku bikinin thread sendiri deh yaa...
Obat yg dikasih ke aku itu Diane-35 untuk ngatur siklus haid. Sebenernya itu pil KB ya, tp emang bikin haid teratur. Aku konsumsi pil itu untuk 3 siklus. Kemudian utk memancing pertumbuhan sel telur aku dikasih profertil, dan setiap hari ke-12-14 dicek ukuran sel telurnya berapa.
Setelah itu aku disuruh cek lab untuk gula darah, lalu dikasih glucophage untuk nurunin gula. Sempat juga aku minta dikasih pengantar untuk HSG, yaitu tes untuk mengetahui apakah ada sumbatan di tuba falopi, alhamdulillah hasilnya paten.
Oya, di tahun kedua ini aku juga gabung di sebuah grup di Facebook yang anggotanya para wanita yang sudah menikah namun belum hamil. Nama grupnya Aku Ingin Hamil (AIH). Maybe sounds ridiculous, but that's what happen to some women nowadays. Bergabung dalam grup AIH membuatku lebih tenang, sabar dan ikhlas karena banyak temen2 seperjuangan disitu, yang usia pernikahannya lebih lama dariku. Dari grup AIH juga aku banyak belajar tentang macam2nya gangguan infertilitas dan tes2 apa saja yg diperlukan untuk mengetahui kualitas organ2 reproduksi kita.
Setelah kira2 setahunan ke dr Reza aku memutuskan berhenti karena ada hal2 yang kurang sreg dengan treatment yg beliau berikan. Mungkin nanti saja kalo aku udah hamil aku akan kembali berkonsultasi dengan beliau.
Kamis, 07 Mei 2015
waiting for pregnancy - First Year
Aku menikah di bulan Agustus 2008, seminggu sebelum bulan Ramadhan. Dari jaman gadis memang haidku ga teratur, kadang dateng kadang engga. Awalnya sih masih santai2 aja ya, tp setelah menikah baru nyadar kalo masalah siklus haid itu berpengaruh pada infertilitas alias ketidaksuburan.
Tidak subur lho ya, bukan mandul. Aku paling ga suka dengan kata "mandul". Kalo kata "infertilitas" itu secara ga langung akan men-sugesti pikiranku bahwa ada cara2 untuk mengatasinya. Kalo kata "mandul" itu seperti harga mati bahwa "kamu ga bisa punya anak." IMHO ya.
Nahhh di awal2 nikah kumat lg haidnya ga dtg. Aku coba tespek hasilnya garis 1 doang. Lalu aku berinisiatif ke dokter kandungan (dr. Tetty) di sebuah klinik di Pamulang. Hasilnya aku memang tidak hamil, dan ada gangguan hormonal. Aku dikasih obat untuk memancing haid, namanya provera.
Selanjutnya aku beberapa kali kontrol ke dr Tetty, beliau mengatakan bahwa kemungkinan aku punya masalah infertilitas yaitu PCO. Waktu itu aku masih belum ngeh apa itu PCO, sempet sih dijelasin tapi ga begitu aku perhatikan karena kan waktu itu aku baru beberapa bulan menikah. Masih ada perasaan santai aja untuk masalah anak dalam waktu setahun ini.
Makanya waktu dr Tetty nanya mau coba alami dulu atau pake obat, aku dan suami sepakat untuk alami dulu, at least sampe setahun menikah lah ya.... (lanjut ke second year)
Tidak subur lho ya, bukan mandul. Aku paling ga suka dengan kata "mandul". Kalo kata "infertilitas" itu secara ga langung akan men-sugesti pikiranku bahwa ada cara2 untuk mengatasinya. Kalo kata "mandul" itu seperti harga mati bahwa "kamu ga bisa punya anak." IMHO ya.
Nahhh di awal2 nikah kumat lg haidnya ga dtg. Aku coba tespek hasilnya garis 1 doang. Lalu aku berinisiatif ke dokter kandungan (dr. Tetty) di sebuah klinik di Pamulang. Hasilnya aku memang tidak hamil, dan ada gangguan hormonal. Aku dikasih obat untuk memancing haid, namanya provera.
Selanjutnya aku beberapa kali kontrol ke dr Tetty, beliau mengatakan bahwa kemungkinan aku punya masalah infertilitas yaitu PCO. Waktu itu aku masih belum ngeh apa itu PCO, sempet sih dijelasin tapi ga begitu aku perhatikan karena kan waktu itu aku baru beberapa bulan menikah. Masih ada perasaan santai aja untuk masalah anak dalam waktu setahun ini.
Makanya waktu dr Tetty nanya mau coba alami dulu atau pake obat, aku dan suami sepakat untuk alami dulu, at least sampe setahun menikah lah ya.... (lanjut ke second year)
Rabu, 01 April 2015
Cerita - Pregnancy
Can you believe that word? "Pregnancy". Berapa tahun ya aku membayangkan hal itu akan alami? Lebih dari 6 tahun pastinya. Tour ke dokter kandungan pun udah dijalani. Beberapa alternatif juga sudah pernah didatangi. Obat kimia pun sampe hafal, kadang obat herbal juga dikonsumsi. Doa dan sedekah? Insya Allah pun ada, tapi ga perlu diceritakan lah ya.... Yang akan aku ceritakan disini adalah proses ikhtiar demi mendapatkan "pregnancy" dan dalam menjalani "pregnancy" itu sendiri.
Memang terkadang lucu.... Tidak hanya terjadi pada diriku, tapi banyak aku membaca cerita2 serupa. Bagaimana kerasnya ikhtiar demi ikhtiar dilakukan namun tak mendapatkan garis dua itu. Lalu saat lelah berikhtiar, memlih berserah diri, menenangkan hati dan pikiran, tidak mau memusingkan hal itu, garis dua itu datang tanpa diduga. Tapi ada juga kok yang mendapatnya garis dua itu setelah ikhtiar tak putus2. Tentu saja semua itu karena seijin Allah SWT. Karena hanya Dia-lah yang Maha Tahu kok, kapan waktu yang tepat untuk kita.
Sekarang, aku mo cerita dari awal ya.......
Memang terkadang lucu.... Tidak hanya terjadi pada diriku, tapi banyak aku membaca cerita2 serupa. Bagaimana kerasnya ikhtiar demi ikhtiar dilakukan namun tak mendapatkan garis dua itu. Lalu saat lelah berikhtiar, memlih berserah diri, menenangkan hati dan pikiran, tidak mau memusingkan hal itu, garis dua itu datang tanpa diduga. Tapi ada juga kok yang mendapatnya garis dua itu setelah ikhtiar tak putus2. Tentu saja semua itu karena seijin Allah SWT. Karena hanya Dia-lah yang Maha Tahu kok, kapan waktu yang tepat untuk kita.
Sekarang, aku mo cerita dari awal ya.......
Kamis, 11 Desember 2014
Priority
Priority, atau bahasa kerennya "prioritas". Agak serius nih corat-coretnya.
Berawal dari beberapa menit yang lalu aku membuka tautan link di sebuah grup facebook tentang PCO (apa itu PCO browsing sendiri yaa :D). Link blog itu tidak lain tidak bukan milik salah seorang teman lamaku yg jg anggota grup tersebut. Dia mengunggah informasi biaya inseminasi. Saat aku buka2 blognya memang banyak tulisannya mengenai baby program.
Aku bukan mau ngobrolin soal blognya. Yang muncul di pikiranku adalah, betapa gigihnya dia dalam berikhtiar untuk mendapatkan si kecil. Berapa kali dia insem, atau hamil namun masih gagal. Lalu aku berkaca pada diriku sendiri, sudah sejauh mana sih ikhtiarku?
Inilah yang akhirnya aku sebut prioritas. Setiap orang mempunyai prioritasnya masing2. Baby program memang salah satu prioritasku, aku dan dokterku sudah menyusun rencana tahapan treatment yang akan kami lakukan. Namun ternyata kuasa Allah bicara lain. Tahun kemarin berencana insem, sudah dapet 6x suntikan puregon, eehhhh kok ndilalah ketularan gondongen dari suami. Akhirnya rencana insem harus dihentikan dulu.
Next plan for insem adalah awal tahun ini, mumpung udah UAS dan teori udah abis. Tapi aku berencana setelah pelaksanaan ekskursi regional. Setelah ekskursi tenyata mendekati bulan puasa, suami menyarankan lebih baik setelah lebaran. Ternyata menjelang lebaran mendapat kabar bahwa aku mendapatkan program student exchange ke Jepang. Maka rencana berubah lagi setelah aku pulang dari Jepang.
Ternyata salah satu prioritasku masih dikalahkan oleh prioritas lain. Ya, saat ini aku memilih untuk berkonsentrasi menyelesaikan kuliahku. Apakah aku ga pengen menjalankan baby program lagi? Jawabannya tentu iya. Tapi mungkin tidak dalam waktu dekat. Apakah ga ada rasa iri melihat teman yg lain masih getol berikhtiar sementara aku belum lagi menyambangi dokter? Jawabannya tetap iya. Namun prioritas setiap orang berbeda-beda.
Terkadang saat berseluncur di facebook, membaca berbagai macam status dari berbagai teman, dapat terbaca prioritas mereka. Di saat beberapa teman memamerkan anak2nya, atau cemas akan anak2nya, atau berbagi ilmu yg berkaitan dengan anak2, aku memamerkan suasana Jepang. Di saat beberapa teman memasang foto testpack bergaris dua, aku memasang foto alat di laboratorium disini. Di saat teman mengeluhkan atau mengkhawatirkan soal anaknya atau kehamilannya, aku mengkhawatirkan tesisku kapan selesai.
Ya, setiap orang mempunyai prioritas masing2. Hidup adalah soal pilihan. Mana yang akan kita dahulukan, dan mana yang akan kita kerjakan kemudian.
Berawal dari beberapa menit yang lalu aku membuka tautan link di sebuah grup facebook tentang PCO (apa itu PCO browsing sendiri yaa :D). Link blog itu tidak lain tidak bukan milik salah seorang teman lamaku yg jg anggota grup tersebut. Dia mengunggah informasi biaya inseminasi. Saat aku buka2 blognya memang banyak tulisannya mengenai baby program.
Aku bukan mau ngobrolin soal blognya. Yang muncul di pikiranku adalah, betapa gigihnya dia dalam berikhtiar untuk mendapatkan si kecil. Berapa kali dia insem, atau hamil namun masih gagal. Lalu aku berkaca pada diriku sendiri, sudah sejauh mana sih ikhtiarku?
Inilah yang akhirnya aku sebut prioritas. Setiap orang mempunyai prioritasnya masing2. Baby program memang salah satu prioritasku, aku dan dokterku sudah menyusun rencana tahapan treatment yang akan kami lakukan. Namun ternyata kuasa Allah bicara lain. Tahun kemarin berencana insem, sudah dapet 6x suntikan puregon, eehhhh kok ndilalah ketularan gondongen dari suami. Akhirnya rencana insem harus dihentikan dulu.
Next plan for insem adalah awal tahun ini, mumpung udah UAS dan teori udah abis. Tapi aku berencana setelah pelaksanaan ekskursi regional. Setelah ekskursi tenyata mendekati bulan puasa, suami menyarankan lebih baik setelah lebaran. Ternyata menjelang lebaran mendapat kabar bahwa aku mendapatkan program student exchange ke Jepang. Maka rencana berubah lagi setelah aku pulang dari Jepang.
Ternyata salah satu prioritasku masih dikalahkan oleh prioritas lain. Ya, saat ini aku memilih untuk berkonsentrasi menyelesaikan kuliahku. Apakah aku ga pengen menjalankan baby program lagi? Jawabannya tentu iya. Tapi mungkin tidak dalam waktu dekat. Apakah ga ada rasa iri melihat teman yg lain masih getol berikhtiar sementara aku belum lagi menyambangi dokter? Jawabannya tetap iya. Namun prioritas setiap orang berbeda-beda.
Terkadang saat berseluncur di facebook, membaca berbagai macam status dari berbagai teman, dapat terbaca prioritas mereka. Di saat beberapa teman memamerkan anak2nya, atau cemas akan anak2nya, atau berbagi ilmu yg berkaitan dengan anak2, aku memamerkan suasana Jepang. Di saat beberapa teman memasang foto testpack bergaris dua, aku memasang foto alat di laboratorium disini. Di saat teman mengeluhkan atau mengkhawatirkan soal anaknya atau kehamilannya, aku mengkhawatirkan tesisku kapan selesai.
Ya, setiap orang mempunyai prioritas masing2. Hidup adalah soal pilihan. Mana yang akan kita dahulukan, dan mana yang akan kita kerjakan kemudian.
Sabtu, 29 November 2014
Student Exchange part 2 -- How to Adapt
Tuh kaannn.... kalo lagi in a good mood ya gini nihhh. Bisa corat-coret teruuusssss.... Xixixixi.... Sekarang mau crita gimana hari2 pertama tinggal di Matsuyama ini. Kesan pertamaku untuk kota ini adalah.... Kotanya kecil yak hehehe. Gak ada macet, cuman antri teratur ajahh.
Hal lain yg baru buatku adalah.... memilah sampah sebelum dibuang. Oke oke, di lingkungan rumahku sih sebenarnya udah ada kegiatan memilah sampah ajah. Cuman karena belom wajib, jadi ya males ajah wkwwkwk (piss bu RT). Pokoknya pisahin antara sampah plastik, sisa makanan, trus yg bisa dibakar, sama botol yg ada tanda PET nya.

Hal lainnya adalah soal transportasi. Sejak sebelum berangkat, sekretaris sensei-ku udah ngasih tau kalo nanti akan disewakan sepeda. Alamakk, terakhir naik sepeda mungkin 10 tahun yg lalu ya, dengan kemampuan yg sudah menurun banyakkk dibanding jaman SMP. Dulu sih pas SMP masih lancar dan gesit bersepeda kemana2, lah sekarang??? Hahahaha... Dan lihatlah sepeda itu kawan... Entah berapa tahun umurnya, tapi bisa kupastikan tidak setua aku hehehe.... Awal dapet pinjeman sepeda yaaa lumayan lah bisa menyesuaikan. Tapi pas hujan turun di hari minggu padahal janjian ma temen kampus mo ke student festival, gak bisa kemana2 lah kami. Dan orang2 disini dengan luwesnya naik sepeda dengan setang di tangan kiri dan payung di tangan kanan. Mungkin seluwes orang2 di Jakarta yang ahli naik motor sambil sms-an. Hahahaha.....
Tapi lama kelamaan ya mulai lancar lah ya nyepedanya. Ke kampus, belanja, makan, wisata semuaaaaa naik sepeda. Belanjaan bisa ditaruh di keranjang depan tuhh. Jadi berpikir mungkin perlu beli sepeda ntar kalo udah pulang ke Jakarta hahahaha.....
Datang ke Jepang di bulan November artinya menikmati musim gugur sebelum beralih ke musim dingin. Di siang hari temperatur berkisar 20 derajat, awalnya ya berasa dingin. Tapi sekarang udah mulai terbiasa, hahaha gayaaaaaa. Kalo lagi mendung atau hujan paling dingin di suhu 15. Malam hari suhu terendah pernah sampe 6 derajat, dingin bangetttt.... Tapi pernah juga di suhu 17, seperti malam ini.
Musim gugur itu yg bikin indah disini adalah pohon momiji. Daunnya akan berubah warna sebelum akhirnya berguguran. Coba tuh liat foto di atas, masih ijo kan warnanya.... Trus coba deh liat deh foto yg di samping kanan nih. Warnanya mulai menguning dan merah. Bagus yaaaaaa...... Langitnya juga pas biruuuuu.... Jadi pengen nyanyi.
Walau kau kini jauh disana, kita memandang langit yang sama. Jauh di mata namun kau dekat di hati.............
Hal lain yg baru buatku adalah.... memilah sampah sebelum dibuang. Oke oke, di lingkungan rumahku sih sebenarnya udah ada kegiatan memilah sampah ajah. Cuman karena belom wajib, jadi ya males ajah wkwwkwk (piss bu RT). Pokoknya pisahin antara sampah plastik, sisa makanan, trus yg bisa dibakar, sama botol yg ada tanda PET nya.

Hal lainnya adalah soal transportasi. Sejak sebelum berangkat, sekretaris sensei-ku udah ngasih tau kalo nanti akan disewakan sepeda. Alamakk, terakhir naik sepeda mungkin 10 tahun yg lalu ya, dengan kemampuan yg sudah menurun banyakkk dibanding jaman SMP. Dulu sih pas SMP masih lancar dan gesit bersepeda kemana2, lah sekarang??? Hahahaha... Dan lihatlah sepeda itu kawan... Entah berapa tahun umurnya, tapi bisa kupastikan tidak setua aku hehehe.... Awal dapet pinjeman sepeda yaaa lumayan lah bisa menyesuaikan. Tapi pas hujan turun di hari minggu padahal janjian ma temen kampus mo ke student festival, gak bisa kemana2 lah kami. Dan orang2 disini dengan luwesnya naik sepeda dengan setang di tangan kiri dan payung di tangan kanan. Mungkin seluwes orang2 di Jakarta yang ahli naik motor sambil sms-an. Hahahaha.....
Tapi lama kelamaan ya mulai lancar lah ya nyepedanya. Ke kampus, belanja, makan, wisata semuaaaaa naik sepeda. Belanjaan bisa ditaruh di keranjang depan tuhh. Jadi berpikir mungkin perlu beli sepeda ntar kalo udah pulang ke Jakarta hahahaha.....| Pohon momiji di awal aku dateng, masih berwarna hijau |
![]() |
| Pohon momiji yang aku foto hari kamis kemarin |
Walau kau kini jauh disana, kita memandang langit yang sama. Jauh di mata namun kau dekat di hati.............
Student Exchange part 1 -- Perjalanan
Lama gak corat coret disini ya..... almost a year. Kebiasaan lama emang susah diubah... Di satu waktu antusias terhadap sesuatu trus lama2 jadi males sendiri hehehe.... Oke, cukup sudah membuka kelemahan2ku hahaha....
Judulnya menarik ga sih... student exchange... alias pertukaran pelajar (dalam hal ini mahasiswa ya). Iyaa bener.... sekarang aku lagi di Jepang loohhh, untuk student exchange di Ehime University. Pasti sebagian besar dari kalian mengerutkan dahi.... Dimana ya Ehime itu? Sama denganku pas pertama kali tau kalo di Ehime lah aku akan menuju. Maka kubukalah google map hehehe.... Ehime Prefecture terletak di pulau Shikoku, jauuuhhhh dari Tokyo. Jadi jangan mengira kalo aku berada di kota besar yaaaaa hehehe....
Yang mau aku ceritain pertama apa ya.... hmmm..... proses awalnya dulu aja yah.... Jadi begini ceritanya....
Awalnya pas pertama kali menghadap dosen pembimbing beliau udah ngasihtau kalo akan ada program ke Jepang kalo mau analisis sampelku disana. Sampel untuk keperluan tesisku ya. Lalu beberapa bulan kemudian, sekitar bulan Mei atau Juni lah ya, dosen pembimbing kirim sms yg isinya agar aku kirim abstrak tesis, kalo memang berniat ikutan student exchange. Tergopoh2 (halah) aku membuat abstrak itu dengan disupervisi teman kantorku. Lalu siang itu juga dengan mengucap bismillah aku klik tombol send di emailku kepada dosenku yang isinya abstrak dan cv ku.
Suatu hari di bulan Ramadhan, datanglah sms dari dosenku yang isinya pemberitahuan bahwa aku diterima!!!! Alhamdulillah, bisa ke Jepang juga gratisan hehehehe... Ga juga sih, tetep tombok dikit2 lah wkwkwk......
Tanggal 3 November adalah tanggal keberangkatanku bersama 2 orang teman dr ITB juga. Agak2 sedih juga sih ninggalin suami untuk waktu yang lama, hampir 2 bulan. Kan belum pernah berpisah dari suami dengan waktu lama seperti kali ini (cieeeeee). Lanjoottttttt...... Pagi itu di terminal 3 bandara Soetta, diawali dengan candaan dari petugas imigrasi (halah), lalu kami bertolak ke Kualalumpur untuk transit selama 5 jam. Di pesawat awalnya tidur tp trus ngobrol2 dengan penumpang di sebelah, dan akhirnya mendapatkan info biro travel yg ga ada salahnya untuk dicoba pada rencana liburan selanjutnya hehehe....
Tiba di KLIA, cari sarapan, di McD hahaha.... Abis bingung mo makan apa hehe. Jadilah nongkrong di McD sekalian lunch. setelah itu sholat dan menuju ruang tunggu untuk berangkaatttt ke Jepang!!!!
Perjalanan di udara yang terlama yang selama ini aku lakukan, dengan naik pesawat low cost --tanpa menyebut merk tp mungkin kalian tau yg kumaksud-- tanpa ada makanan gratis, menikmati negeri diawan di siang hari sampe sunset dan akhirnya gelapp.
Sekitar jam 10an malam waktu setempat, mendaratlah kami di Bandara KIX di Osaka. Tapi perjalanan belum usai, sodara. Masih butuh sekitar 6 jam untuk sampai di kota Matsuyama, Ehime Prefecture, dengan menggunakan bis. Karena satu2nya pesawat ke Matsuyama (Peach Airline) hanya ada di jam 20.30, maka ga mungkin kami naik pesawat.
Maka pilihannya adalah naik bis keesokan harinya. Maka malam itu kami bermalam di bandara. Don't worry be happy, banyak kok yang tidur di bandara hehehe... Tuh liat aja di gambar sebelah.
Pagi tanggal 4 November 2014 sekitar jam 6 kami turun ke lantai 1 bandara dan membeli tiket pake mesin. Maklum baru pertama kali nih, jd ya perlu diceritakan lahhhh... memang terdengar ndeso tapi biarlah hahaha....
Bis pertama yang kami naiki menuju Stasiun Namba, seharga 1000 yen. Menikmati sunrise di Jepang pertama kalinya, serta jalanan yg sepi dan jauh dari kata macet. Mungkin karena masih pagi, atau memang seperti begitu adanya disini.
Sekitar 50 menit bis tiba di Namba, lalu dengan sedikit berlari aku mencari loket untuk membeli tiket ke Matsuyama karena info dari kawan bahwa bis akan berangkat pada jam 7.25. Kalo sampe ga dapet yg jam segitu harus menunggu sekitar 2 jam lagi. Alhamdulillah masih sempat dapat tiket utk jam tersebut, gak lama kemudian kami pun sudah berangkat. Bisnya enak, kursinya satu2, jadi nyaman lah.
Sekitar jam 1 siang kami sampai di Stasiun Matsuyama dan dijemput oleh 2 org kawan dan Sensei kami. Lalu kami diantar ke Miyuki Dormitory, tempat tinggal kami selama disini (liat buletan biru di peta di bawah). Setelah dikasih tau peraturan dll oleh pengelola asrama, Sensei meninggalkan kami dan kami pun berkesempatan untuk sholat dan diantar belanja oleh kawan2.
Gitu deh ceritanya perjalananku ke Jepang untuk yg pertama kalinya. Masih akan ada cerita2 berikutnya kok, dengan foto2 lainnya tentunya.....
Judulnya menarik ga sih... student exchange... alias pertukaran pelajar (dalam hal ini mahasiswa ya). Iyaa bener.... sekarang aku lagi di Jepang loohhh, untuk student exchange di Ehime University. Pasti sebagian besar dari kalian mengerutkan dahi.... Dimana ya Ehime itu? Sama denganku pas pertama kali tau kalo di Ehime lah aku akan menuju. Maka kubukalah google map hehehe.... Ehime Prefecture terletak di pulau Shikoku, jauuuhhhh dari Tokyo. Jadi jangan mengira kalo aku berada di kota besar yaaaaa hehehe....
Yang mau aku ceritain pertama apa ya.... hmmm..... proses awalnya dulu aja yah.... Jadi begini ceritanya....
Awalnya pas pertama kali menghadap dosen pembimbing beliau udah ngasihtau kalo akan ada program ke Jepang kalo mau analisis sampelku disana. Sampel untuk keperluan tesisku ya. Lalu beberapa bulan kemudian, sekitar bulan Mei atau Juni lah ya, dosen pembimbing kirim sms yg isinya agar aku kirim abstrak tesis, kalo memang berniat ikutan student exchange. Tergopoh2 (halah) aku membuat abstrak itu dengan disupervisi teman kantorku. Lalu siang itu juga dengan mengucap bismillah aku klik tombol send di emailku kepada dosenku yang isinya abstrak dan cv ku.
![]() |
| Mejeng di KLIA |
Tanggal 3 November adalah tanggal keberangkatanku bersama 2 orang teman dr ITB juga. Agak2 sedih juga sih ninggalin suami untuk waktu yang lama, hampir 2 bulan. Kan belum pernah berpisah dari suami dengan waktu lama seperti kali ini (cieeeeee). Lanjoottttttt...... Pagi itu di terminal 3 bandara Soetta, diawali dengan candaan dari petugas imigrasi (halah), lalu kami bertolak ke Kualalumpur untuk transit selama 5 jam. Di pesawat awalnya tidur tp trus ngobrol2 dengan penumpang di sebelah, dan akhirnya mendapatkan info biro travel yg ga ada salahnya untuk dicoba pada rencana liburan selanjutnya hehehe....
Tiba di KLIA, cari sarapan, di McD hahaha.... Abis bingung mo makan apa hehe. Jadilah nongkrong di McD sekalian lunch. setelah itu sholat dan menuju ruang tunggu untuk berangkaatttt ke Jepang!!!!
| Selfie di pesawat hehehe |
Sekitar jam 10an malam waktu setempat, mendaratlah kami di Bandara KIX di Osaka. Tapi perjalanan belum usai, sodara. Masih butuh sekitar 6 jam untuk sampai di kota Matsuyama, Ehime Prefecture, dengan menggunakan bis. Karena satu2nya pesawat ke Matsuyama (Peach Airline) hanya ada di jam 20.30, maka ga mungkin kami naik pesawat.
| Negeri di awan di siang hari |
![]() |
| Senja di angkasa |
Maka pilihannya adalah naik bis keesokan harinya. Maka malam itu kami bermalam di bandara. Don't worry be happy, banyak kok yang tidur di bandara hehehe... Tuh liat aja di gambar sebelah.Pagi tanggal 4 November 2014 sekitar jam 6 kami turun ke lantai 1 bandara dan membeli tiket pake mesin. Maklum baru pertama kali nih, jd ya perlu diceritakan lahhhh... memang terdengar ndeso tapi biarlah hahaha....
Bis pertama yang kami naiki menuju Stasiun Namba, seharga 1000 yen. Menikmati sunrise di Jepang pertama kalinya, serta jalanan yg sepi dan jauh dari kata macet. Mungkin karena masih pagi, atau memang seperti begitu adanya disini.
Sekitar 50 menit bis tiba di Namba, lalu dengan sedikit berlari aku mencari loket untuk membeli tiket ke Matsuyama karena info dari kawan bahwa bis akan berangkat pada jam 7.25. Kalo sampe ga dapet yg jam segitu harus menunggu sekitar 2 jam lagi. Alhamdulillah masih sempat dapat tiket utk jam tersebut, gak lama kemudian kami pun sudah berangkat. Bisnya enak, kursinya satu2, jadi nyaman lah.Sekitar jam 1 siang kami sampai di Stasiun Matsuyama dan dijemput oleh 2 org kawan dan Sensei kami. Lalu kami diantar ke Miyuki Dormitory, tempat tinggal kami selama disini (liat buletan biru di peta di bawah). Setelah dikasih tau peraturan dll oleh pengelola asrama, Sensei meninggalkan kami dan kami pun berkesempatan untuk sholat dan diantar belanja oleh kawan2.
Gitu deh ceritanya perjalananku ke Jepang untuk yg pertama kalinya. Masih akan ada cerita2 berikutnya kok, dengan foto2 lainnya tentunya.....
Langganan:
Postingan (Atom)


