Rabu, 31 Agustus 2016

SATU HARI YANG INDAH (part 2)

Setelah memarkir motorku dengan baik dan benar, aku meminta ijin untuk sholat dzuhur sebentar, dan ternyata Arya pun menumpang sholat di kamarku. Lima belas menit kemudian aku pun sudah duduk di motor Arya. Cowok itu mengarahkan motornya ke selatan, menuju jalan Solo. Lalu berbelok ke arah barat, menyusuri jalan Solo. Aku tidak berani melingkarkan tanganku ke badannya, walau aku sangat ingin.
Di atas motor kami bercakap-cakap ringan, bercerita tentang kuliah masing-masing. Dia bercerita bahwa dia juga bekerja paruh waktu, sekedar untuk menambah uang jajan. Kekagumanku terhadap kemandiriannya makin besar. Aku tau sejak SMA dia sudah berusaha mandiri karena dia bersekolah di kota yang berbeda dari orangtuanya. Jadi dia tidak ingin menambah beban orangtuanya. Aku yakin tidak semua cowok seusiaku mempunyai sikap yang seperti itu. Contohnya, mantanku yg kedua. Oops.
Tak terasa kami sudah sampai di daerah dekat terminal Umbulharjo, berhenti di warung teman Arya. Kebetulan si teman itu sedang berada di warungnya.
“Woy Ya, akhirnya datang juga,” sambut temannya itu.
“Iya nih Ga, sori baru sempet sekarang,” jawab Arya sambil menyalami temannya. “Kenalin nih, Raina,” sambungnya memperkenalkan kami.
“Raina,” kataku sambil mengulurkan tangan.
“Yoga,” jawab si teman menyambut uluran tanganku. “Pacarnya Arya ya?” tebaknya.
Aku berpandangan dengan Arya sambil tertawa. Aku tidak menjawab, kubiarkan Arya saja yang menjawabnya.
“Temen SMP,” itu jawaban Arya.
“Beneran?” Tanya Yoga sambil melihat ke arahku tidak percaya.
“Iya bener,” jawabku sambil tertawa.
Yoga menawari kami makanan dan minuman yang tersedia di warungnya. Kami memutuskan memesan jus dan siomay saja. Lalu dua pria itu terlibat percakapan yang tidak melibatkan aku. Dari yang aku dengar, Arya sedang bertanya mengenai tips-tips berbisnis pada Yoga. Sebenarnya aku kurang tertarik dengan bisnis, namun aku tetap menyimak percakapan itu. Lebih tepatnya memperhatikan cowok hitam manis yang duduk di seberang mejaku ini.
Pikiranku membawa kembali ke masa SMP, sekitar Sembilan tahun yang lalu. Aku mengenalnya sebagai teman sekelasku. Tidak ada kegiatan ekskul yang kami lakukan bersama. Dia mengikuti kegiatan Pramuka, sedangkan aku memilih voli. Di kelaspun kami duduk tidak berdekatan. Kesamaan kami hanyalah tempat les bahasa Inggris yang sama, dengan jadwal yang berbeda. Kelasku dimulai setelah kelasnya selesai. Terkadang kami ngobrol sebentar sebelum dia pulang. Tidak ada yang istimewa saat kami masih berumur 12-13 tahun itu.
Saat pertengahan semester 2, aku harus pindah mengikuti orangtuaku yang ditugaskan di kota lain. Masih kuingat jelas, dia meminta alamatku yang baru. Untuk berkirim surat, katanya waktu itu. Dan benar, sejak kepindahanku kami selalu berkirim surat. Sekedar bercerita tentang sekolahku yang baru, atau dia menceritakan teman-teman kami yang di sekolah lama. Terkadang dia menyebutkan nama seorang teman cowok yang lain, yang menurut dia menyukai aku. Tanpa sadar aku tersenyum, aahhh salah satu masa indahku.
“Woyyy,” Arya melambaikan tangannya di depan wajahku.
Aku pun tersentak.
“Ngelamunin apaan sih kayanya asik banget,” kata Arya.
Aku pun hanya tertawa sambil meminum jusku. “Yoga mana?” tanyaku saat tidak melihat Yoga duduk di sebelahnya.
“Halaahhh, ngelamunnya khusyu banget sampe gak sadar kalo Yoga tadi pamit mau pulang duluan”, jawab Arya sambil tertawa ngakak.
“Hahhhh,” aku bengong, lalu ikut tertawa.
“Yuk diabisin, kita balik,” ajak Arya.
Yaaahhhhh, balik sekarang???
Kembali kami melaju di jalan, Arya mengambil rute kembali ke kosku. Jam tanganku menunjukkan pukul empat sore. Dengan kecepatan 40 km/jam, Arya memarkirkan motornya di kosku sekitar 30 menit kemudian. Kembali Arya numpang sholat asar di kamarku. Setelah aku pun selesai sholat, kami duduk-duduk di depan kamarku. Saat sedang ngobrol-ngobrol, beberapa teman kosku menuju parkiran motor bersiap pergi.
Iseng aku bertanya ke salah satu dari mereka, “Mau kemana mbak?”
“Ke sekatenan Na,” jawab Mbak Rere.
“Sekarang lagi ada sekatenan ya?” tanyaku lagi.
“Iya, udah semingguan ini. Yuk kesana,” ajaknya.
“Ya mbak, makasih. Ntar aja,” tolakku halus.
Tak lama kemudian mereka sudah berangkat meninggalkan kos.
Tiba-tiba Arya menanyakan sesuatu padaku.
Aku yang masih memperhatikan motor-motor teman kosku pergi menoleh pada Arya dengan sedikit kaget, “Hah?”
“Ishhh, dasar kuping,” Arya mengacak rambutku pelan.
Aku hanya meringis.
“Udah pernah ke sekaten?” Arya mengulang pertanyaannya.
“Oooooooo,” aku baru mengerti. “Kalo yang di Jogja belum.”
“Kesana yuk.”
“Hahhhh??” kali ini aku benar-benar kaget.
“Kamu nihhh parah banget kupingnya,” Arya menunjukkan wajah gemas.
Aku tertawa, “Bukan gitu. Kaget aja tiba-tiba kamu ngajak ke sekaten.”
“Emang kenapa? Takut cowokmu marah ya?”
Akupun teringat kalo hari ini Sabtu.
“Enggak laahhh… Kan tadi kita abis pergi, kaget aja kok ngajak pergi lagi.”
“Jadi gak mau?”
“Ya mauuuuu.”
Arya tertawa. Lalu dia bangkit dari kursinya. “Ya udah aku balik ke kos dulu. Abis maghrib aku jemput ya.”

“Oke,” jawabku.

(bersambung ke part 3)

SATU HARI YANG INDAH (part 1)

Huft, akhirnya selesai juga laporan akhir praktikum ini aku ketik. Aku susun lembaran-lembaran kertas setebal 60 halaman yang diketik dengan mesin ketik milik kakakku dulu. Yap, di jaman yang sudah mulai menggunakan komputer, printer dan disket ini, laporan tidak boleh diketik menggunakan komputer.  Indah sekali kan?
Kulihat jam dinding, jarum panjang menunjuk ke angka 11. Setelah mandi, aku akan menjilidkan laporan ini, lalu menuju tempat penyewaan komik. Hari ini akan kuhabiskan dengan membaca komik Detektif Conan beberapa jilid, dan jika beruntung, aku bisa meminjam buku Harry Potter terbaru. Hmmmm, hari yang indah.
Motor kuparkir di depan Exclusive, toko yang melayani fotokopi, penjilidan dan lain-lain. Baru sedetik kuhempaskan badanku ke kursi tinggi di depan meja, tiba-tiba, “Hei Na, apa kabar?” Suara seorang cowok menyapaku ramah.
Kutengok ke kiri ke arah sumber suara. Dengan sedikit terkejut, “Haaii Ya, baikkk… Kamu apa kabar? Kok bisa sampe sini?”
“Baik juga. Kamu mau fotokopi?”
“Enggak, aku mau jilid laporan. Eh bentar ya, aku jilid ini dulu,” kataku sambil memanggil salah satu pegawai toko. Tanpa menunggu jawabannya aku langsung menyebutkan jilidan yang aku mau ke pegawai itu. Kemudian si pegawai membawa laporanku, dia menjanjikan jilidan akan selesai dalam waktu 30 menit.
Aku kembali menengok ke cowok tadi. “Eh kamu belum jawab, kamu ngapain kesini? Mau jilid juga?”
Cowok itu menjawab, “Enggak. Aku tadi pas lewat sini lihat kamu belok ke toko ini. Trus aku ikut belok aja kesini.”
Wajahku terasa sedikit menghangat. Dia ingin bertemu denganku.
“Emang kamu mau kemana?” tanyaku.
“Tadinya sih mau main ke tempat temenku, katanya dia sekarang buka warung kecil-kecilan.”
“Oooo,” aku sambil manggut-manggut.
Dia Arya, mantan kekasihku yang pertama kali. Temanku di bangku SMP yang masih selalu berkomunikasi denganku walau sudah berbeda kota. Dan di masa SMA kami sama-sama mengakui mempunyai perasaan yang sama, lalu memutuskan untuk berpacaran. Walau tidak lama, tetapi delapan purnama itu cukup berkesan.
“Na, abis ini kamu mau kemana?” Tanya Arya membuyarkan lamunanku.
“Gak ada acara sih, paling sewa komik aja hehehe,” jawabku sambil tertawa.
“Kamu nih masih aja doyan komik ya,” katanya balik tertawa.
“Masih inget Ya?” Sepertinya wajahku agak memerah.
“Iyalah. Kan dulu kamu sering cerita di surat-suratmu.”
“Emang surat-suratku masih ada?” tanyaku penasaran.
“Masih ada di rumah. Emang surat-suratku udah ga ada?”
“Masih juga, di rumah.”
Hatiku terasa makin hangat mengetahui hal itu. Teringat aku selalu menunggu-nunggu surat-surat dipajang di jendela ruang TU sekolah. Ledekan sahabat-sahabatku saat aku menerima surat dari Arya. Surat itu selalu kubuka di kelas dengan tak sabar. Ingin mengetahui kabar Arya, apa yang dia alami di hari-hari kemarin. Dan sesampainya di rumah, aku tak sabar menuliskan balasan surat itu. Ingin kuceritakan semuanya, tentang sekolahku, kelinciku, ataupun tentang sahabat-sahabatku. Masih teringat di salah satu suratku aku menulis bahwa salah satu sahabatku mengundangku dan dia untuk datang di acara ulangtahunnya yang ke-17. Arya pun bertanya transportasi umum apa yang dia gunakan untuk sampai di kotaku? Tetapi aku tidak berani mengambil resiko, aku takut orangtuaku tahu bahwa aku punya pacar. Dengan terpaksa aku mengatakan padanya bahwa dia tidak perlu datang. Aku juga kasihan, dia harus melewati tiga kota untuk mencapai kotaku, selain itu dia juga harus menyisihkan uang sakunya hanya untuk ke kotaku.
“Mbak, ini jilidannya udah selesai,” mbak pegawai mengusik lamunanku.
“Eh,” wajahku sedikit terkejut. “Oiya mbak.” Setelah mengecek hasilnya dan menyelesaikan pembayaran, “Ya jilidanku udah selesai. Kamu mau kemana?”
“Kita jalan aja yuk. Mau?” ajaknya.
Mau banget laaahhhh, hatiku berkata dengan girang. Tapi dengan bodohnya aku balik bertanya, “Kemana?”
Arya mengangkat bahu. “Kemana ajalah, puter-puter Jogja.”
“Katanya mau ke warungnya temenmu?” Bodoh banget, rutukku. Kenapa sih gak langsung jawab iya aja, gak usah nanya-nanya. Kalo Arya berubah pikiran gimana????
“Ya nanti mampir kesana aja bentar.” Arya lalu berdiri, “Udah yuk, mampir kosmu dulu taruh motormu.”
Tanpa bertanya lagi aku langsung mengikuti dia keluar dan 5 menit kemudian kami telah sampai di kosku.

(bersambung ke part 2)

Cerpen

Duluuuuu.... jaman SMA, aku suka menulis cerpen. Isinya ga jauh-jauh soal romansa remaja. Hampir semuanya berkisah tentang cewe yg secara fisik ga dipandang sempurna oleh cowo2 usia remaja, tetapi akhirnya ada cowok yang mencintai dia apa adanya dia. Dan kadang kalimat endingnya terlalu klise, atau terlalu romantis, atau terlalu "wagu" kalo orang jawa bilang. Aku sadar kalo tulisan itu menyuarakan suara hatiku yang ga sempurna di mata cowok2 seusiaku, dan aku ingin dicintai seperti apa adanya aku. Lucu memang, tapi itulah cerpen yang aku buat.

Jaman aku SMA masih jarang komputer. Jadi cerpen2 itu aku tulis tangan di lembaran hvs bergaris, mohon dimaklumi jika banyak noda tip-ex disitu. Pembaca setiaku seringnya kakakku yang perempuan, dan terkadang teman2 dekatku di kelas. Mungkin kakakku dalam hati menertawakan cerpenku yang sangat khas abg, kalo jaman sekarang mungkin disebut abg alay. Tapi dia menghargai cerita2 yang aku tulis. Aku sangat berterimakasih untuk itu. Love u sist xoxo.

Berhubung cerpen2 itu dalam bentuk tulisan tangan dan tersimpan di rumah orangtuaku di Solo (mudah2an masih ada), sekarang aku ingin mencoba menulis cerpen lagi dengan setting yang lebih dewasa sedikit. Selamat membaca!!

Jumat, 09 Oktober 2015

Studen Exchange part 4 - Jalan-jalan (2)

Late post banget ya... Cerita lagi tentang perjalanan di Jepang. But better late than never kan ya hehehe...

10 hari sebelum pulang ke Indonesia, kami menyempatkan diri jalan-jalan ke sebuah benteng yang bangunannya bergaya eropa. Aku lupa apa nama benteng atau nama bukitnya. Perjalanannya lebih jauh daripada ke Matsuyama Castle. Tentu saja dengan naik sepeda, beberapa kali sepeda aku tuntun karena jalanan menanjak dengan cukup curam. Lagi-lagi perjalanan yang melelahkan terbayar dengan pemandangan yang begitu indah.... Sesampainya di atas bukit tentu tak lupa mengabadikan berbagai foto disana di tengah udara musim dingin Matsuyama.

Setelah puas kami menuruni bukit untuk kembali ke kota lalu menghangatkan diri di sebuah restoran sushi. Surga deh buat pecinta sushi. Dengan hanya 108 yen per porsi atau sekitar 10ribuan waktu itu, kita bisa puasss memilih-milih sushi favorit. Paling-paling hanya mengeluarkan 1000 yen atau sekitas 100ribu udah kekenyangan sushi. Coba disini.... brapa ratus ribu tuh baru bisa kenyang!!

Playground di atas tempat parkir, sebelum menuju castle, dengan pemandangan kota Matsuyama

Berjalan kaki menuju castle

Pose sebelum menuju castle yang nampak di balik pohon itu

Pemandangan kota Matsuyama, nampak di kejauhan Matsuyama Castle
Bersama teman-teman
Tuh dia castle nya mulai keliatan
Berbagai macam pose bersama teman2 peserta student exchange dan mahasiswa dari Indonesia

Benteng di atas bukit dengan pemandangan kota Matsuyama di bawahnya
Grilled salmon sushi hanya 108 yen

Kamis, 01 Oktober 2015

.... dan tespek itu bergaris dua

Student Exchange yang aku jalani selama sekitar 50 hari membawa berkah yang tak ternilai harganya bagiku dan suami. Kehidupan yang aku jalani disana memang sedikit berbeda, terutama untuk hal transportasi dan makanan. Sepeda menjadi alat transportasi utama untuk kemana-mana. Ke kampus, belanja, wisata, beli oleh2, karaoke, ya pake sepeda. Makanan yang aman dikonsumsi oleh muslim ya ikan. Kalo pengen ayam ya harus ke supermarket yang jual ayam dengan label halal. Ditambah di kantin kampus selalu ada salad, jadi hampir tiap hari aku makan ikan dan salad.

Sempat aku menghitung2 siklusku, kemungkinan saat aku pulang ke Jakarta itu pas masa suburku. Lalu aku berandai-andai siapa tau setelah itu aku hamil. Aku cukup sering sih berkhayal, berandai-andai tentang banyak hal. Anggap aja itu adalah salah satu bentuk sugesti positif ya....

Masih sangat aku ingat, 19 Desember 2014 adalah HPHT ku. HPHT itu adalah Hari Pertama Haid Terakhir. HPHT itu salah satu patokan untuk menghitung usia kehamilan dan HPL (Hari Perkiraan Lahir). Tanggal 25 Desember 2014 aku menginjakkan kaki lagi di Jakarta. Hari ke-35 setelah HPHT (H-35) aku belum haid. Aku selalu menganggap kalo aku telat haid setelah H-35, karena siklus haid wanita yg normal itu 21-35 hari. Dan karena aku PCO, jadi aku ambil siklus yg terpanjang sebagai patokan. Nah setelah H-35 belum haid, aku baru tespek di H-39. Bukannya apa-apa, tapi selalu lupa untuk tespek di pagi hari persis setelah bangun tidur. Sebenernya sih tespek dengan urine di jam berapa aja bisa, tapi pengen yg lebih afdol aja, urine pertama di pagi hari hehe...

H-39, hari Senin, tanggalnya 26 Januari 2015, pagi2 sekitar jam 5an lah... Bangun tidur, ambil tespek, baru ke kamar mandi. Tampung urine, celupin tespek, lalu merhatiin urine nya menjalari tespek. Melongo waktu liat garis yang bawah nongol duluan, baru garis yang atas. Keluar dari kamar mandi, ambil tespek satu lagi. Cek tanggal kadaluarsanya, masih oke. Celupin lagi. Lagi2 garis yang bawah nongol duluan. Melongo lagi. Berasa gak percaya. Langsung ke kamar, nunjukin ke suami. Ikutan melongo. Alhamdulillah, bersyukur yang sebesar2nya hanya pada Allah SWT. Akhirnya aku melihat tespek bergaris dua di usia pernikahan kami 6 tahun 5 bulan 2 hari.


 Sore itu juga aku langsung ke dokter untuk memastikan. Masuk ruangan dr Irham yang udah sekitar 3 bulan ga aku sambangi. Ramah seperti biasanya menyambut para pasiennya. Ngobrol2 bentar basa-basi nanya kapan aku pulang dari Jepang.

IRS : Kapan pulang dari Jepang?
A : Udah dari tgl 25 Desember kemaren dok. Maaf ya dok ga bawain oleh2. Mahal2 disana.
IRS : Iya emang di Jepang tuh mahal2 semua.
A : Oleh2nya ini aja ya dok
(aku ngeluarin 2 tespek)
IRS : Alhamdulillah.... selamat yaa..
A : iya dok. HPHT 19 desember dok.
IRS : Ya udah yuk USG. Tapi biasanya belum kliatan sih. Apa 2 minggu lagi aja USG nya? Nanti saya kasih penguat dan vitamin.
A : iya sih, kadang baru kliatan penebalan dinding rahim dulu ya dok.
IRS : iya... tp gpp deh kita USG aja sekarang.

Dan voila..... penampakan inilah yang tampak saat USG. Baru berasa benar2 yakin bahwa Allah mengijinkan aku hamil. Kantung janin sudah ada, bahkan titik putih bakal calon janin juga sudah ada. Subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallah allahu akbar.


Rabu, 30 September 2015

Student Exchange Part 3 -- Jalan-jalan (1)

Note: tulisan tentang jalan-jalan ini aku tulis sewaktu masih di Jepang, tapi baru aku publikasikan hari ini

Berhubung kemarin2 ga sempet update lagi tentang masing2 acara jalan2 di Matsuyama jd dirapel aja yaaaaa.....

Matsuyama itu kotanya ga begitu gede, jadi kalo ke tempat wisata cukup naik sepeda juga udah sampe hehe. Pertama yang dikunjungi adalah Matsuyama Castle, tapi sebelumnya makan dulu dongg di Namaste. Apakah Namaste? Adalah tempat makan di Matsuyama yang mengusung menu India dan insyaAllah ayam dan daging dombanya halal, yeah!!! Menu yang aku makan itu mutton curry alias kari domba plus roti naan. Uenak pollllll......
Mutton curry plus naan bread, mak nyusss
Bareng temen2 peserta student exchange di Namaste
 Untuk penikmat makanan pedas, yang kangen makan pedes karena di Jepang pada ga doyan sambel (tapi doyan wasabi), di Namaste bisa pesen level kepedesannya. 3 kali makan di Namaste cukup dengan level 6, tp temen yg ngakunya orang Padang merasa tertantang dan terakhir memesan level 10 dan 15. Hasilnya yang pesan di level 15 keringetan kaya orang mandi hahahaha.....

Tangga dimulainya perjuangan berjalan kaki
Selanjutnya adalah Matsuyama Castle di atas bukit. Menuju kesana bisa naik kereta gantung sih, tapi yahhh namanya mahasiswa yang ngirit dan abis makan di Namaste, jadi marilah kita memarkir sepeda dan berjalan kaki hahahaha..... Lumayan lahhh buat nurunin karinya. Tapi setelah sampe di atas terbayar lah ngos2annya tadi. Pemandangan kota dari atas bukit, castle nya sendiri dan mendingan liat sendiri foto2 ini :D
Apa ya ini? Lupa2 ga inget. Denah castle dan sekitarnya kayaknya

Kereta gantung menuju ke castle tanpa berkeringat. 

Penampakan Matsuyama Casrle dan bangunan2 di sekitarnya sebelum sampai di TKP

ki-ka: Iksan, akyu, Dwijo, Galuh dan Heri yang duduk di depan.

Penampakan kota Matsuyama dari atas bukit

Berpose di depan pohon Momiji

Matsuyama Castle

Nemenin Dwijo berpose dengan mbak2 berpakaian yukata


waiting for pregnancy - Back to Doctor

Haduhhh update nya ga rutin yak... Maklumlah, kalo lg mood bisa nulis terus2an, tp kalo moodnya lg melayang ya kabur deh tulisannya :p

Oke... terakhir sampe cerita nyoba pengobatan alternatif ya... Singkat cerita, setelah ke pak Haji di daerah Depok, aku dan suami memutuskan untuk berhenti kesana. Alasannya, yang pertama memang aku dan suami sepakat untuk berhenti kesana jika sebelum puasa belum berhasil. Selain itu sebenarnya suami kurang sreg dengan segala pengobatan alternatif dan lebih mantap jika berobat ke dokter. Dan ternyata setelah itu aku dapet haid ga berhenti2 sampe 2 minggu lebih. Hal itu membuat aku kembali ke dokter.

Dokter yg aku pilih dr. Ismail di RSIA Buah Hati Pamulang. Awalnya aku sih memilih RS nya dulu. Pertimbanganku Buah Hati cukup terkenal di wilayah Ciputat, dan sedang membangun RS baru di Pamulang, yang lebih dekat dari rumah. Waktu mendaftar kesana, dokter yg jadwal praktek di hari itu adalah dr. Ismail. Pertama sih kesannya dokternya baik, komunikatif juga, dan memberikan motivasi bahwa penderita PCO bisa hamil. Inti dari kunjunganku sebenarnya asal haidku berhenti. Jadi setelah haid normal lagi, aku ga balik kesitu untuk program. Alasanku, aku agak kurang sreg aja karena selama kesitu cuman di usg abdomen. Rasanya kurang mantep aja karena biasa di dr. Reza selalu usg TV untuk tau kondisi sel telurku. Trus yang kedua, mungkin karena masih baru ya, administrasi nya masih manual jadi lama pisan nunggunya.

Setelah itu belum ke dokter lagi sampai akhirnya kembali hormonku ngaco, haid ga berhenti-henti hingga hampir sebulan. Dua minggu pertama flek2, setelah itu banjirrr banyak banget. Lalu aku memutuskan ke dokter, yang aku pilih dokter yg ada embel2 K.Fer nya. Browsing2 yang deket dari rumah ataupun kantor salah satunya di RSIA Hermina Ciputat yang waktu itu baru buka juga (sekitar akhir 2011). Ada dr. Djoko yang udah senior disana. Setelah di usg TV nampak kalo ada penebalan dinding rahim, bahasa kerennya hiperplasia. Treatment nya bisa pake obat hormon, tapi tentu butuh waktu agar bisa normal lg. Atau kalo mau cepet ya kuret. Suami ga mau kalo kuret, nyuruh aku cari second opinion.

Balik deh aku ke kantor. Berpikir2 mau cari 2nd opinion dimana yaa... Nah, beberapa bulan sebelumnya aku udah mengumpulkan berbagai informasi mengenai referensi dokter ataupun RS/Klinik Infertilitas yang direkomendasikan untuk program kehamilan. Dan waktu itu aku memutuskan bahwa kalo ikhtiar dengan dokter deket2 rumah belum berhasil aku akan mengunjungi salah satu klinik infertilitas itu. Saat suami minta aku cari pendapat kedua, aku berpikir mungkin inilah saat yang tepat untuk ke klinik infertilitas. Suami juga setuju. Pilihan aku jatuhkan ke BIC Morulla di Menteng sana. Pas nelpon pertama kali ke RSIA Bunda nya, dokter kandungan prakteknya ga ada yg sore menjelang malam. Lalu aku nelpon ke BIC nya, pas ditanya mau ke dokter siapa, aku jawab aja yang ada dokter siapa mbak? Sama mbaknya dijawab dr. Irham. Yasud, jadilah aku berangkat ke Menteng.

Pertama ketemu dr. Irham kesan pertama, ramah, bersahabat. Yang ditanya pertama kali adalah, siapa nama panggilanku. Sejak saat itu sampe sekarang, beliau selalu memanggil aku Ina. Bahkan nulis namaku di resep juga Ina, petugas apotiknya sampe harus minta bukuku agar tau nama lengkapku hehehe... Nah... singkat cerita aku dikasih obat hormon sama dokter, tujuannya untuk menghentikan dulu darahnya. Lalu setelah itu akan dibuat haid lagi sampe dinding rahim menipis sesuai dengan ukuran yang semestinya. Setelah urusan hiperplasia selesai akan dilanjutkan dengan program kehamilan. Aku nanya ke dokter, apa treatment yang akan dia lakukan utk PCO ku?

dr. Irham (IRS), aku (A) -- yaa ga persis kata2nya kaya gini ya, kan udah lama percakapannya, yg penting intinya begitu.
IRS : pertama ya pake penyubur untuk gedein telurnya
A : pake nya obat apa dok?
IRS : ya macem2, tergantung nanti yang bagus responnya yang mana
A : setau saya kan penyubur bikin dinding rahim tipis ya dok. trus nanti dikasih esterogen?
IRS : iya, tapi saya ga mau kasih esterogen. karena saya maunya esterogennya alami, yang keluar dr sel telurnya.
A : lhaa tapi apa bisa pake penyubur, ga dikasih esterogen tapi dinding rahim bisa tebal?
IRS : bisa aja. kan respon penyubur ke tubuh masing2 orang beda2.
A : oooo (manggut2)
IRS : kalo pake obat oral ga bisa gedein telur, ya pake obat suntik. kalo belum berhasil, langkah selanjutnya inseminasi, lalu bayi tabung
A : (manggut2 lagi)

Sejak hari itu sampe sekarang, aku masih setia kontrol ke BIC dengan dr. Irham. Dan aku membuktikan sendiri bahwa dari sekian obat penyubur yang diberikan ke aku, yang responnya bagus adalah Genoclome 50mg. Sel telur ukurannya bagus, dinding rahim juga menebal. Ukuran2nya berapa, aku lupa hehehe..... Sekitar pertengahan 2013 aku mencoba inseminasi. Tapi mungkin belum saatnya ya... Setelah 5 hari minum obat penyubur, 6x suntik puregon, akhirnya prosesnya tidak aku lanjutkan karena aku sakit. Sebenarnya pada tahun 2014 berniat akan mencoba lagi, tapi ternyata banyak halangannya. Mulai dari aku sakit DBD dan operasi abses perianal, lalu aku ke Sulawesi Selatan untuk ekskursi regional, lalu mendekati bulan puasa. Setelah lebaran, aku ke Jepang. Yasudahlah, memang belum saatnya ya mau bilang apa.....